Tabooo.id: Life – Malam turun pelan di Kampung Grogol. Lampu-lampu sederhana menggantung di antara pepohonan dan memantulkan cahaya kekuningan ke tanah yang lembap. Di dekat Sumur Wali, orang-orang duduk bersila. Anak-anak bergerak lincah di antara lingkaran, ibu-ibu berbincang pelan, seniman berambut gondrong menyiapkan alat musik, dan aktivis lingkungan menenteng tote bag lusuh mereka. Udara membawa bau tanah basah yang bercampur asap kopi hitam dan bunyi alat musik yang belum sepenuhnya selaras. Di tengah suasana itu, seseorang berbisik lirih, seolah berbicara langsung kepada air: akhirnya kamu pulang juga.
Festival Sumur Wali 3 hadir bukan sebagai perayaan biasa. Selama tiga hari, dari Jumat hingga Minggu, warga membangun ritual bersama untuk mengikat kembali hubungan mereka dengan mata air yang pernah hilang. Warga meyakini Sumur Wali sebagai peninggalan wali pada masa awal penyebaran Islam. Karena itu, mereka memandang sumur ini bukan sekadar lubang di tanah, melainkan simpul sejarah, spiritualitas, dan ekologi yang saling terhubung. Airnya menyimpan kisah asal-usul, cerita babat alas, serta jejak manusia pertama yang menetap dan menaruh harapan di tanah Grogol.
Adat yang Menjaga Kehidupan
“Biasanya mata air dikaitkan dengan cikal bakal manusia dan masyarakat,” ujar Teni Ardian, penggagas festival, pada suatu malam. Ia menegaskan bahwa adat bekerja sebagai penjaga alam. “Dengan berjalannya adat, lingkungan pendukung adat akan terjaga kelestariannya.” Kalimat itu melayang di udara seperti doa yang sederhana, tetapi keras kepala. Di Grogol, warga tidak memosisikan adat sebagai nostalgia. Mereka menjadikannya strategi bertahan hidup.
Sementara itu, kota-kota yang tumbuh cepat terus menekan mata air. Berbagai kajian lingkungan menunjukkan bahwa alih fungsi lahan dan pembangunan masif menyebabkan penurunan debit air tanah di banyak wilayah perkotaan Jawa. Grogol tidak luput dari tekanan itu. Sumur Wali sempat mengering, menghadirkan ironi yang menyakitkan: sumber kehidupan kehilangan hidupnya sendiri. Di tengah geliat properti dan jalan yang terus melebar, air tidak memilih pergi dengan sukarela. Pembangunan memaksanya menyingkir.
Namun, kebangkitan Sumur Wali tidak lahir dari proyek besar atau papan nama bersponsor. Warga merawatnya melalui kerja-kerja kecil yang sabar. Mereka menanam pohon, merawat tanah, dan membangun gotong royong lintas generasi. Karang taruna, sesepuh desa, komunitas Latar Kalitan, dan warga biasa menanam harapan dengan tangan sendiri. Mereka menunggu tanpa tergesa. Hingga suatu hari, air kembali mengalir. Mula-mula tipis, lalu stabil. Air itu mengalir seperti kepercayaan yang diuji dan menolak menyerah.
Festival sebagai Bahasa Perlawanan
Festival Sumur Wali lahir dari momen tersebut. Warga merayakan keyakinan bahwa perjuangan tidak selalu sia-sia. Alam, ketika manusia memperlakukannya sebagai subjek alih-alih objek, mampu menjawab. Karena itu, warga mendirikan panggung seni, menggelar diskusi, menanam pohon, dan membacakan puisi. Grunge Ane Soeroto, Daun Hijau, Rewocakso, hingga drumblek D’Gsper memukul ritme kampung dengan energi kolektif. Wayang Kampung Sebelah hadir di antara tawa dan sindiran. Reog, rebana, dan musikalisasi puisi menyampaikan pesan yang sama: jaga yang menjaga kita.
Meski festival berlangsung meriah, ia tetap menyimpan paradoks. Festival ini memang perayaan, tetapi juga pengingat luka. Ia hadir karena kehilangan pernah terjadi. Ia muncul karena pembangunan sering datang tanpa mendengar suara warga. Ironisnya, pelestarian kerap harus dibungkus acara agar terdengar. Alam baru mendapat perhatian saat nyaris mati, sementara adat baru dirayakan ketika hampir dilupakan. Kita hidup di zaman ketika air harus dipentaskan agar dianggap penting.
Diskusi bertema Peran Budaya dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan membuka ruang kegelisahan tersebut. Budayawan, petani, dan pakar lingkungan duduk sejajar dan membongkar satu pertanyaan besar: mengapa manusia memisahkan budaya dari alam, seolah keduanya tidak pernah menjadi satu tubuh? Mujab dari Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah mengingatkan bahwa pengetahuan lokal sering bertahan lebih lama daripada kebijakan yang terus berganti.
Sikap Tabooo: Melawan Tanpa Berisik
Tabooo memandang Festival Sumur Wali sebagai bentuk perlawanan yang lembut, tetapi konsisten. Festival ini tidak berteriak dan tidak memaki, namun juga tidak tunduk. Ia menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus heroik. Upaya itu bisa terasa banal, komunal, dan menyenangkan. Anak-anak berlari dengan tangan penuh tanah. Ibu-ibu tertawa sambil menyiapkan konsumsi. Seniman tampil tanpa mengejar honor besar. Di ruang ini, keberlanjutan tidak berhenti sebagai jargon. Ia hidup sebagai praktik sehari-hari.
Menakar Ulang Arti Kemajuan
Di titik inilah provokasi festival bekerja. Festival Sumur Wali mempertanyakan ulang definisi kemajuan. Apakah kota maju adalah kota yang menutup mata air demi parkiran? Ataukah kota yang berani berhenti sejenak, menunduk, dan mendengarkan suara air dari dalam tanah? Sumur Wali menyampaikan kritik tanpa spanduk. Ia menegaskan bahwa spiritualitas dan ekologi bukan urusan masa lalu, melainkan kebutuhan hari ini.
Pada malam terakhir, musik pelan mengiringi orang-orang yang masih enggan pulang. Sumur itu tetap diam, tetapi tidak bisu. Airnya memantulkan cahaya seperti mata yang terbuka. Orang mungkin melupakan nama band atau judul diskusi. Namun, semoga mereka mengingat satu hal: air kembali karena ada yang setia merawat, bukan karena ada yang berkuasa.
Kini, pertanyaan itu mengalir kepada kita. Setelah festival usai dan lampu dipadamkan, apakah kita masih akan menjaga sumur-sumur lain yang tidak memiliki panggung? Ataukah kita hanya pandai merayakan, tetapi lupa merawat?
Sumur Wali telah pulang. Tinggal kita apakah siap tinggal bersamanya. (red)





