Selasa, April 28, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Kuota Komodo Dikaji Ulang, Daerah: Jangan Kami Cuma Jadi Penonton

by teguh
April 25, 2026
in Nasional, News
A A
Home News Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Taman Nasional Komodo kembali jadi panggung tarik-ulur kebijakan. Saat pemerintah pusat mewacanakan kajian ulang kuota pengunjung, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi memberi pesan tegas: jangan putuskan nasib daerah tanpa melibatkan daerah.
Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto bersama anggota komisi dan Wakil Kementerian Kehutanan Rohmat Marzuki di Labuan Bajo, Jumat (24/04/2026) hingga Sabtu (25/04/2026). Isunya sederhana, tapi dampaknya besar: siapa yang berhak mengatur surga wisata bernama Komodo?
“Mesti ada rapat bersama karena kalau hanya Kementerian Kehutanan, tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Edistasius Endi. Kalimat itu terdengar administratif. Tapi maknanya jauh lebih dalam. Ini bukan sekadar soal kuota wisatawan. Ini soal relasi pusat dan daerah yang sering timpang.

Tabooo.id: Nasional – Edi menilai kebijakan kuota tak bisa berdiri di satu meja kementerian. Menurutnya, Taman Nasional Komodo bersinggungan dengan banyak sektor kehutanan, lingkungan hidup, transportasi, kelautan, hingga pariwisata.

“Kementerian Kehutanan menetapkan terkait dengan yang namanya kuota, tapi ingat pintu masuknya tetap di Kementerian Perhubungan,” ujarnya.

Artinya jelas ekologi penting, tapi mobilitas wisatawan, ekonomi warga, dan tata kelola daerah juga sama pentingnya.

Pakar kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Djohermansyah Djohan, pernah menegaskan dalam diskusi desentralisasi pada 12/08/2024 bahwa pengelolaan destinasi nasional akan timpang bila pemerintah daerah hanya menjadi pelaksana, bukan pengambil keputusan.

Labuan Bajo Tak Mau Jadi Halaman Belakang

Selain soal kuota, Edi juga mengusulkan agar Pemkab Manggarai Barat dilibatkan dalam pengembangan destinasi alternatif di luar kawasan utama Komodo. Tujuannya agar wisatawan tak menumpuk di satu titik.

“Spot-spot yang belum dikelola karena keterbatasan sarana itu masih sangat banyak dan lebih indah dari yang ada ini,” katanya.

Pesan ini penting. Selama ini, banyak destinasi hidup dari satu ikon besar, lalu kawasan sekitar hanya jadi penonton ekonomi.

Ini Belum Selesai

Kecelakaan Kereta Api di Bekasi, Gerbong Wanita Ringsek

Harga PS5 Terbaru 2026: Tembus Rp11 Juta

Sosiolog pariwisata Universitas Indonesia, Dr. Imam Prasodjo, dalam seminar pariwisata berkelanjutan 18/11/2025 menyebut, “Destinasi yang sehat bukan yang ramai di satu titik, tetapi yang manfaat ekonominya menyebar.”

Rp100 Miliar Masuk, Daerah Dapat Nol?

Bagian paling tajam dari pernyataan Edi muncul saat membahas pendapatan kunjungan wisata. Menurutnya, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari kawasan Taman Nasional Komodo tahun lalu menembus lebih dari Rp100 miliar. Namun daerah merasa tak menikmati hasilnya.

“Kita tidak dapat apa-apa, bu. Nol bahkan buntung,” kata Edi.

Kalimat itu keras karena lahir dari realitas lama daerah menanggung beban infrastruktur, sampah, lalu lintas, kebutuhan air, dan tekanan sosial, tetapi hasil finansial mengalir ke pusat.

Budayawan Nusa Tenggara Timur, Frans Bapa Tokan, dalam forum kebudayaan Kupang, 07/01/2026, menyebut model seperti ini berisiko melahirkan “pariwisata kolonial baru”, ketika wilayah indah dijual, tetapi masyarakat lokal hanya kebagian debu.

DPR Janji Bahas

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto merespons keluhan itu dan menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke pembahasan dengan pemerintah pusat.

“Karena ini daerah pariwisata yang penting. Turisnya bisa banyak, devisa negaranya lebih banyak masuk. Pemerintah daerah harus kebagian,” ujar Titiek.

Pernyataan itu terdengar menjanjikan. Tapi publik tentu menunggu satu hal apakah ini akan berhenti sebagai kunjungan kerja, atau berubah menjadi kebijakan nyata?

Tabooo Take

Komodo bukan cuma kadal purba. Ia adalah simbol Indonesia di mata dunia. Namun ironi muncul saat ikon nasional menghasilkan uang besar, sementara daerah asal merasa kosong tangan.

Kalau pusat mengatur sendiri, daerah marah. Kalau daerah dilepas sendiri, konservasi bisa kacau. Maka jalan tengahnya jelas kolaborasi nyata, bukan rapat formalitas.

Sebab menjaga Komodo bukan cuma menyelamatkan satwa langka. Ini juga soal memastikan warga sekitar tidak ikut punah secara ekonomi. @teguh

Tags: BudayawanDaerahDestinasiekologiKementerian KehutananKomisi IV DPR RIKomodoKuotaLabuan BajoNusa Tenggara TimurPakarPNBPSosiologTaman Nasional Komodo

Kamu Melewatkan Ini

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

by teguh
April 27, 2026

Aceh pernah membuat Belanda frustrasi. Meriam gagal, peluru mentok, kapal perang kelelahan. Namun kemudian penjajah memilih cara yang lebih licik...

Meriam, Peluru Gagal, Pengetahuan Dikirim: Cara Aceh Dirobohkan dari Dalam

Meriam, Peluru Gagal, Pengetahuan Dikirim: Cara Aceh Dirobohkan dari Dalam

by teguh
April 27, 2026

Aceh, 1873–1904. Ketika meriam, kapal perang, dan ribuan serdadu gagal menundukkan tanah rencong, Belanda segera mengubah strategi. Mereka tak lagi...

Dulu Pakai Keris, Sekarang Pakai Jabatan

Dulu Pakai Keris, Sekarang Pakai Jabatan

by teguh
April 27, 2026

Dulu orang datang membawa keris, pasukan, dan cap kerajaan. Kini banyak orang cukup membawa jabatan, akses, dan ego. Wajahnya berubah,...

Next Post
Komodo Dijaga Negara, Tapi Siapa Menjaga Warga Sekitarnya?

Komodo Dijaga Negara, Tapi Siapa Menjaga Warga Sekitarnya?

Pilihan Tabooo

Dari Layar ke Realita: Film”Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

April 22, 2026

Realita Hari Ini

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

April 27, 2026

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

April 27, 2026

Prabowo Dikabarkan Rombak Kabinet Hari Ini, Siapa Kehilangan Kursi?

April 27, 2026

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

April 27, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id