Tabooo.id: Opini – Rabu Legi, 5 November 2025, halaman Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dipenuhi duka, doa, dan sejarah yang berulang. Di tengah prosesi pelepasan jenazah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIII menuju makam raja-raja di Imogiri, Bantul, terdengar suara lantang nan bergetar:
“Ingsun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram… hanglintir kaprabon Dalem minangka Sri Susuhunan Karaton Surakarta Hadiningrat kanthi sesebutan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono kaping Patbelas (XIV).”
Tradisi yang Tidak Membeku
Dalam banyak narasi budaya, regenerasi sering dianggap ancaman bagi kesakralan. Tetapi sejarah selalu membuktikan, tradisi yang abadi adalah tradisi yang mau beradaptasi tanpa kehilangan ruh.
Itulah esensi dari momen ini.
Pengukuhan Pakubuwono XIV, seorang raja muda di era digital, menandai pertemuan antara mistisisme Jawa dan modernitas global.
Keraton bukan lagi sekadar simbol nostalgia atau peninggalan feodal. Dengan kepemimpinan muda, keraton berpotensi menjadi pusat dialog budaya menghubungkan akar nilai Jawa dengan realitas zaman yang penuh algoritma dan kecerdasan buatan.
Raja Muda di Era Digital: Dari Pusaka ke Platform
Zaman berubah. Masyarakat di luar tembok keraton kini menilai seseorang bukan lagi dari garis keturunan, melainkan dari kemampuan berkomunikasi, membangun narasi, dan berkolaborasi.
Seorang raja di era digital harus pandai “nguwongke” memanusiakan jarak antara istana dan rakyat, antara tradisi dan modernitas.
Hamangkunegoro dengan energi muda dan latar pendidikan modern berada di titik temu antara dua kutub besar:
- di satu sisi, ia adalah penjaga pakem dan adat;
- di sisi lain, ia punya peluang menjadi jembatan menuju pembaruan budaya Jawa melalui teknologi, media, dan pendekatan kontemporer.
Bayangkan bila keraton membuka ruang digital untuk mengarsipkan naskah kuno, menyiarkan upacara adat secara daring, atau mengajak generasi muda memahami filosofi Hamemayu Hayuning Bawana lewat konten modern.
Maka, kepemimpinan ini bukan sekadar melanjutkan tahta tetapi menghidupkan kembali roh kebudayaan di dunia maya.
Lintas Generasi: Antara Yang Luhur dan Yang Lincah
Keberadaan raja muda seperti Pakubuwono XIV adalah simbol “lintas generasi” yang sesungguhnya. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menganyam kisah klasik dengan ritme zaman baru.
Jika generasi terdahulu menjaga nilai dengan ketenangan, maka generasi kini menjaga nilai dengan kecepatan dan konektivitas.
Keduanya tak bisa dipertentangkan.
Sebab keluhuran budaya Jawa bukanlah tentang menolak perubahan, melainkan menyucikan niat di tengah perubahan itu sendiri.
Kebijaksanaan leluhur Jawa yang menekankan harmoni dan keseimbangan justru menemukan relevansinya di tengah hiruk pikuk dunia modern yang serba bising dan terpecah.
Kesakralan yang Tidak Retak
Banyak yang khawatir: apakah masuknya generasi muda ke takhta akan mengikis kesakralan?
Jawabannya: tidak, selama roh spiritual tetap menjadi panglima.
Kesakralan bukanlah benda rapuh yang hancur karena disentuh teknologi ia adalah api yang justru bisa menyala lebih terang jika dijaga dengan niat yang tulus dan cara yang cerdas.
Ikrar di tengah prosesi duka itu mengandung lapisan makna yang dalam.
Bukan hanya tentang pewarisan darah, tetapi pewarisan visi.
Ketika Hamangkunegoro mengucapkan sumpahnya di hadapan jenazah ayahandanya, seolah sejarah berkata:
“Kini saatnya masa lalu beristirahat, dan masa depan mengambil peran.”
Rabu Legi, 5 November 2025, menandai bukan hanya hari ketika PB XIII dilepaskan menuju peristirahatan terakhirnya di Imogiri, tetapi juga lahirnya era baru kepemimpinan Surakarta era ketika darah muda memegang kendali, namun nilai-nilai tua tetap menjadi kompas arah.
Keraton Surakarta kini punya kesempatan emas: menjadi panggung pertemuan dua dunia yang sakral dan yang digital.
Dan bila berhasil, maka Hamangkunegoro bukan sekadar raja penerus tahta, melainkan arsitek peradaban baru, di mana budaya Jawa tak hanya dikenang, tapi dihidupkan kembali dengan cara yang tak pernah dibayangkan para leluhur. (Sig)





