Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

MBG dan Akar Korupsi yang Selama Ini Dibiarkan Tumbuh

by dimas
Juni 5, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Kasus korupsi MBG membuka persoalan yang lebih dalam: konflik kepentingan pejabat dalam proyek negara. Saat pengawas ikut bermain, korupsi menemukan jalannya.

Tabooo.id – Suatu sore di Jakarta, rompi tahanan mengubah wajah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejaksaan Agung menyeret mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya ke pusaran perkara korupsi. Publik pun langsung menyorot dugaan mark-up pengadaan motor listrik, sepatu, dan televisi.

Namun ada pertanyaan yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar angka kerugian negara.

Apakah persoalan terbesar MBG hanya soal harga yang melonjak? Atau justru negara selama ini membiarkan akar korupsi tumbuh di dalam sistemnya sendiri?

Korupsi Tidak Selalu Berawal dari Uang Suap

Banyak orang mengenali korupsi lewat amplop tebal, transaksi gelap, atau proyek yang sengaja menaikkan harga. Karena itu, publik sering menunggu bukti aliran uang sebelum menyebut seseorang koruptor.

Padahal hukum memandang korupsi lebih luas.

Ini Belum Selesai

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Patungan Rp10 Ribu, Massa Datangi Kemensos Gugat Desil Bansos

Seorang pejabat bisa melanggar hukum ketika ia ikut menikmati proyek yang seharusnya ia awasi. Dalam situasi itu, konflik kepentingan muncul bahkan sebelum uang berpindah tangan.

Masalahnya, praktik seperti ini muncul dalam pelaksanaan MBG.

Pada akhir 2025, anggota Dewan Pakar Bidang Gizi BGN Ikeu Tanziha mengakui bahwa dirinya mengelola dapur MBG. Ia beralasan ingin memahami persoalan lapangan secara langsung.

Alasan itu mungkin terdengar masuk akal. Namun regulasi pengadaan barang dan jasa memandang persoalan ini dari sudut yang berbeda.

Saat seorang pejabat memengaruhi kebijakan sekaligus menikmati manfaat dari kebijakan tersebut, ia menciptakan benturan kepentingan yang berbahaya.

Dari Dapur MBG Menuju Jaringan Kekuasaan

Laporan investigasi yang terbit pada awal 2026 mengungkap dugaan hubungan sejumlah pejabat BGN dengan yayasan pengelola dapur MBG.

Sebelumnya, Dadan Hindayana juga mengakui bahwa sejumlah anggota DPR dan DPRD ikut mengelola dapur MBG di berbagai daerah.

Banyak orang menganggap pengakuan itu sebagai hal biasa. Padahal hukum pengadaan justru melihatnya sebagai alarm serius.

MBG bukan sekadar program bantuan makanan.

Negara menggelontorkan dana APBN dalam jumlah besar untuk menjalankan program tersebut. Pemerintah membangun rantai pengadaan yang mencakup pemasok bahan pangan, yayasan pengelola, distribusi logistik, hingga pengadaan peralatan.

Karena itu, setiap pihak yang terlibat wajib menjaga jarak dari kepentingan bisnis yang berhubungan dengan proyek tersebut.

Begitu pejabat ikut masuk ke dalam rantai bisnis itu, batas antara pengawas dan pemain mulai kabur.

Ini Bukan Sekadar Program Makan Siang

Sebagian masyarakat melihat MBG sebagai program pemberian makanan kepada anak sekolah. Mereka melihat piring, nasi, dan lauk yang sampai ke tangan siswa.

Namun di balik piring itu, negara mengelola salah satu proyek sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

Anggaran besar menciptakan peluang besar.

Semakin besar uang yang beredar, semakin besar pula godaan untuk memperebutkannya.

Karena itu, konflik kepentingan bukan masalah administratif yang sepele.

Konflik kepentingan menjadi tanda awal bahwa seseorang berpotensi menggunakan kekuasaan publik demi keuntungan pribadi.

Pelajaran Penting dari Madiun

Indonesia sebenarnya memiliki contoh yang sangat jelas.

Mantan Wali Kota Madiun Bambang Irianto terlibat dalam proyek pembangunan Pasar Besar Madiun. Dalam persidangan, jaksa membuktikan bahwa Bambang mengarahkan penggunaan perusahaan tertentu dan menghubungkan proyek pemerintah dengan kepentingan keluarganya.

Mahkamah Agung kemudian menegaskan bahwa tindakan tersebut menunjukkan keterlibatan langsung maupun tidak langsung dalam proyek yang berada di bawah pengawasannya.

Putusan itu mengirim pesan yang tegas.

Seorang pejabat tidak perlu menerima suap untuk melakukan korupsi.

Ia cukup masuk ke proyek yang berada dalam lingkup kewenangan atau pengawasannya.

Ketika Pengawas Menjadi Pemain

Di titik inilah MBG menghadapi persoalan yang lebih besar daripada mark-up harga.

Semakin banyak pejabat, politisi, atau institusi negara yang mengelola dapur MBG, semakin tipis jarak antara pengawasan dan kepentingan bisnis.

Situasi itu melahirkan pertanyaan yang tidak nyaman.

Siapa yang akan mengawasi ketika pengawas ikut bermain?

Siapa yang akan bertindak ketika pemilik kepentingan memiliki akses terhadap kekuasaan?

Dan siapa yang menjamin penegakan hukum tetap independen ketika proyek tersebut melibatkan pihak yang seharusnya menjaga integritas sistem?

Pertanyaan itu mungkin terdengar keras. Namun sejarah korupsi selalu menunjukkan pola yang sama.

Korupsi jarang muncul secara tiba-tiba.

Korupsi tumbuh dari kompromi kecil, korupsi berkembang dari kedekatan yang dianggap wajar, korupsi mengakar ketika masyarakat mulai menganggap konflik kepentingan sebagai sesuatu yang normal.

Akar yang Harus Dicabut

Kejaksaan Agung memang membuka babak baru melalui penetapan tersangka dalam kasus MBG. Namun pekerjaan besar belum selesai.

Penegak hukum tidak boleh berhenti pada dugaan mark-up atau kerugian negara semata.

Mereka juga perlu menelusuri konflik kepentingan yang mungkin mengakar di balik tata kelola program tersebut.

Sebab konflik kepentingan sering menjadi pintu masuk korupsi.

Ia muncul sebelum uang berpindah tangan.

Ia tumbuh sebelum kontrak berjalan.

Ia bekerja jauh sebelum auditor menghitung kerugian negara.

Di sinilah pertaruhan sesungguhnya berada.

Negara harus memastikan tidak ada pejabat yang mengubah proyek publik menjadi ladang keuntungan pribadi.

Karena ketika pengawas ikut bermain, korupsi tidak lagi menjadi penyimpangan.

Korupsi berubah menjadi bagian dari sistem.

Dan saat itu terjadi, program yang seharusnya memberi makan anak-anak justru berisiko memberi makan kepentingan segelintir elite. @dimas

Tags: Badan Gizi NasionalKejaksaan AgungKonflik KepentinganKorupsi MBGMakan Bergizi GratisTata Kelola Negara

Kamu Melewatkan Ini

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

by dimas
September 17, 2026

Anggaran BGN 2027 turun Rp30 triliun menjadi Rp240,2 triliun, tetapi MBG tetap dominan dengan alokasi Rp232,5 triliun. Tabooo.id - Rp240,2...

Benarkah Kota Malang Hentikan MBG? Ini Faktanya

Benarkah Kota Malang Hentikan MBG? Ini Faktanya

by eko
September 13, 2026

Benarkah Malang hentikan MBG? Cek fakta klaim viral soal penghentian Program Makan Bergizi Gratis di Kota Malang. Tabooo.id - Sebuah...

Pukul Panci di Jogja: Warga Tagih Tanggung Jawab Negara

Pukul Panci di Jogja: Warga Tagih Tanggung Jawab Negara

by dimas
September 9, 2026

Warga Jogja menggelar aksi Pukul Panci untuk mengkritik MBG dan menagih tanggung jawab negara atas keselamatan serta kebutuhan rakyat. Tabooo.id...

Next Post
Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id