Tabooo.id: Nasional – Polri membongkar laboratorium narkoba jaringan Iran–Indonesia yang beroperasi diam-diam di sebuah apartemen kawasan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Sabtu (14/2/2026) malam. Penggerebekan ini membuka fakta baru jaringan internasional kini tidak hanya menyelundupkan sabu, tetapi juga memproduksinya langsung di tengah permukiman warga.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso memimpin langsung operasi tersebut. Timnya menangkap warga negara Iran bernama Saeidi Bayaz di Jakarta Timur pada hari yang sama. Dari tangan Saeidi, polisi menyita empat bungkus sabu seberat total 1.683 gram bruto, satu telepon genggam, dan satu paspor.
Penangkapan itu segera mengarah pada temuan yang lebih besar.
Penangkapan di Restoran Membuka Jejak Jaringan
Kasus ini berawal dari pengembangan terhadap tersangka Kazemi Kouhi Farzad. Dalam pemeriksaan, Farzad mengaku menerima perintah dari buronan bernama Husein yang berada di Iran. Husein menyuruh Farzad bertemu Saeidi untuk melanjutkan distribusi narkoba di Indonesia.
Polisi lalu membawa Farzad ke lokasi pertemuan di sebuah restoran di Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Tim gabungan Bea dan Cukai serta Bareskrim Polri langsung bergerak setelah memastikan identitas target. Sekitar pukul 19.50 WIB, petugas menangkap Saeidi di lokasi tanpa perlawanan.
Selanjutnya, polisi memeriksa ponsel Saeidi. Pemeriksaan itu mengungkap alamat apartemen yang Saeidi gunakan sebagai tempat tinggal.
Temuan itu mendorong polisi bergerak cepat ke lokasi berikutnya.
Penggerebekan Mengungkap Pabrik Sabu di Lantai 27
Sekitar pukul 20.28 WIB, tim tiba di apartemen kawasan Sunter Agung. Petugas segera berkoordinasi dengan pihak keamanan dan pengelola gedung. Setelah itu, tim masuk ke unit 28BD di lantai 27.
Di dalam ruangan, polisi langsung menemukan berbagai peralatan produksi sabu. Tim menyita electrical powder grinder, kompor gas portabel, timbangan, serta botol dan jeriken berisi aseton.
Selain itu, petugas juga mengamankan panci, teko, saringan, alat semprot, alat pengaduk, plastik klip ukuran besar, dan sarung tangan medis. Polisi bahkan menemukan stoples berisi limbah produksi sabu serta peralatan lain yang menunjukkan aktivitas produksi rutin.
Temuan itu memperjelas satu hal unit apartemen tersebut berfungsi sebagai laboratorium narkoba.
Setelah itu, polisi memasang garis polisi dan mengamankan lokasi. Tim kemudian membawa para tersangka untuk pemeriksaan lanjutan.
Jaringan Internasional Produksi Narkoba di Tengah Kota
Pengungkapan ini menunjukkan perubahan strategi jaringan narkoba internasional. Mereka kini memproduksi sabu langsung di dalam negeri untuk mempercepat distribusi dan menekan biaya.
Strategi ini sekaligus meningkatkan risiko bagi masyarakat. Apartemen yang seharusnya menjadi tempat tinggal aman justru berubah menjadi lokasi produksi narkoba.
Selain itu, bahan kimia seperti aseton sangat mudah terbakar. Jika terjadi kesalahan, ledakan bisa mengancam seluruh penghuni gedung.
Dengan kata lain, aktivitas ini tidak hanya merusak generasi muda, tetapi juga membahayakan keselamatan warga sekitar.
Indonesia Masih Jadi Target Utama Jaringan Narkoba
Kasus ini kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai target besar jaringan narkoba internasional. Pasar yang luas dan permintaan tinggi membuat jaringan global terus mencari cara untuk beroperasi.
Polisi kini terus mengejar buronan yang diduga mengendalikan jaringan dari luar negeri. Pengungkapan ini menjadi langkah penting, tetapi belum menjadi akhir.
Sebab, selama permintaan masih hidup, jaringan akan terus bergerak.
Dan di kota besar seperti Jakarta, ancaman itu kadang tidak datang dari tempat jauh melainkan dari balik pintu apartemen, hanya beberapa meter dari kehidupan warga biasa. @dimas




