Tabooo.id: Talk – Coba jujur sebentar kapan terakhir kali tenggorokan kamu perih, lalu kamu menyalahkan AC kantor yang “kurang ajar”? Atau kamu nuduh es krim semalam sebagai biang keladi? Padahal ada satu tersangka lain yang kamu seruput setiap hari kadang tiga kali saat hidup sehat, kadang lima kali kalau hidup lagi chaos kopi.
Iya, kopi. Minuman yang statusnya sudah mirip toxic relationship kasih semangat, tapi kalau kamu kebablasan, tubuhmu protes diam-diam.
Sebelum kamu bilang, “Ah lebay, masa kopi bikin radang?”, mari kita bahas pelan-pelan. Santai, sambil menahan ego yang kadang suka ngegas.
Kopinya Salah atau Orangnya yang Nggak Tahu Batas?
Hampir semua orang pernah merasakan radang tenggorokan. Sakit, seret, dan nelan ludah pun terasa menyiksa. Penyebab utamanya biasanya virus flu. Kadang bakteri streptokokus ikut hadir dan dokter terpaksa menurunkan antibiotik.
Namun ada satu faktor tambahan yang sering kita abaikan pola minum kopi yang barbar.
Menurut ahli THT, Rachna Mehta Shroff, kafein bersifat diuretik. Artinya, tubuh bisa “mengering halus.” Ketika kamu menenggak kopi berlebihan, dampaknya bukan cuma deg-degan, tetapi juga tenggorokan yang makin kering dan mudah iritasi.
Belum cukup sampai di situ. Kopi dapat memperparah asam lambung. Saat asam itu naik, kerongkongan langsung protes dengan sensasi panas yang jauh dari romantis.
Meski begitu, kita tetap minum. Kenapa? Karena kopi itu enak, aesthetic, dan membuat kita merasa fungsional. Sesederhana itu.
Yang Bermasalah: Pola Minum, Bukan Kopinya
Bayangkan rutinitas banyak orang. Bangun tidur, mata masih buram, tangan langsung meraih gelas kopi.
Perutmu sebenarnya baru melewati sembilan jam tidur tanpa asupan apa pun. Tubuh masih sensitif, lalu kamu kirimi kafein? Wajar kalau dia marah.
Lanjut ke siang hari. Meeting bikin ngantuk, jadi kamu menyeruput kopi lagi. Sore, teman ngajak ngopi, kamu ikut. Malam, deadline menunggu, akhirnya kopi lagi.
Air putih? “Nanti aja.”
Akibatnya mulai muncul tenggorokan perih, suara serak seolah habis karaoke, lalu asam lambung naik tanpa permisi. Dan kita terkejut, padahal penyebabnya jelas: pola minumnya sendiri.
Makanya Rachna menyarankan beberapa hal. Minum air dulu sebelum kopi. Jangan seruput saat perut kosong. Hindari minum tiap dua jam seolah hidup cuma punya dua opsi: kopi atau mati.
Tapi… Masa Kopinya Disalahin? Ada Sisi Lain
Mari sedikit fair. Kopi bukan penjahat utama. Para pecinta kopi boleh tarik napas.
Manfaatnya jelas meningkatkan fokus, memperbaiki mood, serta menambah produktivitas. Banyak studi juga menunjukkan konsumsi kafein dalam batas aman sekitar 400 mg per hari masih oke.
Selain itu, tidak semua orang mengalami radang setelah minum kopi. Ada orang-orang berperut baja yang minum espresso jam 10 malam dan tidur damai lima menit kemudian. Kita nggak tahu spesies apa mereka, tapi mereka eksis.
Dengan begitu, pernyataan “kopi bikin radang” tidak berlaku untuk semua orang.
Yang lebih tepat pola konsumsi kitalah yang bikin masalah. Apalagi kalau kopinya penuh gula, creamy, dan diminum saat tubuh kurang istirahat. Budaya FOMO ngopi pun ikut berkontribusi karena kita merasa “kurang lengkap” kalau belum beli latte harian.
Menyalahkan kopi sepenuhnya sama seperti menyalahkan sendok karena bikin gemuk. Nggak masuk akal.
Relasi dengan Kopi yang Perlu Direm
Jujur saja, banyak dari kita minum kopi bukan karena benar-benar butuh. Kita melakukannya karena kebiasaan sosial.
Sering kali tubuh tidak minta apa pun. Namun budaya kerja menuntut kita tampil “on” sepanjang hari.
Kopi lalu berubah menjadi identitas. “Aku anak kopi.” “Aku cold-brew person.” “Aku nggak bisa hidup tanpa kopi.” Lucu memang, tapi di balik itu ada ketergantungan yang kita bungkus sebagai gaya hidup.
Padahal tubuh punya batas. Tenggorokan kering, suara serak, dan lambung kasar bukan tanda hidupmu menyerangmu. Itu tanda tubuh ingin istirahat.
Dan minum air sebelum kopi tidak membuatmu berhenti jadi “anak kopi.”
Jadi, Kamu Masih di Kubu Mana?
Kopi itu nikmat. Kopi itu budaya. Tapi tubuhmu bukan mesin espresso yang bisa bekerja terus-menerus.
Kalau kamu sadar tenggorokan gampang radang, suara cepat serak, atau asam lambung suka drama, mungkin sudah waktunya mendengar tubuh sendiri dulu sebelum mendengar panggilan aroma beans.
Bukan berhenti minum kopi, tapi memperbaiki caranya.
Lalu sekarang, kamu di kubu mana? Kubu “kopi nggak salah, pola gue yang semrawut” atau Kubu “hidup butuh kafein dan kita harus menerimanya” Ayo debat santai. @teguh





