Tabooo.id: Edge – Bayangkan suasana ruang keluarga di jam tujuh malam. Televisi menyala, gorengan sudah mendarat di piring, dan sebuah sinetron hukum fiktif muncul di layar. Pemerannya seorang penyidik idealis yang selalu berhadapan dengan rintangan absurd setiap kali hendak memanggil saksi penting. Lift tiba-tiba mati, printer mendadak nge-freeze, layar komputer mempertontonkan pesan pasrah server pengawasan penuh dan permintaan untuk mencoba lagi seolah sistemnya lagi ngambek.
Penonton biasanya akan maklum karena ini cuma drama televisi. Namun kali ini berbeda. Adegan itu seperti cerminan episode terbaru dunia hukum kita yang bisa saja diberi judul Siapa Takut Dipanggil. Rakyat yang menjadi penonton setianya cuma bisa saling pandang sambil bertanya pelan, ini lembaga hukum atau komunitas roleplay yang kebetulan sangat serius?
Fakta yang Muncul Seperti Plot Twist Mid-Season
Di balik layar drama itu, Dewan Pengawas KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua penyidik yang menangani perkara dugaan korupsi proyek pembangunan jalan di Sumut. Pemeriksaan dilakukan untuk mengklarifikasi dugaan enggannya pemanggilan terhadap saksi penting, salah satunya Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang namanya turut disebut sebagai pihak yang seharusnya dipanggil dalam proses penyidikan perkara tersebut.
Ketua Dewas menegaskan bahwa pemeriksaan ini dilakukan demi memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai etika dan aturan internal. Pada saat yang sama, Juru Bicara KPK menyampaikan bahwa seluruh tahapan perkara sudah berjalan sesuai ketentuan dari tahap penyelidikan sampai penuntutan. Di luar institusi, Koalisi Aktivis Masyarakat mengajukan laporan dan mempertanyakan alasan pemanggilan terhadap saksi tertentu belum terlihat progresnya. Mereka menyampaikan kekhawatiran mengenai independensi lembaga antikorupsi dalam menangani perkara yang melibatkan figur pejabat publik.
Situasi ini bergulir di tengah suasana publik yang semakin jenuh dengan dinamika penegakan hukum. Bahkan studi LPEM FEB UI menunjukkan lonjakan sebelas persen pekerja frustrasi dalam satu tahun terakhir. Angka yang rasanya cocok dipasang sebagai watermark di setiap pemberitaan soal tarik-ulur proses hukum.
SOP yang Terlalu Ikonik Sampai Seperti Karakter Utama
Pola komunikasi lembaga hukum sudah seperti skrip yang dihafal seluruh negeri. Setiap kali muncul pertanyaan mengenai belum bergeraknya pemanggilan saksi, masyarakat langsung bisa menebak apa jawaban resminya. Sedang diproses. Sesuai SOP. Mohon sabar, proses hukum panjang. Ucapan itu begitu sering muncul sampai rasanya SOP berubah menjadi figur publik yang populer, sering disebut di mana-mana namun tak pernah benar-benar menjelaskan dirinya secara detail.
Tak dapat dipungkiri, sistem hukum memang memiliki lapisan kompleks yang panjang. Namun dalam kasus ini, momen absurdnya muncul dari kenyataan bahwa lembaga yang diberi mandat memberantas korupsi justru diperiksa oleh lembaga internalnya karena dituding tidak maksimal menjalankan tugas pemberantasan korupsi. Gambaran ini terasa seperti melihat admin Discord dimute oleh moderator senior karena dianggap terlalu lambat menangani chat yang ramai.
Publik yang memperhatikan dari kejauhan sering kali hanya mampu bereaksi dengan dua ekspresi tradisional. Entah gumaman pendek tanda keheranan atau anggukan kecil yang berarti pasrah. Aktivis terus mempertanyakan independensi, sementara anak muda menyimpulkannya dengan komentar yang lebih ringkas vibes gaslighting institusional makin terasa.
Penutup Pahit yang Dibungkus Humor Publik
Drama soal pemanggilan saksi, termasuk nama-nama pejabat yang tersorot publik seperti Bobby Nasution, memperlihatkan betapa rumitnya perjalanan sebuah perkara di negeri ini. Jalan raya bisa selesai dibangun dalam beberapa bulan. Namun jalan logika proses hukum sering mengambil rute yang memutar, berhenti mendadak, bahkan kembali ke titik awal seperti mobil yang terjebak di bundaran HI pada jam padat.
Pada akhirnya publik hanya ingin satu kepastian. Apakah kita sedang menanti momentum nyata dari proses hukum atau justru menunggu jadwal rilis untuk season berikutnya. @dimas





