Tabooo.id: Deep – Pagi itu, di sebuah rumah di Jakarta Selatan, seorang ibu menyiapkan sarapan hangat untuk anaknya. Telur, sayur, roti buatan sendiri semua ia atur dengan cinta agar gizi buah hatinya tetap terjaga. Sementara itu, di kantor pemerintah, staf sedang mengemas ratusan ribu paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dibagikan, meski sekolah-sekolah tengah libur Natal dan Tahun Baru.
Tebak deh ribuan anak menerima paket yang belum tentu sebanding dengan makanan yang mereka nikmati di rumah. Di sinilah kontroversi mulai muncul.
Target Serapan Anggaran atau Kepentingan Anak?
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, menekankan bahwa program MBG harus fokus pada manfaat nyata bagi anak-anak, bukan sekadar mengejar target serapan anggaran di akhir tahun.
“Kita perlu jujur jangan sampai program ini dipaksakan hanya untuk menghabiskan anggaran. Kegiatan publik harus benar-benar bermanfaat, bukan sekadar angka di spreadsheet,” tegas Charles saat dihubungi, Senin (22/12/2025).
Charles mempertanyakan efektivitas MBG selama libur sekolah. Ia menilai distribusi makanan kering yang banyak mengandung produk kemasan dan ultra processed food berpotensi melenceng dari tujuan utama program memperbaiki gizi anak-anak Indonesia.
“Orang tua biasanya berusaha menyediakan makanan bergizi terbaik saat anak-anak berada di rumah. Kalau paket yang disalurkan justru olahan rendah gizi, manfaat program ini patut diragukan,” tambahnya.
MBG Tetap Dibagikan Saat Libur
Meski muncul kritik, Badan Gizi Nasional (BGN) tetap menyalurkan paket MBG selama libur sekolah. Berdasarkan Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025, BGN menyiapkan satu paket siap santap dan dua paket kemasan tahan lama agar siswa tetap menerima gizi seimbang, meski tidak hadir di sekolah.
BGN membagikan paket maksimal dua kali seminggu. Paket siap santap dikonsumsi di sekolah, sementara paket kemasan dibawa pulang.
“Kami mengantar paket dua atau tiga hari ke sekolah. Siswa yang ingin mengambil didaftar. Kalau pihak sekolah menolak, kami tidak memaksa,” jelas Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang.
Menu yang dibawa pulang mencakup makanan kering, buah, roti UMKM, susu, dan telur, terutama telur asin. BGN juga mengkaji metode pengiriman langsung ke rumah siswa untuk menjangkau lebih banyak anak.
Perspektif Anak dan Orang Tua
Bagi anak-anak di rumah, paket MBG mungkin tidak terlalu penting. Mereka merasakan kenyamanan makanan buatan orang tua, suasana libur yang hangat, dan perhatian langsung dari keluarga. Dalam kondisi ini, paket MBG seringkali terasa lebih sebagai simbol administratif ketimbang kebutuhan nyata.
Program yang dimaksudkan untuk memperbaiki gizi bisa menjadi beban tambahan jika sekolah dan orang tua harus menyesuaikan jadwal pengambilan paket. Pertanyaan pun muncul apakah program ini benar-benar melayani anak, atau sekadar memenuhi target belanja akhir tahun?
Tabooo Takeaway: Kritik yang Menyentuh
Di negara yang mengaku demokratis, kebenaran sering ditolak karena terlalu jujur. Charles Honoris membuka mata publik bahwa program sosial tidak bisa diperlakukan seperti angka di laporan keuangan. Setiap paket makanan dan setiap kebijakan harus menilai dampaknya bagi manusia anak-anak yang lapar, orang tua yang peduli, guru yang menyesuaikan jadwal.
Tabooo berani bilang program yang digembar-gemborkan sebagai solusi, jika tidak menyentuh manfaat nyata, hanya menjadi formalitas belaka. Transparansi dan orientasi manusia harus lebih diutamakan daripada sekadar angka serapan anggaran.
Penutup yang Menggigit
Sambil anak-anak bermain dan tertawa di rumah, staf terus mengemas dan mendistribusikan paket MBG. Niat baik tetap ada, tapi jika pelaksanaan hanya formalitas, siapa yang benar-benar diuntungkan? Pemerintah, yang bisa melaporkan serapan anggaran sempurna? Atau anak-anak, yang tetap menunggu gizi yang seharusnya mereka terima?
Dan kamu? Pernahkah bertanya apakah setiap program yang dibanggakan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan, atau hanya berhenti di angka dan laporan? @dimas




