Tabooo.id: Regional – Lereng Gunung Lawu kembali menjadi panggung pertemuan antara tradisi, alam, dan kepentingan ekonomi daerah. Ribuan warga dan wisatawan memadati Telaga Sarangan pada puncak ritual Labuhan Sarangan, Jumat Pon Bulan Ruwah. Di tengah suasana sakral dan doa bersama, agenda budaya ini kini memikul peran baru yang lebih strategis menggerakkan pariwisata sekaligus mengungkit ekonomi lokal.
Sejak pagi hari, arus pengunjung mengalir deras ke kawasan telaga. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan ritual bersih desa, tetapi juga untuk menikmati pengalaman budaya yang semakin tertata dan terbuka bagi publik. Melalui momentum ini, pemerintah daerah menampilkan Labuhan Sarangan sebagai etalase pariwisata berbasis budaya yang siap bersaing di tingkat nasional.

Dari Ritual Adat ke Agenda Strategis Daerah
Prosesi utama Labuhan Sarangan berlangsung khidmat namun tetap atraktif. Panitia melarung tumpeng raksasa ke tengah telaga dengan speedboat, lalu mengiringinya dengan kirab budaya dan pertunjukan seni. Reog Ponorogo, karawitan, hingga pentas tradisi lokal hadir dalam satu rangkaian yang menyedot perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
Penetapan Labuhan Sarangan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia pada 2025 menggeser posisi tradisi ini secara signifikan. Kini, Labuhan Sarangan tidak lagi berdiri sebagai ritual tahunan warga semata, melainkan sebagai aset budaya yang masuk dalam perhitungan kebijakan pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif daerah.
Pemerintah Dorong Budaya Jadi Mesin Ekonomi
Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti menegaskan bahwa pemerintah daerah menempatkan Labuhan Sarangan sebagai penggerak pembangunan berbasis kearifan lokal. Menurutnya, tradisi ini mengandung nilai spiritual dan semangat gotong royong yang tetap relevan dengan tantangan sosial masa kini.
“Sarangan menjadi salah satu penopang citra Magetan. Kami mendorong agar tradisi ini terus lestari sekaligus mampu menggerakkan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif masyarakat,” ujar Nanik saat menghadiri acara.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan pendekatan pemerintah daerah. Alih-alih memandang budaya sebagai beban pelestarian, pemerintah kini memosisikannya sebagai instrumen ekonomi yang tetap berpijak pada nilai adat dan identitas lokal.
Target Nasional, Dampak Lokal
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan, Joko Trihono, menyebut pemerintah daerah tengah menyiapkan Labuhan Sarangan untuk masuk kalender event nasional 2026. Sepanjang tahun, Magetan menargetkan 37 agenda wisata dengan melibatkan desa dan komunitas lokal sebagai pelaku utama.
“Kami ingin Labuhan Sarangan menjadi ikon nasional. Dampaknya harus langsung dirasakan pelaku UMKM, sektor perhotelan, hingga jasa wisata di sekitar Gunung Lawu,” ujar Joko.
Strategi tersebut menyasar kelompok yang paling merasakan denyut pariwisata: pedagang kecil, pelaku kuliner, pengelola homestay, serta pekerja informal di kawasan Sarangan.
Angka Kunjungan dan Ambisi PAD
Data kunjungan memperkuat optimisme pemerintah daerah. Selama libur Natal dan Tahun Baru, Telaga Sarangan mencatat 117.447 pengunjung dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp20,2 miliar. Untuk 2026, Pemerintah Magetan memasang target PAD pariwisata sebesar Rp23,4 miliar.
Posisi Sarangan yang strategis di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, ditambah udara sejuk serta kuliner khas seperti sate kelinci, mendorong pemerintah memproyeksikan kawasan ini sebagai destinasi unggulan berbasis budaya dan alam.
Antara Sakralitas dan Komodifikasi
Meski hujan sempat turun ringan, rangkaian Labuhan Sarangan 2026 berlangsung lancar. Antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa ritual adat masih memiliki daya tarik kuat di tengah budaya instan dan digital.
Namun, di balik euforia tersebut, tantangan tetap mengintai. Pemerintah dan masyarakat harus menjaga keseimbangan antara sakralitas tradisi dan kepentingan komersial. Ketika budaya berubah menjadi mesin ekonomi, risiko kehilangan makna selalu muncul di belakang panggung.
Kini, Labuhan Sarangan berdiri di persimpangan itu. Jika dikelola dengan cermat, tradisi ini bisa menjadi contoh bagaimana budaya lokal menggerakkan kesejahteraan tanpa kehilangan ruhnya. Sebaliknya, tanpa kehati-hatian, Labuhan Sarangan berisiko menjelma sekadar festival tahunan yang ramai, namun hampa makna. @Agus Pujiono-Magetan




