Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lathi: Bukan Lagu EDM Biasa, Tapi Luka yang Dinyanyikan

by Tabooo
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture Musik
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Musik – Kamu mungkin mengira “Lathi” cuma lagu EDM dengan drop yang bikin merinding, apalagi kalau pertama kali dengar lewat TikTok atau YouTube Shorts yang penuh visual dramatis. Tapi semakin kamu dengar, semakin terasa ada sesuatu yang “nggak beres” di balik beat-nya. Karena bukan cuma telinga yang kena, emosi juga ikut ditarik masuk.

Dan di titik itu, kamu mulai sadar, bahwa ini bukan sekadar musik. Ini adalah cerita tentang luka yang dipendam terlalu lama, lalu akhirnya keluar dalam bentuk suara. Masalahnya, luka itu terasa dekat. Terlalu dekat, bahkan mungkin… pernah kamu alami sendiri.

KETIKA EDM JADI MEDIA CURHAT PALING JUJUR

Lagu “Lathi” dari Weird Genius yang berkolaborasi dengan Sara Fajira dirilis pada tahun 2020 dan langsung mencuri perhatian publik, baik di dalam negeri maupun global. Lagu ini bukan hanya viral, tapi juga menjadi fenomena karena berhasil menggabungkan EDM modern dengan elemen budaya Jawa yang kuat.

Di permukaan, “Lathi” terdengar seperti lagu elektronik dengan aransemen yang solid dan drop yang powerful. Namun di balik itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Karena ketika kamu mulai memperhatikan liriknya, kamu akan sadar bahwa lagu ini tidak sedang mencoba menghibur, dia sedang bercerita.

“I was born a fool, broken all the rules…”

Kalimat ini terasa seperti pengakuan yang jujur, bahkan terlalu jujur. Seolah seseorang sedang melihat ke dalam dirinya sendiri dan mengakui bahwa ia telah memilih jalan yang salah. Bukan karena tidak tahu, tapi karena tetap bertahan meski sadar itu menyakitkan.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

INI BUKAN CINTA, INI SIKLUS

Namun masalahnya bukan cuma hubungan yang toxic. Masalah yang lebih besar adalah kenapa seseorang tetap memilih bertahan, meskipun sudah jelas terluka. Dan di sinilah “Lathi” mulai membuka lapisan yang lebih dalam—tentang kebiasaan manusia mengabaikan rasa sakit demi sesuatu yang disebut cinta.

Bagian paling menampar datang dari lirik Jawa,“Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi”

Kalimat ini bukan sekadar lirik, tapi filosofi. Karena dalam budaya Jawa, ucapan bukan hanya alat komunikasi, tapi juga cerminan harga diri. Dan ketika kata-kata dalam hubungan mulai menyakitkan, di situlah kehancuran sering dimulai.

Ironisnya, banyak orang tidak menyadari hal ini. Mereka menganggap kata-kata kasar sebagai emosi sesaat, padahal itu bisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada tindakan fisik. Dan “Lathi” dengan jujur menunjukkan itu—tanpa filter, tanpa kompromi.

DENIAL, TAPI TETAP BERTAHAN

Sekarang coba tarik ini ke kehidupan nyata. Berapa banyak orang yang tetap bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat? Dan lebih jauh lagi, berapa banyak yang bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang terluka?

Karena sering kali, kita membungkus luka dengan alasan. Kita bilang masih sayang, kita bilang ini cuma fase, atau kita berharap semuanya akan berubah. Padahal di dalamnya, kita sedang kehilangan diri sendiri, perlahan, tapi pasti.

“Lathi” menjadi relevan karena dia tidak menghakimi. Dia hanya menunjukkan realita. Bahwa cinta tidak selalu indah, dan bahwa tidak semua yang kita pertahankan itu layak untuk diperjuangkan. Dan di situ, lagu ini berubah dari sekadar musik menjadi cermin.

VIRAL VS MAKNA: KETIKA TREND MENUTUP KEBENARAN

Di era digital, “Lathi” meledak lewat TikTok dengan berbagai challenge visual yang kreatif dan estetik. Makeup horror, transisi wajah, dan efek dramatis menjadi daya tarik utama. Namun di balik semua itu, kita menghadapi ironi yang sulit kita abaikan.

Karena semakin viral lagu ini, semakin banyak orang yang hanya menikmati permukaannya. Mereka ikut trend, mereka hafal bagian drop, tapi mereka tidak benar-benar memahami cerita di baliknya. Padahal justru di situlah kekuatan “Lathi” berada.

Lagu ini tidak hanya bicara tentang cinta. Dia bicara tentang ilusi dalam hubungan, tentang bagaimana seseorang bisa terjebak dalam sesuatu yang ia tahu salah. Dan lebih dari itu, dia mengangkat satu realita yang sering kita hindari, bahwa kita kadang menjadi bagian dari luka itu sendiri.

LUKA YANG DIPUTAR BERULANG

“Lathi” bukan lagu yang menakutkan karena visualnya gelap atau musiknya keras. Dia menakutkan karena terlalu jujur, karena dia menyuarakan sesuatu yang sering kita sembunyikan—bahkan dari diri sendiri.

Dan mungkin, itu alasan kenapa lagu ini terasa begitu kuat. Karena di balik semua beat dan estetika, kita menghadapi kebenaran yang tak bisa kita hindari: tidak semua cinta layak kita pertahankan, dan tidak semua luka bisa kita sebut proses.

Jadi sekarang, coba tanya ke diri kamu sendiri, kamu sedang mencintai… atau hanya bertahan di luka yang sama? @tabooo

Tags: makna lagumusik indonesiatabooo entertainment

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

by teguh
Juni 2, 2026

"Musik Iwan Fals bukan sekadar hiburan pop. Ia adalah dokumen sosial yang mencatat trauma ketimpangan struktural dan salah satu karya...

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

by eko
Mei 22, 2026

AI bisa bikin lagu, tapi tak punya hati. Kalimat itu menjadi kegelisahan utama Yovie Widianto saat berbicara dalam sesi Music...

Next Post
Bukan Sekadar Nyanyi: Iwan Fals dan Seni Membuat Kita Peduli

Bukan Sekadar Nyanyi: Iwan Fals dan Seni Membuat Kita Peduli

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id