Bisa
Tabooo.id: Life – Hujan sore itu menetes di jendela kos Surabaya. Machfud duduk di tepi meja kayu lusuh, menatap laptop yang menampilkan email beasiswa dari Thailand. Ia menahan napas, menahan detak jantung yang campur aduk antara gugup dan bahagia. Sembilan tahun lalu, kata-kata itu menghantamnya seperti belati: “Miskin, gak usah kuliah.”
Namun hari ini, Machfud bukan lagi anak yang hanya bisa menatap langit sambil bertanya-tanya. Ia telah menjadi dosen muda di Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Vokasi, Prodi Produksi Media. Ia membuktikan bahwa stigma ekonomi hanyalah fatamorgana yang bisa dihancurkan dengan tekad dan kerja keras.
Kesederhanaan yang Membentuk Semangat
Machfud lahir dari keluarga sederhana. Ibunya berjualan nasi, ayahnya sopir. Kehidupan ekonomi mereka jauh dari kata nyaman, tapi dari situ muncul keteguhan.
“Ibu cuma penjual nasi, bapak kerja jadi supir buat kuliah, kerja keras banget,” tulis Machfud di Instagram-nya @mampedd.
Pada 2015, Machfud diterima di Program Studi Ilmu Komunikasi sebuah PTN di Surabaya. Ia tak hanya diterima, tetapi menonjol. Ia memenangkan lomba, aktif di organisasi, dan selalu mencari cara meringankan beban orang tua. Selama kuliah, Machfud bekerja keras, bahkan sambil menabung untuk biaya hidup, namun ia tetap berhasil berprestasi.
Data BPS 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 25% mahasiswa PTN berasal dari keluarga berpendapatan rendah. Banyak yang berhenti di tengah jalan karena biaya, stigma, dan tekanan sosial. Machfud, dengan caranya sendiri, menantang statistik itu.
Ketimpangan di Dunia Kampus
Ironi hidup Machfud muncul ketika ia menghadapi dunia kampus. Di satu sisi, kampus seharusnya menjadi ruang inovasi dan kreativitas. Di sisi lain, banyak mahasiswa yang bisa bebas memilih topik penelitian karena dukungan finansial, sementara ia harus menekan biaya seminimal mungkin.
Selain itu, kata-kata pedas dari 2013 terus menghantuinya: “Miskin gak usah kuliah”. Realitas itu kontras dengan impian dan kesempatan yang seharusnya terbuka. Namun Machfud menanggapi paradoks ini dengan aksi nyata: ia belajar lebih giat, mengikuti lomba, dan akhirnya lulus S1 dengan prestasi.
Tidak puas hanya dengan S1, Machfud melanjutkan S2 di Thailand dengan beasiswa penuh. Di negeri orang, ia menemukan pengalaman baru, jaringan internasional, dan peluang riset yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pada 2023, ia lulus dengan penelitian tentang perilaku pemirsa menonton TV. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi dosen tetap di UNESA, mengajar Prodi Produksi Media.
Refleksi Tabooo: Perjuangan, Stigma, dan Harapan
Kisah Machfud menyajikan tawa getir sekaligus kagum. Di satu sisi, absurd melihat anak muda harus melawan stereotip dan keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, muncul keindahan manusiawi: ketekunan, doa orang tua, dan keberanian menembus batas.
Tabooo melihat Machfud sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, bukan hanya individu yang berhasil. Ia menunjukkan bahwa cibiran dan ejekan bisa menjadi bahan bakar jika diarahkan dengan fokus dan disiplin.
Machfud sendiri menegaskan: “Aku membuktikan kalau orang miskin bisa kuliah kalau berusaha!” Pernyataan itu sederhana namun menggigit, mengajak kita bertanya berapa banyak potensi yang terbuang karena stigma dan keterbatasan ekonomi?
Viral dan Resonansi Cerita
Postingan Machfud di Instagram langsung viral, ditonton lebih dari 224 ribu kali. Netizen memuji perjuangan dan ketekunannya. “Anak hebat, mengangkat derajat keluarga, tetap amanah ya nak!” tulis @snacks_tikana. Akun lain menekankan peran doa orang tua: “The power doa orang tua ya bang,” tulis @nurdwi_noviyanto.
Kisah ini bukan sekadar soal pendidikan atau status. Ia tentang manusia yang menolak takdir yang tampak sudah ditentukan dan memilih menulis jalannya sendiri. Machfud menjadi simbol harapan, pengingat bahwa setiap orang punya kesempatan untuk mengubah hidupnya.
Pertanyaan untuk Kita Semua
Hari ini, Machfud mengajar mahasiswa dengan mata yang menyala, mengajarkan Dasar Konten Kreatif. Ia masih menatap jendela kos lama di Surabaya, namun kini dengan rasa syukur dan tanggung jawab, bukan minder.
Cerita Machfud meninggalkan pertanyaan besar: berapa banyak bakat yang mati sebelum berkembang karena ejekan, kemiskinan, atau ketakutan? Berapa banyak orang yang diam-diam memiliki potensi luar biasa tapi tersandera stigma sosial?
Dan pertanyaan paling provokatif, di dunia yang penuh ketidakadilan, siapa yang berani berkata bahwa tak ada jalan untuk mimpi? Machfud sudah membuktikannya. Dengan langkah tenang tapi pasti, ia membalik takdir, meninggalkan jejak bagi mereka yang masih berjuang.
Seperti kata Machfud: “Jangan pernah menyerah karena keadaan, semua orang berhak bermimpi.” @dimas




