Tabooo.id: Regional – Malam di Dusun Tarukan dan Dusun Cibuyut, Desa Cibeunying, seharusnya tenang seperti biasanya. Namun Kamis (13/11/2025) sekitar pukul 21.00 WIB, suara gemuruh memecah gelap. Tanah bergerak, rumah-rumah terangkat lalu ambruk, dan warga berlarian tanpa sempat membawa apa pun. Longsor itu datang cepat terlalu cepat menyisakan puing, lumpur, dan puluhan orang yang belum sempat menghindar.
Hingga Sabtu (15/11/2025) pukul 14.00 WIB, enam warga ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, sementara 14 lainnya masih hilang. Total 46 jiwa dari 17 keluarga terdampak, dan angka-angka itu terus membayangi proses pencarian yang bergerak di bawah hujan, dingin, dan waktu yang terus menipis.
Pencarian Balapan dengan Waktu
Di titik bencana, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, relawan tanggap bencana, dan masyarakat bekerja nyaris tanpa henti. Alat-alat berat mulai berdatangan, menggali setiap jengkal tanah yang kini menjadi labirin lumpur. Dapur umum sudah berdiri, logistik diangkut dari berbagai daerah, dan area evakuasi mulai dipadati warga yang selamat namun kehilangan rumah, harta, bahkan keluarga.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menemukan para korban yang hilang.
“Ini terus berlanjut… kita berdoa semoga masih diberikan keselamatan bagi masyarakat yang belum ditemukan,” ucapnya.
Gubernur Serukan Kewaspadaan Menyeluruh
Sambil memantau proses pencarian, Luthfi mengingatkan seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk tidak menganggap kejadian ini sebagai kasus terisolasi. Ia mengimbau agar warga, terutama di daerah pegunungan dan kawasan yang rentan longsor, meningkatkan kewaspadaan.
Ia juga meminta bupati, wali kota, dan BPBD memetakan ulang seluruh daerah rawan bencana dan menyebarkannya langsung kepada warga. Peta itu bukan sekadar dokumen administratif tetapi alarm peringatan yang seharusnya dibaca setiap hari.
Siapa Untung, Siapa Menanggung Luka
Seperti biasa dalam setiap bencana besar, muncul pertanyaan tak nyaman siapa yang diuntungkan dan siapa yang merugi?
Warga jelas kehilangan paling banyak rumah, keluarga, rasa aman, semuanya tersapu dalam hitungan detik.
Pemerintah mendapat momentum untuk menunjukkan komitmen penanganan bencana. Lembaga-lembaga kemanusiaan bergerak, reputasi aparat diuji, dan aliran bantuan masuk dari berbagai kanal. Tapi bagi warga, semua itu baru berarti jika benar-benar terasa di lapangan, bukan hanya tampil di laporan atau konferensi pers.
Menuju Pemulihan: Jalan Panjang yang Baru Dimulai
Di lapangan, rencana pemulihan jangka panjang mulai disiapkan relokasi warga, hunian sementara, trauma healing, hingga rekonstruksi fasilitas umum. Semua itu membutuhkan konsistensi sesuatu yang sering mengendur ketika sorotan media mereda.
Longsor di Cibeunying bukan kejadian pertama, dan bukan yang terakhir. Hujan ekstrem semakin sering datang, tanah makin rapuh, dan pembangunan tanpa perhitungan risiko memperbesar ancaman.
Pertanyaan Akhir yang Belum Terjawab
Pada akhirnya, longsor tidak pernah datang sendirian. Ia membawa pesan keras sekaligus pertanyaan yang sulit ditolak:
apakah kita benar-benar siap menghadapi bencana berikutnya, atau hanya siap memberikan pernyataan setelah semuanya terlanjur terjadi? @dimas





