Tragedi di Labuan Bajo menewaskan dua wisatawan Austria setelah jembatan lapuk di Cunca Wulang jebol. Kasus ini memicu sorotan terhadap standar keselamatan wisata.
Tabooo.id: Labuan Bajo – Air Sungai Cunca Wulang mengalir tenang pada Minggu (24/5/2026). Tebing batu berdiri kokoh. Wisatawan datang untuk menikmati salah satu destinasi alam paling terkenal di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Namun siang itu, suasana berubah dalam hitungan detik.
Dua wisatawan asal Austria, J (55) dan A (57), jatuh dari jembatan gantung setelah papan kayu yang mereka pijak patah. Keduanya terjun ke dasar sungai dari ketinggian sekitar 10 hingga 20 meter. Tim evakuasi kemudian menemukan mereka dalam kondisi meninggal dunia.
Peristiwa itu mengguncang Labuan Bajo. Namun tragedi ini tidak hanya berbicara tentang sebuah kecelakaan. Tragedi ini membuka pertanyaan besar tentang keselamatan di destinasi wisata yang selama ini dipromosikan sebagai kawasan superprioritas nasional.
Peringatan yang Sudah Lama Muncul
Jembatan gantung Cunca Wulang berdiri sejak 2019. Pengelola melakukan rehabilitasi terakhir pada 2023. Setelah itu, kondisi jembatan terus menurun.
Seorang pemandu wisata mengaku sering melihat papan kayu yang mulai rapuh. Ia bahkan memilih tidak membawa wisatawan ke lokasi tersebut karena khawatir terjadi kecelakaan.
“Kalau ada turis yang minta saya antar ke sana, saya tidak rekomendasikan. Saya takut terjadi sesuatu yang membahayakan mereka,” katanya.
Menurutnya, banyak bagian jembatan menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Namun pengelola tidak segera mengganti papan yang sudah lapuk.
Yang lebih mengkhawatirkan, pengelola juga tidak memasang tanda peringatan yang jelas di sekitar area jembatan. Wisatawan tetap melintas setiap hari tanpa mengetahui risiko yang mengintai.
Tiket Terjual, Keselamatan Dipertanyakan
Objek wisata Cunca Wulang tetap beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 Wita.
Setiap wisatawan yang datang wajib membeli tiket masuk. Wisatawan mancanegara membayar Rp50.000 per orang. Sementara itu, wisatawan domestik membayar Rp30.000 per orang.
Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat menerima sebagian pendapatan tersebut. Pemerintah desa setempat menerima bagian lainnya.
Data tahun 2026 menunjukkan bahwa objek wisata ini telah menyumbang sekitar Rp260 juta untuk pendapatan daerah.
Fakta itu memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari. Jika pendapatan terus mengalir, mengapa perawatan fasilitas keselamatan justru tertinggal?
Keselamatan bukan fasilitas tambahan. Keselamatan merupakan kebutuhan dasar dalam setiap destinasi wisata.
Penyelidikan dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat, Petrus Antonius Rasyid, mengatakan pemerintah sedang melakukan evaluasi.
Pemerintah kini mengidentifikasi titik rawan dan menyiapkan tanda larangan di sejumlah lokasi berisiko.
Namun hingga kini, publik belum memperoleh penjelasan rinci mengenai jadwal pemeliharaan rutin jembatan tersebut.
Sementara itu, Polres Manggarai Barat terus menyelidiki kasus ini. Penyidik telah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti dari lokasi kejadian.
Polisi juga mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam pengelolaan fasilitas wisata tersebut.
Labuan Bajo dan Masalah yang Berulang
Tragedi Cunca Wulang bukan kejadian tunggal.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kecelakaan wisata terjadi di kawasan Labuan Bajo. Sebagian terjadi di laut. Sebagian lainnya terjadi di lokasi wisata darat.
Pada akhir 2025, kecelakaan laut menimpa satu keluarga wisatawan asal Spanyol. Insiden itu menyebabkan dua korban meninggal dunia dan satu korban lainnya hilang.
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan pola yang sama. Promosi wisata berkembang cepat, tetapi pengawasan keselamatan belum menunjukkan kecepatan yang setara.
Labuan Bajo memang berhasil menarik perhatian dunia. Infrastruktur baru bermunculan. Jumlah wisatawan terus meningkat. Namun keberhasilan itu akan kehilangan makna jika keselamatan pengunjung tidak menjadi prioritas utama.
Destinasi Kelas Dunia Harus Punya Standar Kelas Dunia
Pemerintah sering menyebut Labuan Bajo sebagai destinasi superprioritas. Sebutan itu seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fisik atau angka kunjungan wisatawan.
Destinasi kelas dunia harus memiliki standar keselamatan kelas dunia.
Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati pemandangan. Mereka juga mempercayakan keselamatan mereka kepada pengelola dan pemerintah.
Tragedi Cunca Wulang menjadi pengingat yang menyakitkan tentang tanggung jawab tersebut.
Kini garis polisi membentang di sekitar jembatan yang runtuh. Proses penyelidikan masih berjalan. Keluarga korban masih menunggu kepastian.
Namun satu pertanyaan tetap menggantung di atas Cunca Wulang berapa banyak tragedi yang harus terjadi sebelum keselamatan benar-benar menjadi prioritas, bukan sekadar janji dalam brosur pariwisata? @dimas







