Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Bupati Menantang Rakyat, tapi Rakyat yang Kena Pasal

by sigit
November 11, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Di Pati, panas bukan cuma dari cabe, tapi dari ego pejabat yang kebal kritik. Rakyat menjerit soal pajak disebut “menghasut,”
sementara pejabat menantang rakyat dianggap “tegas.” Negeri ini seolah punya kamus sendiri di mana adil tergantung siapa yang duduk di kursi empuk.
Dan di tanah subur ini, yang paling cepat tumbuh bukan padi… tapi ketimpangan.


Komedi Situasi Negeri Absurd

Bayangin: ada dua orang. Satu teriak di jalan, “Rakyat lapar, pajak naik, hidup makin seret!”
Satunya lagi duduk di kursi empuk, ngopi di kantor ber-AC sambil ngetik status, “Saya tantang rakyat, kalau berani, tunjukkan kekuatanmu!”
Nah, plot twist-nya?
Yang pertama ditangkap, yang kedua dilindungi.
Selamat datang di Negeri Logika Terbalik, di mana kalau kamu miskin dan marah, kamu “provokator”; kalau kamu kaya dan sombong, kamu “visioner.”


Kronologi Singkat Dunia Nyata

Tujuh anggota Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) masih mendekam di Polda Jawa Tengah.
Empat orang ditahan karena aksi 13 Agustus, tiga lainnya karena blokir Jalan Pantura 31 Oktober 2025.
Dua di antaranya  Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto  disebut sebagai pentolan gerakan.
Mereka dianggap “menghasut” dan “mengganggu ketertiban.”
Padahal yang dihasut cuma kesadaran rakyat bahwa hidup mereka sedang dikuras pajak.
Sementara, di sisi lain, seorang Bupati dari partai penguasa yang katanya dipanggil KPK, masih bisa senyum di podium, melambaikan tangan seperti idol K-Pop, tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Realitas yang Lebih Lucu dari Sitkom

Lucunya, negara ini kayak punya dua versi hukum:

  • Hukum versi rakyat: cepat, tegas, dan siap jemput paksa.
  • Hukum versi penguasa: santai, penuh pertimbangan, dan entah kenapa selalu “masih dikaji.”

Bupati yang sempat menantang rakyat dengan gaya “ayo, keluarkan kekuatanmu!” kayak lagi open challenge di TikTok. Tapi begitu rakyat menjawab tantangan itu dengan aksi, tiba-tiba muncul babak baru: “Anda kami amankan atas dugaan provokasi.”
Jadi, rakyat itu boleh marah asal diam. Boleh protes asal tidak terdengar. Boleh menuntut asal pakai caption “parodi.”

Ini Belum Selesai

Air Keras untuk Kritik: Demokrasi Sedang Sakit?

Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabil atau Berbahaya?

Dan ketika masyarakat mulai sadar bahwa hukum bisa jadi alat politik, bukan pelindung publik, kita tahu negeri ini bukan cuma sedang lucu tapi sedang menulis naskah tragedi dengan selera humor yang gelap banget.


Ironi Publik

Kalau rakyat dituduh menghasut karena bicara soal ketidakadilan,
sementara pejabat bisa menantang rakyat dan tetap dielu-elukan,
mungkin kita memang hidup di versi beta dari demokrasi masih banyak bug, tapi update-nya gak pernah datang.

Jadi, kalau mereka terus membangunkan macan tidur, jangan kaget kalau suatu saat macannya gak cuma bangun… tapi lapar. (Sigit)

Tags: pahlawanPatirakyat

Kamu Melewatkan Ini

Pelarian Kiai Pati Berakhir di Wonogiri: Jejak Kabur yang Terhenti Dini Hari

Pelarian Kiai Pati Berakhir di Wonogiri: Jejak Kabur yang Terhenti Dini Hari

by dimas
Mei 7, 2026

Pelarian seorang kiai di Pati tidak terjadi dalam satu malam. Sebaliknya, ia lahir dari rangkaian proses panjang yang dimulai dari...

Satu Laporan ke Puluhan Korban: Skandal Pesantren Pati yang Belum Tuntas

Satu Laporan ke Puluhan Korban: Skandal Pesantren Pati yang Belum Tuntas

by teguh
Mei 1, 2026

Kasus dugaan kekerasan seksual di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati belum juga menemukan titik terang. Laporan yang muncul sejak...

Saat Negara Butuh Dana, Bank Digital Pilih Jalan Sendiri

Saat Negara Butuh Dana, Bank Digital Pilih Jalan Sendiri

by teguh
April 28, 2026

Saat pemerintah mendorong bank membiayai rumah rakyat, makan gratis, dan koperasi desa, sebagian bank digital justru mengambil rute lain. Mereka...

Next Post
Generasi Stroberi di Era Digital: Luka Tak Terlihat di Balik Senyum Layar

Generasi Stroberi di Era Digital: Luka Tak Terlihat di Balik Senyum Layar

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id