• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

Maret 20, 2026
in Talk
A A
Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

Ilustrasi perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 H, saat sebagian umat merayakan Lebaran dan lainnya masih berpuasa. (Foto ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Setiap tahun, pertanyaan ini muncul lagi seperti lagu lama yang tak pernah benar-benar berhenti diputar Lebaran bareng atau beda? Dan tahun ini, jawabannya kembali mengarah ke kemungkinan yang sama berbeda.

Di satu sisi, Kementerian Agama bersama Nahdlatul Ulama tetap menggunakan kombinasi hisab dan rukyat dengan kriteria imkanur rukyah. Di sisi lain, Muhammadiyah konsisten memakai hisab hakiki wujudul hilal global. Perbedaan ini bukan hal baru. Namun, respons publik sering kali terasa seperti kejutan tahunan.

Lalu, yang sebenarnya kita perdebatkan itu apa metodenya, atau ekspektasi bahwa semuanya harus sama?

Kita Sering Salah Fokus

Kalau dilihat lebih jernih, persoalan ini sebenarnya cukup sederhana. Perbedaan muncul karena pendekatan yang berbeda sejak awal. Pemerintah dan NU menekankan kemungkinan visibilitas hilal secara faktual. Sementara itu, Muhammadiyah mengedepankan konsistensi perhitungan astronomi global.

Artinya, keduanya berdiri di atas dasar ilmiah yang sama-sama kuat. Namun demikian, publik sering kali tidak membahas substansi tersebut. Sebaliknya, banyak yang lebih fokus pada hasil akhirnya “Kenapa tidak bisa sama?”

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa menghadapi perbedaan. Kita berbeda pilihan politik, selera, bahkan cara pandang. Anehnya, ketika perbedaan itu hanya soal satu hari, reaksinya justru jauh lebih emosional.

Realitas Sosial yang Tak Bisa Diabaikan

Di lapangan, perbedaan ini terasa nyata. Misalnya, satu masjid sudah mengumandangkan takbir, sementara masjid lain masih melaksanakan tarawih. Di satu rumah, keluarga sudah menyiapkan hidangan Lebaran. Sementara itu, tetangga di sebelah masih menjalani puasa terakhir.

Situasi ini tentu menimbulkan dinamika sosial. Sebagian orang harus menyesuaikan jadwal mudik. Pedagang mengatur ulang stok barang. Bahkan, ada pekerja yang perlu mengambil cuti di waktu berbeda.

Dengan kata lain, dampaknya tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga praktis. Masyarakat umum yang tidak terlalu memikirkan metode hisab atau rukyat justru menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensinya.

Perspektif Lain: Ini Bukan Masalah, Tapi Kenyataan

Namun demikian, ada cara lain untuk melihat situasi ini. Alih-alih menganggapnya sebagai masalah, kita bisa memahaminya sebagai konsekuensi dari keberagaman pendekatan.

RelatedPosts

Sunyi dan Ramai Bertemu: Seberapa Siap Kita Hidup dalam Perbedaan?

Aktivis Disiram Air Keras, Demokrasi Kita Baik-Baik Saja?

Dalam ilmu pengetahuan, perbedaan metode bukan hal yang aneh. Justru, perbedaan itu membuka ruang diskusi dan memperkaya pemahaman. Muhammadiyah memilih konsistensi global. Sementara itu, pemerintah dan NU menekankan verifikasi lokal. Dua pendekatan ini berjalan berdampingan dengan tujuan yang sama: memastikan ibadah dilaksanakan secara benar.

Dengan demikian, perbedaan bukanlah kegagalan. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari dinamika yang wajar dalam masyarakat yang majemuk.

Tabooo: Seragam Itu Nyaman, Tapi Dewasa Itu Penting

Masalah sebenarnya bukan pada perbedaan tanggal. Tantangan utamanya justru terletak pada cara kita merespons perbedaan tersebut.

Memang, keseragaman terasa lebih nyaman. Semua orang merayakan di hari yang sama, suasana terasa lebih kompak. Namun, kedewasaan sosial justru diuji ketika keseragaman itu tidak terjadi.

Ironisnya, kita bisa hidup berdampingan dengan perbedaan besar agama, budaya, bahkan bahasa. Akan tetapi, perbedaan satu hari dalam Lebaran sering kali memicu perdebatan yang tidak perlu.

Barangkali karena Lebaran bukan sekadar momen religius. Ia juga simbol kebersamaan. Ketika simbol itu berbeda, sebagian orang merasa ada yang hilang. Padahal, esensi kebersamaan tidak bergantung pada tanggal, melainkan pada sikap saling menghormati.

Jadi, Harus Sama atau Tidak?

Pertanyaan ini akan selalu muncul. Haruskah Lebaran disatukan? Atau biarkan perbedaan tetap ada?

Jawabannya tidak sesederhana hitam dan putih. Jika bisa sama, tentu lebih praktis. Namun, ketika tidak sama, itu bukan berarti ada yang salah.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut. Apakah kita memilih memperdebatkannya tanpa henti, atau justru menjadikannya ruang untuk belajar toleransi?

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang siapa yang lebih dulu atau lebih akhir. Lebaran adalah tentang kembali ke fitrah termasuk dalam cara kita memahami dan menghargai orang lain.

Jadi, sekarang bukan lagi soal tanggal.

Lalu, kamu di kubu mana yang sibuk memperdebatkan perbedaan, atau yang memilih merawat kebersamaan di tengah perbedaan? @dimas

Tags: 2026HisabIdul FitriIndonesiaKementerian AgamalebaranMuhammadiyahNahdlatul UlamaOpiniPerbedaanPublikRukyatToleransi

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.