Tabooo.id: Life – Senja turun perlahan di tepian Sungai Winongo. Cahaya matahari memantul di permukaan air dan memecah langit menjadi serpihan keemasan. Di rumah yang berdiri tepat menghadap arus itu, Ida tumbuh bersama suara sungai suara yang terus bergerak, kadang lirih, kadang deras, tetapi tak pernah benar-benar diam.
Sejak kecil, Ida tidak hanya melihat sungai sebagai lanskap. Ia menyerap ritmenya. Dari beranda rumahnya di Kelurahan Winongo, Kota Madiun, ia belajar membaca perubahan air seperti membaca puisi ada jeda, ada tekanan, ada kejutan.
“Dari kecil rumah saya depannya sungai. Air naik, surut, itu semua saya alami,” ujarnya.

Pengalaman itu membentuk kepekaan. Ida mengamati bunga liar di bantaran, gerak ikan kecil yang gesit, dan dinamika kehidupan di tepi arus. Karena itulah, ketika ia mulai berkarya, memori tentang sungai selalu muncul lebih dulu daripada motif lain.
Kini sungai itu tidak hanya mengalir di luar rumahnya. Ia mengalir di atas kain batik tulis yang Ida kerjakan dengan tekun. Ia menjelma garis, lengkung, titik, dan warna. Ia berubah menjadi cerita yang bisa dikenakan.
Dari Kata-Kata Menuju Canting
Sebelum menggenggam canting, Ida lebih dulu menggenggam pena. Ayahnya membiasakan ia menulis puisi sejak kecil. Dari kebiasaan itu, ia melatih kepekaan terhadap detail dan suasana. Ia belajar merangkai rasa, lalu mengubahnya menjadi bahasa.
Seiring waktu, ia memperluas medium. Ia melukis. Ia memindahkan imajinasi ke kanvas dan membiarkan warna berbicara. Namun ketika ia aktif mengikuti pameran, ia menghadapi kendala teknis kanvas sulit dibawa dan tidak selalu fleksibel untuk berbagai ruang.
Karena itu, ia mencari medium yang lebih lentur. Ia membutuhkan ruang ekspresi yang tetap luas, tetapi lebih praktis. Akhirnya, ia memilih kain. Sekitar sepuluh tahun lalu, ia mulai membatik dan langsung menemukan ruang kebebasan yang ia cari.
“Saya cenderung ke batik tulis karena saya senang melukis. Kalau batik cap terbatas motifnya, saya tidak bisa bebas,” katanya.
Melalui batik tulis, Ida mengontrol setiap garis. Ia menentukan arah cerita. Ia mengatur komposisi seperti menyusun puisi. Dengan demikian, Tembo Batik lahir bukan dari rencana bisnis yang kaku, melainkan dari kebutuhan artistik yang jujur.
Motif yang Tidak Pernah Kosong
Berbeda dari banyak perajin yang mengikuti pola pasar, Ida justru kembali ke akar memorinya. Ia menggambar tumbuhan bantaran sungai, bunga liar, hewan air, hingga detail kecil yang sering luput dari perhatian. Selain itu, ia juga memasukkan cerita-cerita lama yang hidup di sekitar sungai.
“Kalau batik saya itu larinya ke sungai, ke pernak-perniknya, isinya pinggir-pinggir sungai sama cerita-cerita zaman dulu,” ujarnya.
Ida menolak membuat motif tanpa makna. Ia selalu memulai dengan konsep. Ia menentukan arah sebelum menarik garis pertama.
“Saya nggak asal batik. Saya senang membatik, tapi harus ada tujuannya mau ke mana.” tambahnya.
Karena sikap itu, setiap kain memiliki karakter kuat. Motifnya tidak hanya menghias permukaan, melainkan menyimpan narasi. Dengan kata lain, ia memperlakukan kain seperti halaman buku tempat ia menulis ulang ingatan.
Melawan Arus Tren
Industri kreatif bergerak cepat. Tren datang silih berganti. Banyak pelaku usaha menyesuaikan diri agar tetap relevan. Namun Ida memilih langkah berbeda. Ia tidak mengejar produksi massal. Ia tidak menyusun strategi pemasaran agresif. Sebaliknya, ia memperkuat identitas.
Tembo Batik hadir dalam berbagai bentuk kain batik tulis, syal, blazer, celana, hingga kaos. Meski begitu, Ida tetap menjadikan batik tulis sebagai fondasi utama. Ia menjaga kualitas garis dan detail. Ia memastikan setiap karya membawa cerita.
Selain itu, ia membangun relasi langsung dengan peminat. Pesanan datang secara organik. Orang-orang mengenal karyanya karena cerita, bukan karena iklan besar-besaran.
Pilihan ini memang tidak instan. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Konsistensi membangun kepercayaan. Detail membangun diferensiasi. Sementara itu, proses yang jujur membangun reputasi.
Di ruang kerjanya, Ida juga melibatkan karyawan. Ia berbagi keterampilan dan membuka ruang belajar. Dengan demikian, Tembo Batik tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menumbuhkan ekosistem kecil yang saling menguatkan.
Sungai sebagai Guru Kreatif
Bagi Ida, sungai tidak sekadar latar geografis. Sungai mengajarkan ritme. Ia menunjukkan bahwa kehidupan bergerak dalam siklus: tenang, lalu deras surut, lalu naik kembali. Pola itu kemudian Ida terapkan dalam proses kreatifnya.
Pertama, ia mengamati. Kemudian, ia merenung. Setelah itu, ia menuangkan gagasan ke atas kain. Ia menjalani proses itu berulang-ulang tanpa tergesa.
Dari puisi ke lukisan, lalu ke batik, Ida tidak pernah memutus alur kreativitasnya. Ia hanya memindahkan medium. Karena itu, seluruh perjalanan tersebut terasa menyatu, bukan terpisah.
Dalam setiap karya, ia merekam hubungan manusia dengan alam. Ia mengangkat memori pribadi sekaligus memotret lingkungan tempat ia tumbuh. Alhasil, batiknya tidak hanya tampil indah, tetapi juga memiliki kedalaman makna.
Batiknya tidak berteriak. Ia berbicara pelan, namun tegas.
Ingatan Menjadi Identitas
Kisah Ida membuktikan satu hal: kreativitas tumbuh dari kedekatan dengan lingkungan. Ia tidak menunggu inspirasi jauh. Ia menggali yang dekat. Ia membaca yang akrab. Ia merawat yang pernah ia alami.
Di tengah dunia yang serba cepat, Ida justru memilih ritme yang lebih tenang. Ia fokus pada proses. Ia memperkuat karakter. Ia menjaga arah.
Akhirnya, pertanyaan itu kembali pada kita ketika tren terus berubah dan pasar bergerak tanpa jeda, masihkah kita berani setia pada cerita sendiri?
Sungai di depan rumah Ida terus mengalir. Sementara itu, di atas kain batik tulis, garis-garis halus terus tumbuh. Selama Ida menjaga ingatan dan merawat proses, Tembo Batik akan terus mengalir seperti sungai yang membentuknya sejak awal. @dimas





