Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Konflik Timur Tengah: Perang Fisik atau Benturan Energi?

by Tabooo
Mei 28, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Konflik Timur Tengah kembali memanas. Iran melontarkan ancaman. Israel tetap melakukan operasi militer.

Namun di balik dinamika itu, ada perspektif yang jarang disentuh media arus utama. Perspektif yang tidak berbicara tentang strategi militer, tetapi tentang struktur energi dan kesadaran manusia.

Menurut Wartonagoro, Komisaris Utama PT Tabooo Network Indonesia sekaligus Pakar Metafisika dan Spiritualis, konflik ini tidak bisa dipahami hanya dari sisi geopolitik.

“Kalau kita hanya melihat perang dari sisi fisik, kita hanya melihat permukaan. Padahal setiap konflik besar selalu punya lapisan energi yang lebih dalam,” ujarnya, Kamis (09/04/2026).

Konflik Tidak Dimulai dari Senjata

KPA Hari menjelaskan bahwa perang bukanlah titik awal, melainkan titik manifestasi. Ia melihat konflik sebagai “output” dari proses panjang yang tidak terlihat.

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

“Setiap manusia menyimpan emosi, takut, marah, trauma, bahkan dendam yang tidak selesai. Energi itu tidak hilang. Ia menumpuk dan membentuk pola,” lanjut pendiri Indonesian Center for Esoterics and Metaphysical Studies (ICEMS) itu.

Namun, energi tersebut tidak berhenti di level individu. Ia saling terhubung dan membentuk kesadaran kolektif.

“Ketika jutaan orang menyimpan frekuensi yang sama, maka ia akan mencari jalan untuk terekspresi. Dan salah satu bentuknya adalah konflik,” tambahnya.

Timur Tengah: Titik Akumulasi Energi Peradaban

Dalam pandangan Wartonagoro, Timur Tengah bukan sekadar wilayah strategis. Ia adalah titik pertemuan sejarah, keyakinan, dan identitas manusia selama ribuan tahun.

“Di wilayah ini, bukan hanya tanah yang diperebutkan. Tapi makna, kepercayaan, dan identitas. Itu membuat energinya jauh lebih kompleks,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa konflik di kawasan ini tidak pernah benar-benar baru. Setiap konflik di Timur Tengah selalu membawa jejak masa lalu.

“Energi konflik itu diwariskan. Bukan hanya melalui sejarah, tapi juga melalui memori kolektif yang terus hidup di bawah sadar masyarakat,” jelas KPA Hari lebih lanjut.

Akibatnya, setiap konflik baru sering kali hanya mengulang pola lama dengan bentuk berbeda.

Gencatan Senjata Tidak Menyentuh Akar

Secara politik, gencatan senjata sering dianggap sebagai solusi. Namun menurut Wartonagoro, pendekatan ini hanya menyentuh permukaan.

“Gencatan senjata itu menghentikan aksi, tapi tidak menyelesaikan frekuensi. Selama frekuensinya sama, konflik akan muncul lagi,” tegas kerabat Kraton Surakarta tersebut.

Ia melihat gencatan sebagai bentuk “pause”, bukan “resolution”.

“Banyak orang merasa damai sudah tercapai. Padahal sebenarnya hanya jeda. Dan jeda itu bisa berakhir kapan saja,” imbuhnya.

Ironisnya, dunia terus mengulang pola yang sama. Menyelesaikan konflik dari luar, tanpa menyentuh sumber di dalam.

Manusia Bukan Penonton

Lebih lanjut, Wartonagoro juga menyoroti peran manusia global dalam konflik ini. Ia menolak anggapan bahwa masyarakat hanya menjadi penonton.

“Kita semua terlibat. Bukan secara fisik, tapi secara energi. Setiap reaksi emosional kita ikut memberi ‘bahan bakar’ pada konflik,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konsumsi berita tanpa kesadaran bisa memperkuat pola konflik.

“Ketika kamu marah, takut, atau benci saat melihat berita, kamu sebenarnya sedang memperkuat frekuensi yang sama dengan konflik itu,” katanya.

Namun, kebanyakan orang tidak menyadari hal ini. Mereka merasa hanya sekadar mengikuti informasi.

Dualitas yang Tidak Pernah Selesai

Dalam analisisnya,Wartonagoro melihat akar konflik juga berasal dari cara manusia memandang dunia.

“Selama manusia masih terjebak dalam dualitas, benar dan salah, kami dan mereka, maka konflik akan terus berulang,” jelasnya.

Ia menilai bahwa pendekatan ini membuat manusia terus mencari pihak untuk dilawan. Bukan untuk dipahami.

“Selama kita butuh musuh untuk merasa benar, maka konflik tidak akan pernah benar-benar selesai,” tambahnya.

Pola Energi yang Terus Berulang

Konflik Timur Tengah bukan sekadar perang antar negara. Ini pola energi yang terus berulang karena tidak pernah diselesaikan. Sedangkan kita sibuk mencari siapa yang salah, tapi jarang bertanya kenapa pola ini terus terjadi.

Menurut Wartonagoro, setiap emosi yang kamu rasakan saat melihat konflik bukan sekadar reaksi. Ia adalah kontribusi energi.

Kamu mungkin tidak berada di medan perang. Namun, kamu tetap menjadi bagian dari sistem yang membentuknya.

Dunia modern percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan sistem. Sedangkan konflik manusia tidak selalu rasional. Ia emosional, historis, dan kolektif. Dan, selama manusia hanya memperbaiki “gejala”, akar konflik akan terus hidup.

Kalau perang dimulai dari kesadaran, maka pertanyaan yang sebenarnya bukan tentang mereka. Tapi tentang kita, kita benar-benar ingin damai… atau hanya ingin merasa benar? @tabooo

Tags: gencatan senjataGeopolitik Globalkonflik Timur Tengahkrisis timur tengahTabooo Talk

Kamu Melewatkan Ini

Dulu Disebut Perjuangan, Sekarang Disebut Provokasi

Dulu Disebut Perjuangan, Sekarang Disebut Provokasi

by Tabooo
Juli 7, 2026

Dulu lagu perjuangan dielu-elukan sebagai nasionalisme. Tapi ketika lagu bicara tentang buruh, tani, mahasiswa, dan kesejahteraan rakyat hari ini, sebagian...

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026

Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya...

Wahyu Keprabon adalah Suara Rakyat, Takhta adalah Dukungan Rakyat

Wahyu Keprabon adalah Suara Rakyat, Takhta adalah Dukungan Rakyat

by Tabooo
Mei 29, 2026

Wahyu Keprabon hari ini tidak bisa lagi hanya dibaca sebagai tanda langit. Dalam demokrasi modern, rakyatlah yang menghidupkan wahyu itu...

Next Post
Nikah Percaya Sekilat Itu: Kenapa Mudah Yakin pada Orang yang Baru Kita Kenal?

Nikah Percaya Sekilat Itu: Kenapa Mudah Yakin pada Orang yang Baru Kita Kenal?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id