Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Les Gratis 15 Menit: Ketika Guru Menambal Lubang yang Ditinggalkan Sistem Pendidikan

by teguh
Juli 11, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Bukan sekadar kisah guru yang rela pulang lebih sore. Ini adalah potret bagaimana kualitas pendidikan dasar masih sering bergantung pada keberuntungan seorang anak bertemu guru yang peduli seperti seorang guru di Mojokerto yang memberikan les gratis 15 menit kepada siswa yang belum lancar membaca.

Tabooo.id – Bel pulang berbunyi. Anak-anak kelas I SD berlarian meninggalkan ruang kelas. Namun tiga siswa tetap duduk di bangkunya. Buku tulis masih terbuka, pensil masih menggenggam harapan yang belum sepenuhnya mereka pahami. Di depan mereka, Sulistiyowati belum beranjak pulang. karena Les gratis 15 menit akan dia mulai.

Guru kelas I SD Negeri Sidoharjo 1, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu memilih menambah waktu belajar sekitar 10 hingga 15 menit setiap Senin hingga Kamis. Tidak ada honor tambahan. Tidak ada program khusus. Bahkan tidak ada biaya yang dipungut dari orang tua.

“Bentuk dedikasi, agar mereka tidak terlalu tertinggal dengan teman-temannya,” kata Sulistiyowati kepada Kompas.com, Sabtu 11/07/2026.

Usahanya membuahkan hasil. Ketiga siswa tersebut kini naik ke kelas II, bahkan dua di antaranya menunjukkan perkembangan membaca dan menulis yang signifikan.

Kisah itu memang menghangatkan hati. Namun jika berhenti sampai di sana, kita justru kehilangan persoalan yang jauh lebih besar.

Ini Belum Selesai

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Patungan Rp10 Ribu, Massa Datangi Kemensos Gugat Desil Bansos

Ketika Dedikasi Guru Menjadi Penyangga Sistem

Pertanyaan yang seharusnya muncul bukanlah mengapa Sulistiyowati begitu peduli dengan memberikan les gratis 15 menit kepada muridnya.

Melainkan, mengapa masih ada siswa kelas I SD yang belum mampu membaca dan menulis dengan lancar ketika pendidikan dasar menjadikan literasi sebagai fondasi utama?

Sulistiyowati sebenarnya telah menjalankan proses yang ideal. Ia tidak buru-buru memberi tambahan belajar. Selama dua bulan pertama, ia memberi kesempatan murid-muridnya beradaptasi dengan lingkungan sekolah sebelum mengidentifikasi siapa yang membutuhkan pendampingan khusus.

Sayangnya, praktik baik itu lahir dari inisiatif pribadi, bukan karena adanya sistem intervensi literasi yang berjalan seragam di setiap sekolah. Di sinilah ironi pendidikan Indonesia muncul ketika seorang Guru bergerak lebih cepat daripada sistem.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat peluncuran arah kebijakan pendidikan dasar pada 2025 menegaskan bahwa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung merupakan fondasi seluruh proses pembelajaran. Menurutnya, tanpa penguasaan literasi dan numerasi, peserta didik akan mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran pada jenjang berikutnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah memahami akar persoalan. Namun, realitas di lapangan memperlihatkan bahwa implementasi masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Sekolah Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Sulistiyowati mengakui keberhasilan dua siswanya bukan semata hasil tambahan belajar di sekolah.

“Alhamdulillah saat ini sudah naik kelas 2 semuanya. Yang dua anak ada perubahan signifikan. Ini tidak berjalan sendiri, juga melibatkan pengawasan orang tua di rumah,” ujarnya.

Kalimat tersebut mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Keluarga menjadi ruang belajar pertama seorang anak.

Pakar pendidikan Prof. Suyanto dari Universitas Negeri Yogyakarta pernah menegaskan bahwa keterlibatan orang tua merupakan faktor penting dalam membangun budaya membaca sejak usia dini. Sekolah dapat mengajarkan teknik membaca, tetapi keluarga membentuk kebiasaan untuk mencintai bacaan.

Persoalannya, tidak semua keluarga memiliki waktu, kemampuan, atau akses yang sama untuk mendampingi anak belajar.

Akibatnya, kesenjangan kemampuan literasi mulai terlihat bahkan sejak kelas pertama sekolah dasar.

Budaya Literasi Masih Menjadi PR Bersama

Berbagai sekolah di Mojokerto sebenarnya mulai membangun budaya membaca.

SD Negeri Bendung 1 menghadirkan pojok baca di setiap kelas. Sementara SD Negeri Sooko 2 mengembangkan Literacy Center sebagai ruang khusus bagi siswa untuk membaca dan mengenal berbagai koleksi buku.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa sekolah mulai memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang akrab dengan buku, Namun fasilitas hanyalah permulaan.

Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro), Gol A Gong, yang juga dikenal sebagai Duta Baca Indonesia periode 2021–2025, berulang kali menekankan bahwa budaya literasi tidak cukup dibangun dengan menghadirkan buku. Menurutnya, yang paling penting adalah membangun kebiasaan membaca setiap hari melalui keterlibatan keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosial.

Artinya, pojok baca tidak akan banyak berarti apabila tidak diikuti budaya membaca yang hidup.

Ketika Anak Bergantung pada Keberuntungan

Di sinilah persoalan sesungguhnya muncul. Kisah Sulistiyowati memang layak diapresiasi.

Tetapi jika keberhasilan seorang anak hanya bergantung pada keberuntungan bertemu guru yang rela mengorbankan waktu pribadinya, maka yang patut dipertanyakan bukan dedikasi gurunya.

Melainkan kesiapan sistem pendidikannya. Guru seperti Sulistiyowati seharusnya menjadi inspirasi, bukan penutup kekurangan sistem.

Karena tidak semua sekolah memiliki guru dengan kesempatan yang sama. Tidak semua guru memiliki waktu tambahan.

Dan tidak semua anak beruntung mendapatkan sosok yang bersedia tinggal lebih lama setelah bel pulang berbunyi.

Kalau Bukan Guru Itu, Siapa yang Menyelamatkan Mereka?

Anak yang terlambat menguasai kemampuan membaca berpotensi terus tertinggal pada mata pelajaran lain. Semakin lama ketertinggalan itu dibiarkan, semakin besar peluang munculnya kesenjangan akademik hingga jenjang pendidikan berikutnya.

Dedikasi Sulistiyowati berhasil menyelamatkan tiga anak. Namun pertanyaan yang lebih besar masih menggantung.

Berapa banyak anak di sekolah lain yang tidak pernah bertemu guru seperti Sulistiyowati? Di situlah ujian sesungguhnya bagi pendidikan Indonesia.

Bukan sekadar menghadirkan guru-guru hebat. Tetapi memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang sama, tanpa harus bergantung pada keberuntungan. @teguh

Tags: Budaya LiterasiDinas Pendidikan MojokertoGuru IndonesiaJawaTimurLes GratisLiterasi AnakMembacaMenulisMojokertoPendidikan IndonesiaSD Negeri Sidoharjo 1Sekolah Dasar

Kamu Melewatkan Ini

Smart TV di Sekolah, Listrik Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

Smart TV di Sekolah, Listrik, Internet Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

by teguh
September 12, 2026

Layar interaktif kini masuk ke ruang kelas hingga pelosok Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya bantuan Smart TV di sekolah melalui...

Program Digitalisasi Harus jalan, Smart TV untuk Sekolah Rusak, Listriknya?

Program Digitalisasi Harus jalan, Smart TV untuk Sekolah Rusak, Listriknya?

by teguh
September 12, 2026

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menjelaskan polemik bantuan program digitasasi perangkat digital untuk SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Next Post
Benarkah Indonesia Terancam Overpopulasi?

Benarkah Indonesia Terancam Overpopulasi?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id