Tabooo.id: Nasional – Langit Imogiri terasa berat siang itu. Tepat pukul 12.37 WIB, Rabu (5/11), mobil jenazah putih yang membawa Sri Susuhunan Pakubuwono XIII akhirnya berhenti di kompleks Pemakaman Raja-Raja Pajimatan, Bantul, DIY. Ribuan warga langsung menyambut bukan dengan sorak, tapi dengan diam yang bergetar: Solo kehilangan rajanya, Jawa kehilangan satu penanda sejarahnya.
Jenazah PB XIII dibawa dari Surakarta dengan pengawalan ketat kepolisian. Setibanya di gerbang Pajimatan, prosesi serah terima dilakukan dari perwakilan Keraton Surakarta kepada Bupati Pajimatan, KPH Djoyo Adilogo. Suasana hening, hanya lantunan doa yang terdengar mengiringi momen sakral itu.
“Datang prosesi penyerahan di sini, setelah selesai kita angkat ke Masjid Pajimatan untuk disalatkan. Setelah itu naik ke kompleks Pakubuwono X untuk dimakamkan,” jelas KPH Djoyo Adilogo.
Ia menegaskan tidak ada prosesi khusus lain. “Gak ada yang istimewa, setelah disalatkan langsung dimakamkan. Yang jelas serah terima dari Surakarta di sini, cuma itu,” ujarnya singkat.

Setelah disalatkan Jenazah PBXIII langsung di bawa naik menuju masuk komplek Pakubuwono X
Setelah disalatkan di Masjid Kagungan Dalem Pajimatan, peti jenazah PB XIII ditandu perlahan menanjak menuju kompleks makam raja-raja Mataram. Di sepanjang jalan, pelayat berdesakan untuk ikut “brobosan” tradisi melewati bawah tandu jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Wajah-wajah tua dan muda menunduk. Di antara isak tertahan, terselip rasa bangga telah menjadi bagian dari sejarah yang menutup bab satu kerajaan tua di jantung budaya Jawa. PB XIII wafat pada Minggu (2/11/2025) pukul 07.29 WIB di RS Indriati Solo Baru karena komplikasi penyakit.
Karena ini bukan sekadar kabar duka dari Surakarta. Kepergian PB XIII menandai pergantian era: pergulatan antara tradisi dan modernitas di tanah yang masih berpegang pada tata krama dan warisan leluhur. Di tengah derasnya dunia digital, momen ini jadi pengingat bahwa akar budaya tak bisa diganti dengan algoritma.
Kereta terakhir telah berhenti di Imogiri, tapi gema langkah PB XIII akan terus hidup di hati mereka yang percaya bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang siapa kita hari ini.
Mungkin, di zaman yang serba cepat ini, duka adalah satu-satunya hal yang membuat kita berhenti dan benar-benar mengingat. (red)







