Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Londo Ireng: Dari Serdadu Kolonial Menjadi Simbol Keberpihakan

by dimas
Juli 30, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Londo Ireng dari serdadu kolonial menjadi simbol keberpihakan. Jejak tentara Afrika di KNIL mengubah makna Londo Ireng dari identitas sejarah menjadi metafora politik tentang loyalitas dan keberpihakan.

Tabooo.id – Malam selalu menyimpan cerita yang tak selesai. Di sudut Kerkhof Purworejo, beberapa batu nisan tua masih berdiri dalam diam. Nama-nama yang terukir di atasnya bukan nama Jawa, bukan pula nama Belanda sepenuhnya. Batu-batu itu menyimpan jejak orang-orang Afrika yang menempuh ribuan kilometer dari Pantai Emas, bukan sebagai penjelajah, melainkan sebagai serdadu perang.

Masyarakat Jawa mengenal mereka dengan sebutan Londo Ireng.

Kini, banyak orang memakai istilah itu sebagai umpatan politik atau sindiran bagi siapa pun yang dianggap membela kepentingan asing. Padahal, sejarah menyimpan kisah yang jauh lebih rumit, sekaligus lebih manusiawi.

Pada awal kemunculannya, istilah Londo Ireng sama sekali tidak merujuk pada pengkhianat. Masyarakat Jawa memakai sebutan itu untuk ribuan tentara Afrika Barat yang bergabung dengan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Arsip kolonial mencatat mereka sebagai Zwarte Hollanders atau “Belanda Hitam”, sementara masyarakat Jawa menyebut mereka Walanda Ireng atau Londo Ireng.

Sejarawan Ineke van Kessel melalui Zwarte Hollanders: Afrikaanse Soldaten in Nederlands-Indie menjelaskan bahwa pemerintah kolonial Belanda mendatangkan sekitar 3.000 hingga 4.000 pria dari Elmina, wilayah yang kini menjadi bagian Ghana, antara 1831 hingga 1872. Sebagian menandatangani kontrak sebagai tentara. Sebagian lainnya merupakan bekas budak yang penguasa lokal jual kepada Belanda sebelum pemerintah kolonial merekrut mereka menjadi serdadu KNIL.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Belanda mengambil langkah itu karena alasan yang sangat pragmatis.

Perang Jawa di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro menguras kas kolonial sekaligus menghabiskan ribuan serdadu Eropa. Penyakit tropis merenggut lebih banyak nyawa dibandingkan peluru, sementara perlawanan rakyat Nusantara terus meluas.

Kolonial Belanda membutuhkan tenaga baru untuk mempertahankan kekuasaannya.

Afrika kemudian menjadi salah satu sumber rekrutmen.

Perang yang Mempertemukan Sesama Bangsa Terjajah

Ironisnya, orang-orang Afrika itu tidak datang untuk memperjuangkan tanah kelahirannya. Pemerintah kolonial justru mengirim mereka untuk memadamkan perlawanan bangsa lain yang sama-sama hidup di bawah kolonialisme.

Mereka bertempur dalam Perang Padri di Sumatera Barat, Perang Aceh, dan berbagai operasi militer kolonial di Pulau Jawa.

Belanda juga tidak hanya mengandalkan tentara Afrika. Pemerintah kolonial merekrut banyak orang Nusantara ke dalam pasukan KNIL. Serdadu dari Minahasa, Ambon, Timor, dan berbagai daerah lain akhirnya berdiri di pihak pemerintah kolonial ketika rakyat lain mengangkat senjata untuk melawan.

Sejarawan Peter Carey melalui Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785–1855) menjelaskan bahwa Perang Jawa bukan sekadar perebutan wilayah. Diponegoro memandang perang itu sebagai perjuangan suci untuk memulihkan keadilan sosial.

Namun, sejarah tidak pernah menawarkan garis yang benar-benar hitam atau putih.

Sebagian rakyat memilih melawan.

Sebagian lainnya memilih bertahan hidup bersama penguasa kolonial.

Dari Tentara Afrika Menjadi Label Politik

Perjalanan sejarah kemudian mengubah makna Londo Ireng.

Memasuki abad ke-20, masyarakat Jawa tidak lagi memakai istilah itu untuk menyebut tentara Afrika. Sebaliknya, mereka menggunakannya sebagai sindiran bagi siapa saja yang lebih membela kepentingan kekuasaan asing daripada kepentingan bangsanya sendiri.

Maknanya bergeser dari identitas etnis menuju identitas politik.

Warna kulit kehilangan maknanya.

Keberpihakan justru menjadi ukuran utama.

Perubahan makna itu bertahan hingga sekarang. Ketika masyarakat kembali mengucapkan istilah Londo Ireng di ruang publik, mereka hampir selalu memakainya sebagai metafora bagi orang yang mengabdi pada kepentingan luar, meski lahir dan besar di Indonesia.

Kampung Afrika yang Hampir Hilang

Tidak semua Londo Ireng pulang ke Afrika setelah menyelesaikan masa tugasnya.

Sebagian memilih menetap di Purworejo. Mereka menikah dengan perempuan Jawa, membangun keluarga, lalu melahirkan komunitas Indo-Afrika yang kemudian berkembang di Kampung Afrikan.

Pemerintah kolonial menyediakan kawasan permukiman khusus agar para veteran KNIL tetap berada dalam jangkauan ketika sewaktu-waktu diperlukan kembali.

Waktu kemudian mengubah semuanya.

Pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, dan pemulangan warga Belanda membuat Kampung Afrikan perlahan kehilangan penghuninya. Kini, hanya beberapa bangunan tua, papan penanda, foto-foto lama, dan makam yang mengingatkan bahwa sejarah pernah mempertemukan Jawa, Belanda, dan Afrika dalam satu kisah yang nyaris terlupakan.

Ketika Sejarah Menjadi Cermin

Londo Ireng bukan sekadar kisah tentang serdadu Afrika.

Istilah itu mengingatkan bahwa kolonialisme tidak selalu bertahan melalui senjata. Kekuasaan juga dapat bertahan ketika berhasil membuat sesama bangsa terjajah saling berhadapan.

Pertanyaan yang sama terus muncul pada setiap zaman: kepada siapa seseorang memilih setia?

Apakah kepada tanah tempat ia berpijak, kepada kekuasaan yang memberinya penghidupan, atau kepada nilai yang ia yakini benar?

Sejarah memang tidak dapat berulang dalam bentuk yang sama. Namun, maknanya terus bergerak mengikuti zaman.

Pada akhirnya, Londo Ireng bukan hanya berbicara tentang warna kulit. Istilah itu merekam pilihan, keberpihakan, dan cara sebuah masyarakat mengubah makna sejarah menjadi cermin bagi kegelisahan politik dari generasi ke generasi. @dimas

Tags: KNILKolonial BelandaLondo IrengSejarah IndonesiaZwarte Hollanders

Kamu Melewatkan Ini

Hari Kesaktian Pancasila: Ketika Sejarah Menjadi Ingatan Negara

Hari Kesaktian Pancasila: Ketika Sejarah Menjadi Ingatan Negara

by dimas
Oktober 1, 2026

Hari Kesaktian Pancasila menjadi ruang mengingat peristiwa 1965, perjalanan sejarah, dan perubahan cara bangsa Indonesia membaca masa lalu setelah Reformasi....

Film G30S/PKI Pernah Catatkan Diri sebagai Film Termahal

Film G30S/PKI Pernah Catatkan Diri sebagai Film Termahal

by eko
September 30, 2026

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer tercatat menghabiskan Rp800 juta dan menjadi film termahal pada dekade 1980-an. Film...

G30S PKI: Tujuh Korban, Satu Malam dan Bayang-Bayang Sejarah

G30S PKI: Tujuh Korban, Satu Malam dan Bayang-Bayang Sejarah

by dimas
September 29, 2026

G30S PKI meninggalkan tujuh korban dan mengubah arah sejarah Indonesia. Simak kisah Lubang Buaya, perebutan kekuasaan, serta bayang-bayang sejarah yang...

Next Post
Mas Marco Kartodikromo: Ketika Pena Lebih Ditakuti daripada Senjata

Mas Marco Kartodikromo: Ketika Pena Lebih Ditakuti daripada Senjata

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id