Tabooo: Talk – Masjid Agung Surakarta siang ini berbeda dari biasanya. Di tengah suasana yang khusyuk dan teduh, dua sosok yang tengah menjadi pusat perhatian publik tiba hampir bersamaan: SISKS PB XIV (Gusti Purbaya) dan SISKS PB XIV Hangabehi. Keduanya datang untuk melaksanakan Salat Jumat, namun kehadiran dua raja dalam satu masjid pada waktu yang sama segera memantik tanda tanya besar di kalangan jamaah.
Di dalam masjid, nuansa khidmat sangat terasa. Jamaah duduk rapat, tersusun rapi menghadap mimbar. Tidak ada suara gaduh, tidak ada lalu-lalang yang mengganggu. Pilar-pilar kayu besar, atap joglo tinggi, dan lampu gantung kristal menambah kesan sakral yang menyelimuti ruangan. Cahaya alami jatuh lembut dari jendela-jendela atas, berpadu dengan cahaya lampu, menciptakan atmosfer hangat yang membuat ibadah terasa semakin dalam.
Di antara jamaah itu, dua figur raja duduk dalam keheningan yang sama, namun dengan sorotan publik yang berbeda. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul:
Apakah ini sekadar ibadah rutin? Kebetulan waktu? Atau ada sinyal penting yang ingin diperlihatkan pasca wafatnya PB XIII?
Pertemuan seperti ini jarang terjadi, apalagi di tengah masa transisi dan masa berkabung 40 hari yang masih berjalan.
Usai Salat Jumat, masing-masing memberikan penjelasan singkat.
SISKS PB XIV Purbaya merespons santai, seolah tak ada isu apa pun:
“Cuman ngobrol aja, nggak ada apa-apa. Soal Masjid Agung nanti dibicarakan Mas Restu.”
Di sisi lain, SISKS PB XIV Hangabehi memilih tetap tenang dan tidak ingin menimbulkan spekulasi:
“Saya di sini hanya melaksanakan ibadah saja, tidak mengomentari apapun. Apalagi ini masih masa berduka 40 hari.”
Jawaban keduanya terdengar sederhana. Namun, justru kesederhanaan itu membuat publik semakin penasaran.
Jika tidak ada apa-apa, mengapa momen langka ini bisa terjadi tepat di saat situasi keraton sedang sensitif?
Apakah ini sinyal rekonsiliasi? Atau justru dua perjalanan yang berjalan paralel tanpa saling bersinggungan? @jeje





