Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Les Gratis 15 Menit: Ketika Guru Bergerak, Sistem Pendidikan Ikut Diuji

by teguh
Juli 11, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Bel sekolah memang menandai akhir jam pelajaran. Namun bagi Sulistiyowati, guru kelas I SD Negeri Sidoharjo 1 di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, bel itu justru menjadi awal pengabdian. Selama empat hari dalam sepekan, ia memilih tetap berada di ruang kelas untuk Les Gratis 15 Menit Guru inin dengan setia mendampingi tiga murid yang belum lancar membaca dan menulis. Tanpa biaya, tanpa insentif tambahan, hanya berbekal keyakinan bahwa tidak ada anak yang pantas tertinggal hanya karena belum mampu mengeja huruf.

Tabooo.id: Les Gratis 15 menit ini Keputusan sederhana yang membuahkan hasil. Ketiga siswa tersebut berhasil naik ke kelas II, bahkan dua di antaranya menunjukkan peningkatan kemampuan membaca dan menulis yang signifikan. Kisah ini bukan sekadar tentang dedikasi seorang guru. Kisah ini juga membuka pertanyaan yang lebih besar: mengapa keberhasilan pendidikan masih sering bergantung pada pengorbanan individu?

Bel Pulang Berbunyi, Sulistiyowati Memilih Tetap Mengajar

Setiap Senin hingga Kamis, Sulistiyowati mengajak tiga siswanya kembali duduk di bangku kelas setelah teman-teman mereka pulang. Les Gratis15 menit, ia membimbing mereka membaca suku kata, mengenali huruf, hingga melatih kemampuan menulis secara bertahap.

Ia menjalankan pendampingan itu sejak tahun ajaran 2025/2026 setelah menemukan tiga siswanya belum menguasai kemampuan literasi dasar.

Namun, ia tidak langsung memberikan tambahan belajar sejak awal masuk sekolah. Sulistiyowati lebih dulu memberi kesempatan kepada seluruh murid untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar selama kurang lebih dua bulan. Setelah itu, ia mulai mengidentifikasi siswa yang membutuhkan perhatian khusus.

“Alhamdulillah saat ini sudah naik kelas 2 semuanya. Yang dua anak ada perubahan signifikan. Ini tidak berjalan sendiri, juga melibatkan pengawasan orang tua di rumah,” ujar Sulistiyowati kepada Kompas.com, Sabtu, 11/07/2026.

Ini Belum Selesai

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus

Surplus Dagang RI Menyusut, Impor Melaju Lebih Kencang dari Ekspor

Menurutnya, setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda. Karena itu, ia menyesuaikan metode belajar sesuai kondisi masing-masing siswa.

“Bila anak sudah terlihat lelah, maka tambahan belajar membaca dan menulis tidak dilaksanakan,” katanya.

Sulistiyowati juga memastikan seluruh pendampingan berlangsung tanpa memungut biaya sedikit pun.

“Bentuk dedikasi, agar mereka tidak terlalu tertinggal dengan teman-temannya,” ujarnya.

Literasi Tidak Bisa Menunggu Anak Siap Sendiri

Sulistiyowati memahami bahwa kelas I SD merupakan masa transisi penting dari taman kanak-kanak menuju pendidikan dasar. Pada fase ini, sebagian anak mampu membaca dengan cepat, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan pendampingan intensif.

Alih-alih membiarkan ketertinggalan semakin jauh, ia memilih turun langsung membantu mereka dan cara yang dilakukan cukup sederhana yaitu melakukan les gratis 15 menit.

Langkah itu membuktikan bahwa intervensi sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu mempercepat perkembangan kemampuan literasi anak.

Sekolah di Mojokerto Bergerak Membangun Budaya Membaca

Upaya meningkatkan literasi tidak hanya muncul di SD Negeri Sidoharjo 1.

Sejumlah sekolah dasar negeri di Kabupaten Mojokerto juga menjalankan berbagai program untuk membangun kebiasaan membaca sejak dini.

SD Negeri Bendung 1, Kecamatan Jetis, misalnya, menghadirkan pojok baca di setiap ruang kelas agar siswa semakin akrab dengan buku.

“Pojok baca ini untuk meningkatkan literasi siswa di masing-masing kelas,” ujar Kepala SD Negeri Bendung 1, Ririen Pramonowati.

Sementara itu, SD Negeri Sooko 2 mengembangkan Literacy Center yang menyediakan koleksi buku, hasil karya siswa, serta ruang baca yang nyaman.

“Anak ke situ bisa untuk membaca,” kata Kepala SD Negeri Sooko 2, Abdul Hamid.

Kedua program tersebut menunjukkan bahwa sekolah mulai membangun budaya membaca, bukan sekadar mengejar target kurikulum.

Literasi Kelas Awal Menentukan Masa Depan Anak

Pengamat pendidikan sekaligus mantan Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Prof. Dr. Arief Rachman, dalam berbagai forum pendidikan hingga 2025, menegaskan bahwa kemampuan membaca pada kelas awal menjadi fondasi seluruh proses belajar.

“Jika anak gagal menguasai kemampuan membaca pada fase awal sekolah dasar, maka hampir seluruh mata pelajaran berikutnya akan menjadi lebih sulit dipahami.”

Ia menilai langkah Sulistiyowati mencerminkan praktik pendidikan yang tepat karena guru tidak menunggu masalah membesar sebelum bertindak.

Guru Perlu Mengenali Cara Belajar Setiap Anak

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Didi Suryadi, dalam Seminar Pendidikan Nasional 12/11/2024, menjelaskan bahwa setiap anak memiliki perkembangan kognitif yang berbeda.

“Guru perlu mengenali kebutuhan belajar setiap anak melalui asesmen sederhana. Pendampingan individual sering kali memberikan hasil yang jauh lebih efektif dibanding menyamaratakan semua siswa.”

Menurutnya, kemampuan membaca berkembang lebih cepat ketika guru membangun hubungan yang dekat dengan murid dan melibatkan keluarga dalam proses belajar.

Jangan Bergantung pada Heroisme Guru

Sosiolog pendidikan Universitas Andalas, Prof. Dr. Damsar, dalam diskusi pendidikan 15/02/2025, mengingatkan bahwa masyarakat memang patut mengapresiasi dedikasi guru. Namun negara tidak boleh membiarkan sistem pendidikan bergantung pada pengorbanan individu.

“Dedikasi guru merupakan modal sosial yang sangat kuat. Namun negara tetap harus menghadirkan sistem yang menjamin seluruh anak memperoleh layanan pendidikan yang setara.”

Ia menilai praktik baik seperti di Mojokerto perlu berkembang menjadi kebijakan nasional agar tidak hanya bergantung pada guru-guru yang bekerja melampaui kewajibannya.

Membaca Bukan Sekadar Keterampilan, Tetapi Cara Memahami Dunia

Budayawan Sujiwo Tejo, dalam Diskusi Literasi Nasional 21/09/2023, pernah menyampaikan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas mengenali huruf.

“Bangsa yang membaca sebenarnya sedang belajar memahami dirinya sendiri.”

Menurutnya, budaya membaca membentuk daya pikir kritis sekaligus memperkuat karakter generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.

Pemerintah Terus Mendorong Penguatan Literasi Nasional

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus menjalankan berbagai program penguatan literasi sepanjang 2025–2026. Pemerintah mengajak sekolah memperluas akses bacaan melalui perpustakaan, pojok baca, serta penguatan kemampuan membaca pada kelas awal sekolah dasar.

Program tersebut bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperbaiki kemampuan literasi siswa Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan berdasarkan sejumlah asesmen pendidikan nasional maupun internasional.

Kebiasaan Membaca Harus Tumbuh di Rumah dan Sekolah

Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia juga terus mendorong kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas literasi.

Dalam berbagai kegiatan sepanjang 2025, FTBM menegaskan bahwa kebiasaan membaca tidak lahir karena kewajiban. Anak akan mencintai buku ketika lingkungan terdekat menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan dan konsisten.

Bukan Sekadar Guru Baik, Tetapi Alarm untuk Sistem Pendidikan

Kisah Sulistiyowati memang menghadirkan harapan. Namun kisah ini juga menyimpan ironi yang tidak boleh kita abaikan.

Tiga anak berhasil mengejar ketertinggalan hanya karena seorang guru rela menambah waktu untul Les gratis 15 menit setiap hari. Artinya, perubahan besar ternyata bisa lahir dari langkah kecil.

Masalahnya, pendidikan tidak boleh menggantungkan masa depan jutaan anak pada lahirnya guru-guru luar biasa.

Sekolah membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi kesulitan belajar sejak dini, menyediakan pendampingan yang terstruktur, memperkuat kolaborasi dengan orang tua, dan memberi dukungan nyata kepada guru.

Karena pada akhirnya, keberhasilan literasi bukan sekadar keberhasilan tiga siswa di Mojokerto. Literasi adalah fondasi masa depan bangsa. Ketika seorang anak mampu membaca, ia tidak hanya membuka buku. Ia juga membuka peluang untuk memahami dunia, berpikir kritis, dan mengubah hidupnya sendiri.

Dan mungkin, pertanyaan terbesar yang harus dijawab bukan lagi “masih adakah guru seperti Sulistiyowati?”, melainkan “kapan sistem pendidikan mampu memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama tanpa harus menunggu hadirnya pahlawan di ruang kelas?”. @teguh

Tags: Budaya LiterasiGuru IndonesiaJawaTimurLes GratisLiterasi AnakMembacaMenulisMojokertoPendidikan IndonesiaSekolah Dasar

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Arjuno Meluas ke Trawas, Angin Kencang Hambat Pemadaman

Karhutla Arjuno Meluas ke Trawas, Angin Kencang Hambat Pemadaman

by teguh
Oktober 21, 2026

karhutla Arjuno–Welirang meluas hingga Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pada Selasa 20/10/2026. Angin kencang menyulitkan tim gabungan mengendalikan api yang menjalar...

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana tinggal kelas kembali membuka perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Sebelum meminta siswa mengulang pelajaran, pemerintah perlu memastikan sekolah mampu...

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana siswa tidak otomatis naik kelas mulai 2027 kembali memantik perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR...

Next Post
Les Gratis 15 Menit: Ketika Guru Menambal Lubang yang Ditinggalkan Sistem Pendidikan

Les Gratis 15 Menit: Ketika Guru Menambal Lubang yang Ditinggalkan Sistem Pendidikan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id