Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer tercatat menghabiskan Rp800 juta dan menjadi film termahal pada dekade 1980-an.
Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer punya tempat khusus dalam sejarah perfilman Indonesia. Film yang rilis pada 1984 ini tidak hanya mengangkat peristiwa politik 1965. Film ini juga ikut membentuk cara publik mengenal sejarah tersebut.
Produksinya memakan waktu sekitar dua tahun. Anggarannya mencapai Rp800 juta. Majalah Tempo pada 1988 menyebut angka tersebut menjadikan film ini sebagai film termahal di Indonesia pada dekade 1980-an.
Bukan Film Biasa
Arifin C. Noer menulis sekaligus menyutradarai film ini. Produksi melibatkan Perum Produksi Film Negara atau PPFN.
Film ini memakai pendekatan dokudrama. Ceritanya menggabungkan adegan dramatik dengan materi sejarah dan arsip.
Pada masa Orde Baru, film ini mendapat perhatian besar. Pemerintah kala itu menggunakan film tersebut sebagai salah satu media untuk menyampaikan versi resmi mengenai peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Rp800 Juta pada Era 1980-an
Angka Rp800 juta tentu terlihat berbeda jika kita melihatnya dari kondisi ekonomi sekarang.
Namun, pada awal 1980-an, angka tersebut sudah sangat besar untuk sebuah produksi film nasional. Karena itu, sejumlah sumber mencatat film ini sebagai salah satu produksi paling mahal pada masanya.
Produksi film juga membutuhkan waktu panjang. Tim menghabiskan sekitar dua tahun untuk menyelesaikan seluruh proses.
Skala produksinya ikut membuat film ini terasa berbeda dari film Indonesia pada zamannya.
Sejarah di Layar, Ingatan di Kepala
Film sejarah tidak hanya bercerita tentang masa lalu.
Ketika sebuah film tayang berulang kali, ceritanya dapat masuk ke ingatan banyak orang. Hal itu membuat film G30S/PKI punya pengaruh besar dalam budaya populer Indonesia.
Namun, penonton juga perlu melihat film ini sebagai produk dari konteks politik pada zamannya.
Film tersebut menggambarkan peristiwa 1965 berdasarkan versi resmi pemerintah Orde Baru. Karena itu, sejumlah peneliti dan pengamat film kemudian mengkaji cara film tersebut membentuk narasi sejarah.
Film yang Terus Dibicarakan
Lebih dari empat dekade setelah rilis, film G30S/PKI masih muncul dalam percakapan setiap akhir September.
Alasannya bukan hanya karena durasinya yang panjang atau skala produksinya.
Film ini juga menunjukkan bagaimana sinema dapat berhubungan erat dengan sejarah, kekuasaan, dan ingatan masyarakat.
Di titik itu, film G30S/PKI tidak lagi sekadar film lama. Ia menjadi bagian dari perjalanan budaya Indonesia dalam mengingat masa lalu.








