Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak kamu memutar Heal the World sambil berpikir, “Iya ya, dunia harusnya damai”? Namun, lima menit berselang, media sosial terbuka isinya ribut. Alhasil, dunia belum sembuh, tapi lagu itu tetap mengalun.
Ironis memang. Di satu sisi, nada lagu ini lembut, penuh harapan, dan super positif. Di sisi lain, realita sering bergerak ke arah berlawanan. Karena itulah Heal the World terasa tetap relevan. Bukan sekadar nostalgia, lagu ini hadir sebagai pengingat meski begitu, pengingat sering terasa nggak nyaman.
Lagu Lawas dengan Pesan yang Nggak Ikut Menua
Michael Jackson merilis Heal the World pada 1992, ketika isu perdamaian, anak-anak, dan masa depan umat manusia ramai dibicarakan. Saat itu, ia memilih empati sebagai jalan utama.
Secara musikal, lirik terdengar ringan. Selain itu, nadanya mengalir kalem. Pada akhirnya, pesannya langsung ke sasaran: buat dunia jadi tempat yang lebih baik.
Namun, seiring waktu, banyak orang menjadikan lagu ini sebagai lagu seremonial. Mereka memutarnya di acara amal, menjadikannya latar video bencana, lalu membiarkannya berlalu. Sementara itu, pesan utamanya tetap menunggu tindakan.
Menyembuhkan Dunia Butuh Lebih dari Sekadar Niat
Jika didengarkan lebih saksama, Heal the World sama sekali tidak menjanjikan keajaiban instan. Bahkan, lagu ini juga tidak menyebut dunia akan membaik dengan sendirinya. Sebaliknya, Michael Jackson menekankan satu hal sederhana: care enough.
Sayangnya, di era digital, kepedulian sering berhenti di layar.
Pertama, rasa sedih datang sebentar.
Kemudian, kemarahan muncul singkat.
Setelah itu, scroll pun jalan terus.
Akibatnya, empati berubah menjadi reaksi cepat, bukan komitmen jangka panjang. Di satu sisi, banyak orang menulis “turut prihatin”. Di sisi lain, sangat sedikit yang melangkah lebih jauh dan bertanya, “apa yang bisa dilakukan?”
Karena kondisi itulah, heal the world lebih sering terdengar sebagai slogan daripada sikap hidup.
Dunia Tampak Rusak, Tapi Bisa Jadi Kita yang Letih
Tak sedikit orang merasa dunia makin kacau. Namun demikian, bisa jadi manusianya juga makin lelah untuk peduli.
Saat hidup berjalan cepat, semua orang ingin solusi instan. Bahkan, damai sering diharapkan tanpa konflik. Padahal, proses menyembuhkan selalu butuh waktu dan energi.
Di titik ini, nada optimis Heal the World justru menantang pendengarnya. Pertama, berani peduli lebih lama. Kedua, berani menahan ego. Ketiga, berani tidak ikut menghakimi.
Meski terdengar ideal, perubahan semacam itu hampir selalu terasa tidak nyaman.
Kepolosan yang Sengaja Dipertahankan
Di zaman serba sinis, Heal the World sering terdengar terlalu polos. Bahkan, sebagian orang menilainya kelewat idealis. Namun justru karena itulah kekuatannya muncul.
Sebagai cermin, lagu ini mengingatkan versi manusia yang sering kita tinggalkan. Misalnya, peduli tanpa pamrih, berpikir sebelum menyakiti, serta sadar bahwa hidup selalu berdampingan dengan orang lain.
Pada dasarnya, Michael Jackson memahami dunia tidak pernah sempurna. Akan tetapi, ia juga tahu satu hal: tanpa empati, dunia hanya akan semakin keras.
Jadi, Mau Menyembuhkan atau Cuma Mendengar?
Memang, menyelamatkan dunia terdengar muluk. Namun, setiap orang tetap bisa berhenti memperparahnya. Setidaknya, langkah kecil sudah berarti: mengatur cara bicara, memilih cara bercanda, dan menata cara memandang sesama.
Pada akhirnya, Heal the World tidak menuntut pahlawan global. Sebaliknya, lagu ini mengajak manusia kembali sadar.
Sekarang, tinggal satu pertanyaan:
kamu mau benar-benar peduli, atau cukup puas memutar lagunya saja? @eko





