Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Korupsi Kepala Daerah dan Upaya Membelokkan Arah Pilkada

by dimas
Januari 21, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Pagi hari, air menetes dari langit-langit rumah. Ember berjejer di lantai, dan semua orang paham sumber masalahnya ada di atap. Namun rapat keluarga justru melahirkan keputusan absurd mematikan lampu. Mereka beralasan sederhana dalam gelap, kebocoran tak terlihat.

Cara berpikir semacam ini kembali muncul setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap kepala daerah.

OTT Terjadi Lagi, Alasan Lama Muncul Kembali

Awal 2026 belum genap sebulan ketika KPK menangkap dua kepala daerah sekaligus. Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo menyusul daftar panjang pejabat daerah yang lebih dulu mengenakan rompi oranye. Pada Selasa (20/1/2026), KPK menetapkan keduanya sebagai tersangka dan kembali memicu debat publik.

Sejak itu, pola kasus terlihat jelas. Korupsi muncul berulang. Drama hukum terus berjalan. Namun elite politik tetap merespons dengan nada yang sama: mereka menyalahkan sistem demokrasi.

Elite Mengubah Korupsi Menjadi Alibi

Setiap OTT hampir selalu membuka pintu wacana serupa. Elite politik menggunakan kasus korupsi kepala daerah sebagai alasan untuk mengubah mekanisme Pilkada. Mereka mendorong pemilihan kepala daerah keluar dari tangan rakyat dan masuk ke ruang DPRD.

Ini Belum Selesai

Kapitalisme Fleksibel Lahirkan ‘Dangerous Class’?

Realita Program Chromebook Jadi Barang Bukti Politik

Mereka menyusun narasi bertahap. Pertama, mereka menyebut Pilkada terlalu mahal. Kedua, mereka menilai biaya kampanye menjerat kandidat. Ketiga, mereka menyimpulkan kepala daerah “terpaksa” korup demi menutup ongkos politik. Dengan alur ini, mereka menggeser korupsi dari kejahatan menjadi efek samping sistem.

Dalih Lama Terus Diputar

Narasi tersebut bukan cerita baru. Sebelumnya, Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya, Bupati Malang Rendra Kresna, hingga Bupati Kapuas Ben Brahim S Bahat memakai alasan serupa. Mereka membungkus korupsi sebagai biaya politik dan menyamarkannya sebagai konsekuensi demokrasi.

Akibatnya, fokus publik ikut bergeser. Publik tidak lagi menyorot pelaku, partai, atau sistem rekrutmen politik. Sebaliknya, wacana justru menyerang Pilkada langsung.

Efisiensi Dijadikan Mantra

Di titik ini, jargon efisiensi naik ke panggung utama. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono, menyatakan biaya kampanye kepala daerah bersifat prohibitif dan menghalangi figur berkapasitas. Karena itu, ia mendorong pemilihan kepala daerah lewat DPRD demi efisiensi proses dan anggaran.

Argumen ini terdengar masuk akal di permukaan. Namun ketika nalar hukum berbicara, logika tersebut mulai retak.

Akademisi Menarik Garis Tegas

Pengajar Hukum Pemilu Universitas Indonesia, Titi Anggraini, menolak mentah-mentah argumen tersebut. Ia menegaskan bahwa korupsi kepala daerah tidak lahir dari Pilkada langsung. Menurutnya, korupsi tumbuh dari integritas individu yang runtuh, sistem rekrutmen politik yang cacat, serta pengawasan yang lemah.

Dengan demikian, ketika negara mengubah desain Pilkada karena korupsi, negara justru menghukum rakyat atas kegagalan elite politik.

DPRD Bukan Zona Bebas Transaksi

Selain itu, romantisme pemilihan lewat DPRD juga menyimpan masalah serius. Peneliti Perludem, Haykal, mengingatkan bahwa pemilihan di DPRD membuka ruang transaksi politik yang lebih tertutup. Data ICW bahkan menunjukkan pelaku korupsi dari unsur DPRD jumlahnya lebih banyak dibanding kepala daerah.

Fakta ini menegaskan satu hal memindahkan Pilkada ke DPRD tidak menghapus korupsi. Langkah itu justru berpotensi memusatkan korupsi di ruang yang jauh dari pengawasan publik.

Hak Rakyat Dipangkas, Akar Masalah Ditinggal

Sementara elite sibuk mengutak-atik mekanisme Pilkada, persoalan utama tetap dibiarkan. Mahar politik terus hidup. Pendanaan kampanye tetap gelap. Akuntabilitas partai berjalan setengah hati. Namun di saat yang sama, elite menganggap hak rakyat memilih sebagai variabel paling mudah dipangkas.

Alih-alih memperbaiki atap yang bocor, mereka memilih mematikan lampu.

Lampu Padam, Kebocoran Terus Mengalir

Pada akhirnya, wacana Pilkada lewat DPRD tampak sebagai solusi instan yang malas. Gagasan ini tidak menyembuhkan penyakit, hanya menyembunyikan gejala.

Atap tetap bocor. Lampu sengaja dipadamkan. Publik pun diminta percaya rumah demokrasi ini masih kokoh hingga suatu hari langit-langit runtuh dan menimpa semua orang. @dimas

Tags: DemokrasiElitekedaulatanKorupsi di IndonesiaKPKPilkadaPolitik IndonesiarakyatReformasi

Kamu Melewatkan Ini

Saat Inovator Mulai Menjauh dari Negara

Saat Inovator Mulai Menjauh dari Negara

by Naysa
Mei 16, 2026

Negara terus bilang butuh anak muda cerdas dan inovatif untuk memperbaiki birokrasi. Masalahnya, semakin banyak profesional muda justru mulai melihat...

Perang Paradigma: Perlawanan mungkin tidur, tetapi tak pernah mati

Perang Paradigma: Perlawanan mungkin tidur, tetapi tak pernah mati

by Jery
Mei 16, 2026

Perang paradigma Pada Reformasi 1998 tidak berhenti ketika Soeharto turun dari kursi kekuasaan. Ia terus hidup dalam benturan antara stabilitas...

Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan: Apa Isi Buku Ini?

Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan: Apa Isi Buku Ini?

by jeje
Mei 15, 2026

Sejarah Indonesia sering hadir seperti pertandingan yang hasilnya sudah ditentukan sejak awal. Ada pahlawan, ada pengkhianat. Ada pihak benar, ada...

Next Post
Jenazah Korban ATR 42-500 Dievakuasi dari Jurang Maros-Pangkep

Jenazah Korban ATR 42-500 Dievakuasi dari Jurang Maros-Pangkep

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id