Tabooo.id: Talk – Pernah enggak, kamu masuk minimarket cuma buat beli pembalut tapi jalannya kayak agen rahasia? Kepala nunduk, mata awas, tangan buru-buru nyambar rak paling bawah. Kalau bisa kasirnya perempuan. Kalau kasirnya cowok? Deg-degan. Padahal yang dibeli cuma pembalut, bukan barang ilegal.
Tapi entah kenapa, di Indonesia, beli pembalut masih terasa seperti aktivitas rahasia negara. Kita bisa beli rokok, kondom, bahkan bir tanpa drama, tapi giliran pembalut? Banyak yang masih pakai kode: “Mbak itu yang buat cewek.” Ada juga yang pura-pura nanya harga sampo dulu biar niat aslinya tersamarkan. Pertanyaannya simpel: kenapa sih?
Plastik Hitam dan Budaya Malu Turunan
Kalau kamu tumbuh di keluarga Indonesia tipikal, besar kemungkinan kamu pernah dengar kalimat, “Kalau lagi dapet, jangan ketahuan cowok.” Seolah menstruasi itu penyakit menular. Di warung dekat rumah, pembalut sering dikasih plastik hitam. Di minimarket, masih banyak yang minta paper bag. Bahkan ada yang nyelipin pembalut di antara snack biar enggak kelihatan.
Kita hidup di negara dengan lebih dari 130 juta perempuan, menstruasi itu kejadian massal, rutin, dan biologis, tapi perlakuannya masih kayak aib. Ironisnya, yang sering ikut melestarikan rasa malu ini justru sesama perempuan: “Kok terang-terangan sih belinya?” atau “Ditutupin dong, malu.” Lho, malu sama siapa?
Ini Bukan Soal Produk, Tapi Cara Pandang
Masalahnya bukan di pembalut, tapi di cara kita memandang tubuh perempuan. Menstruasi dianggap jorok, sensitif, enggak pantas dibahas. Akibatnya, pembalut ikut kena getahnya. Padahal itu alat kesehatan dasar. Orang beli tisu karena pilek biasa saja, beli obat diare juga normal, tapi beli pembalut langsung jadi momen canggung. Dampaknya nyata: banyak remaja perempuan pertama kali haid tanpa edukasi layak, panik, nangis, bahkan mikir dirinya sakit karena sejak awal topik ini disimpan di bawah karpet. Dan ketika sesuatu dianggap tabu, kita berhenti ngobrol soal itu padahal justru di situlah masalah tumbuh.
“Kan Itu Privasi?” Oke, Tapi
Memang ada juga yang bilang, “Itu kan privasi.” Fair. Menstruasi itu personal, sama seperti beli test pack atau obat wasir. Tapi beda tipis antara privasi dan rasa malu yang diajarkan. Kalau kamu beli pembalut dengan tenang, bukan berarti kamu pamer siklus haid. Sama seperti cowok beli pisau cukur bukan berarti lagi ngumumin kumisnya tumbuh. Privasi itu pilihan. Malu itu konstruksi sosial. Dan selama perempuan masih merasa harus sembunyi-sembunyi cuma buat beli kebutuhan dasar, berarti ada yang enggak beres.
Sikap Tabooo Normalisasi yang Harusnya Sudah Normal
Di Tabooo, kami percaya satu hal sederhana: membeli pembalut itu se-normal beli sabun. Enggak perlu kode rahasia, enggak perlu plastik hitam, enggak perlu merasa bersalah kalau kasirnya cowok. Cowok juga punya ibu, punya saudara perempuan, mungkin punya pasangan. Menstruasi bukan alien science. Yang perlu diubah bukan rak minimarketnya, tapi mindset-nya. Ajari anak perempuan bahwa haid itu proses tubuh, bukan kutukan. Ajari anak laki-laki bahwa pembalut itu alat kesehatan, bukan bahan lelucon. Dan buat kamu yang masih deg-degan tiap beli pembalut: pelan-pelan saja. Kamu enggak melakukan hal memalukan. Kamu sedang merawat tubuhmu sendiri and that’s powerful.
Kita boleh beda cara menyikapi, tapi satu hal harus sepakat: perempuan enggak seharusnya merasa kecil hanya karena tubuhnya bekerja sebagaimana mestinya. Jadi lain kali kamu beli pembalut, tarik napas, jalan tegak, taruh di meja kasir dengan santai. Kalau ada yang melotot? Biarkan. Itu masalah mereka, bukan siklus kamu.
Lalu, kamu di kubu mana—tim masih sembunyi-sembunyi atau tim “gue beli pembalut, so what?”




