Tabooo.id: Deep – Udara Desa Saripi, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Gorontalo pagi itu tak lebih segar dari asap knalpot sepeda motor. Dari kejauhan, terdengar gemuruh palu dan dentuman mesin bor. Di balik semak-semak tebu, sepuluh pria berseragam lusuh sibuk mengaduk lumpur berkilau emas. Salah satunya adalah SP, kepala desa yang biasanya tersenyum ramah di balai desa. Namun hari itu, senyumnya berbeda tajam, menantang hukum untuk menegakkan kata “ilegal” pada aktivitasnya sendiri.
“Pak SP, hentikan! Polisi datang!” teriak salah satu pekerja, tetapi palu tetap berayun.
Suara itu menjadi musik latar ironis bagi aparat yang mendekat. Akhirnya, SP dan sembilan pekerja ditangkap, dibawa ke Polda Gorontalo. Menurut Dirkrimsus Polda Gorontalo Kombes Maruli Pardede, kronologi penangkapan seperti membaca naskah drama kriminal, SP mengkoordinir, membiayai, dan memastikan operasi tambang berjalan mulus, sementara pekerja tetap mengeruk tanah meski sudah ditegur.
“Karena kedapatan masih melakukan penambangan ilegal walaupun seminggu sebelumnya sudah diberikan himbauan untuk menghentikan aktivitas tersebut,” ujar Maruli Pardede.
Emas yang Menyengsarakan Rakyat
Ironi di sini begitu nyata. Meskipun aparat telah memberikan teguran persuasif, aktivitas penambangan tetap berlanjut. SP jelas bukan orang kecil yang terseret dalam arus keserakahan. Sebaliknya, ia adalah kepala desa, simbol kekuasaan lokal yang bisa menjadi katalis bagi ketidakadilan terselubung.
Selain itu, penambangan ilegal ini bukan sekadar soal mencari emas. Justru, ini tentang jaringan, tentang siapa yang mendapat keuntungan dari lumpur berharga itu. SP membiayai operasi, yang berarti ada modal yang mengalir dari kantong seseorang yang seharusnya menjaga kesejahteraan warganya, bukan menggali tanah demi laba pribadi. Sembilan pekerja hanyalah pion kecil dalam catur besar keserakahan ini.
Akibatnya, yang dirugikan jelas bukan SP, tetapi warga Desa Saripi. Tanah mereka tercabik, aliran sungai tercemar, dan udara berbau logam berat. Dengan kata lain, emas keluar dari tanah mereka, sementara kantong yang menebar senyum adalah kantong orang kuat.
Sistem yang Membiarkan Predator Bekerja
Fenomena ini bukan kebetulan. Sebaliknya, sistem sosial dan politik lokal sering memberi celah bagi kepala desa atau figur berkuasa untuk bermain di zona abu-abu. Teguran persuasif hanyalah bentuk toleransi sementara, yang memberi waktu bagi yang berkuasa merancang strategi, atau, lebih ironis, menunggu peluang keuntungan lebih besar.
Selain itu, ekonomi desa yang lemah, kurangnya pengawasan, dan budaya “siapa yang punya modal, dia yang menang” membuat praktik seperti ini terus muncul. Oleh karena itu, SP jelas mendapat keuntungan, pekerja hanya menanggung risiko, dan masyarakat desa tetap berada di garis tipis antara kemiskinan dan eksploitasi.
Lumpur Berbicara: Air Mata Para Pekerja
Bagi para pekerja, cerita ini tragis. Mereka datang dari desa lain dengan harapan mendapat upah lebih tinggi daripada bertani atau bekerja di bengkel kecil. Mereka menggali, memompa air, dan mengaduk lumpur sampai tangan hitam, tubuh lecet, hanya untuk mimpi kecil sekolah anak atau biaya hidup sehari-hari.
“Saya hanya ingin membiayai sekolah anak,” ujar salah satu pekerja, matanya basah. Ironisnya, dalam sistem yang timpang, alasan kemiskinan tidak pernah cukup. Sebaliknya, pidana menanti, sementara alasan mereka tekanan sosial, kebutuhan dasar terabaikan. Pada akhirnya, kepala desa tetap berjalan pulang dengan kantong tebal berisi emas, sedangkan pekerja menanggung akibatnya.
Sikap Tabooo: Menohok Kekuasaan, Menjawab Moral
Tabooo, tidak bisa diam. SP bukan sekadar pelaku kriminal dia simbol sistem yang membiarkan predator berkuasa di desa. Kepala desa yang seharusnya pelindung warga malah menjadi mafia lokal.
Tambang emas di Saripi adalah metafora tajam, tanah kaya, tetapi dimakan segelintir orang. Pekerja hanyalah pion. Selain itu, publik kadang menonton drama ini sambil mengusap layar kaca, nyaman dalam posisi pasif.
Oleh karena itu, kami berani bertanya: sampai kapan moral dikorbankan demi keuntungan segelintir orang? Jangan biarkan drama sosial ini menjadi hiburan belaka. Hukum harus ditegakkan, tetapi moral harus tetap dijaga.
Pertanyaan Tajam untuk Publik: Apakah Kita Hanya Penonton?
Setiap palu yang menghantam bumi Saripi adalah benturan antara hukum dan moral. Hukuman menunggu, tetapi pertanyaan menohok tetap ada, apakah sistem akan berubah atau hanya memberi pelajaran sesaat sebelum skenario berikutnya muncul lagi?
Tambang ilegal ini bukan soal emas semata, melainkan soal integritas yang terkubur. Kepala desa menukar amanah dengan keuntungan, pekerja digadaikan nasibnya demi emas, dan publik sering terlalu nyaman menonton drama ketidakadilan.
Dengan demikian, apakah hukum cukup menegakkan keadilan ketika struktur sosial membiarkan keserakahan beroperasi licin? Atau kita hanya menjadi penonton pasif dalam pertunjukan ironi sosial yang tak pernah habis? @dimas







