Tabooo.id: Regional – Ribuan warga memadati Loji Gandrung, Surakarta, Rabu (5/11/2025), untuk melepas kepergian Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tangis, doa, dan gegap gempita iring-iringan kereta kuda jadi saksi akhir perjalanan seorang raja yang menutup bab panjang sejarah Mataram.
Presiden ke-7 RI Joko Widodo hadir di tengah prosesi, mengenakan batik cokelat tua dan peci hitam. Wajahnya tampak sendu saat berdiri di barisan depan bersama Wali Kota Surakarta Respati Ardi. Dari sudut jalan, masyarakat menunduk hormat ketika delapan kereta kuda membawa peti jenazah PB XIII melintas pelan.

Sepanjang di Jalan yang di lalui Kereta Jenazah PB XIII Tampak Ribuan warga ikut melepas sang Raja menuju Peristirahatan terakhir
“Pemkot menyiapkan seluruh kebutuhan, dari pengamanan hingga kendaraan pelayat. Kami ingin prosesi berjalan khidmat,” ujar Wali Kota Respati, yang tampil dengan beskap hitam dan blangkon khas Jawa. Ia memastikan seluruh jajaran Satpol PP, Dishub, hingga TNI-Polri siaga menjaga kelancaran acara.
Ambulans Palang Merah Surakarta sudah menunggu di pelataran, bersiap mengantar jenazah ke Pajimatan Imogiri, Bantul makam para raja Mataram. Di sana, PB XIII akan disemayamkan berdampingan dengan leluhur yang selama berabad-abad memayungi budaya Jawa.
Suasana Solo mendadak hening. Sejak pagi, warga dari segala usia memadati jalan, sebagian membawa bunga, sebagian lagi menangkupkan tangan, seolah enggan melepas sang raja. “Rasanya seperti kehilangan orang tua,” tutur Ratri (34), warga Pasar Kliwon, dengan mata berkaca-kaca.
Kepergian PB XIII bukan cuma kabar duka untuk keluarga Keraton. Ini momen penting bagi masyarakat Jawa simbol berakhirnya satu era kepemimpinan budaya yang menjaga nilai-nilai luhur di tengah derasnya modernitas. Di tengah hiruk-pikuk politik dan tren digital, Solo seakan diingatkan: ada akar yang tak boleh dilupakan.
Dari balik barisan kereta kuda dan lautan manusia, sejarah mencatat: raja boleh tiada, tapi marwah budaya tak boleh ikut terkubur.
Mungkin, di tengah dunia yang serba cepat ini, kita justru sedang kehilangan cara untuk berhenti dan memberi hormat. (red)





