Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kisah Ida dan Jejak Sungai dalam Setiap Goresan Batik

by dimas
Februari 13, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Life – Senja turun perlahan di tepian Sungai Winongo. Cahaya matahari memantul di permukaan air dan memecah langit menjadi serpihan keemasan. Di rumah yang berdiri tepat menghadap arus itu, Ida tumbuh bersama suara sungai suara yang terus bergerak, kadang lirih, kadang deras, tetapi tak pernah benar-benar diam.

Sejak kecil, Ida tidak hanya melihat sungai sebagai lanskap. Ia menyerap ritmenya. Dari beranda rumahnya di Kelurahan Winongo, Kota Madiun, ia belajar membaca perubahan air seperti membaca puisi ada jeda, ada tekanan, ada kejutan.

“Dari kecil rumah saya depannya sungai. Air naik, surut, itu semua saya alami,” ujarnya.

Kisah Ida dan Jejak Sungai dalam Setiap Goresan Batik
Koleksi Batik hasil karya ida yang ia lukis dengan teknik batik tulis sebagai wujud perjalanan kreatifnya.

Pengalaman itu membentuk kepekaan. Ida mengamati bunga liar di bantaran, gerak ikan kecil yang gesit, dan dinamika kehidupan di tepi arus. Karena itulah, ketika ia mulai berkarya, memori tentang sungai selalu muncul lebih dulu daripada motif lain.

Kini sungai itu tidak hanya mengalir di luar rumahnya. Ia mengalir di atas kain batik tulis yang Ida kerjakan dengan tekun. Ia menjelma garis, lengkung, titik, dan warna. Ia berubah menjadi cerita yang bisa dikenakan.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Dari Kata-Kata Menuju Canting

Sebelum menggenggam canting, Ida lebih dulu menggenggam pena. Ayahnya membiasakan ia menulis puisi sejak kecil. Dari kebiasaan itu, ia melatih kepekaan terhadap detail dan suasana. Ia belajar merangkai rasa, lalu mengubahnya menjadi bahasa.

Seiring waktu, ia memperluas medium. Ia melukis. Ia memindahkan imajinasi ke kanvas dan membiarkan warna berbicara. Namun ketika ia aktif mengikuti pameran, ia menghadapi kendala teknis kanvas sulit dibawa dan tidak selalu fleksibel untuk berbagai ruang.

Karena itu, ia mencari medium yang lebih lentur. Ia membutuhkan ruang ekspresi yang tetap luas, tetapi lebih praktis. Akhirnya, ia memilih kain. Sekitar sepuluh tahun lalu, ia mulai membatik dan langsung menemukan ruang kebebasan yang ia cari.

“Saya cenderung ke batik tulis karena saya senang melukis. Kalau batik cap terbatas motifnya, saya tidak bisa bebas,” katanya.

Melalui batik tulis, Ida mengontrol setiap garis. Ia menentukan arah cerita. Ia mengatur komposisi seperti menyusun puisi. Dengan demikian, Tembo Batik lahir bukan dari rencana bisnis yang kaku, melainkan dari kebutuhan artistik yang jujur.

Motif yang Tidak Pernah Kosong

Berbeda dari banyak perajin yang mengikuti pola pasar, Ida justru kembali ke akar memorinya. Ia menggambar tumbuhan bantaran sungai, bunga liar, hewan air, hingga detail kecil yang sering luput dari perhatian. Selain itu, ia juga memasukkan cerita-cerita lama yang hidup di sekitar sungai.

“Kalau batik saya itu larinya ke sungai, ke pernak-perniknya, isinya pinggir-pinggir sungai sama cerita-cerita zaman dulu,” ujarnya.

Ida menolak membuat motif tanpa makna. Ia selalu memulai dengan konsep. Ia menentukan arah sebelum menarik garis pertama.

“Saya nggak asal batik. Saya senang membatik, tapi harus ada tujuannya mau ke mana.” tambahnya.

Karena sikap itu, setiap kain memiliki karakter kuat. Motifnya tidak hanya menghias permukaan, melainkan menyimpan narasi. Dengan kata lain, ia memperlakukan kain seperti halaman buku tempat ia menulis ulang ingatan.

Melawan Arus Tren

Industri kreatif bergerak cepat. Tren datang silih berganti. Banyak pelaku usaha menyesuaikan diri agar tetap relevan. Namun Ida memilih langkah berbeda. Ia tidak mengejar produksi massal. Ia tidak menyusun strategi pemasaran agresif. Sebaliknya, ia memperkuat identitas.

Tembo Batik hadir dalam berbagai bentuk kain batik tulis, syal, blazer, celana, hingga kaos. Meski begitu, Ida tetap menjadikan batik tulis sebagai fondasi utama. Ia menjaga kualitas garis dan detail. Ia memastikan setiap karya membawa cerita.

Selain itu, ia membangun relasi langsung dengan peminat. Pesanan datang secara organik. Orang-orang mengenal karyanya karena cerita, bukan karena iklan besar-besaran.

Pilihan ini memang tidak instan. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Konsistensi membangun kepercayaan. Detail membangun diferensiasi. Sementara itu, proses yang jujur membangun reputasi.

Di ruang kerjanya, Ida juga melibatkan karyawan. Ia berbagi keterampilan dan membuka ruang belajar. Dengan demikian, Tembo Batik tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menumbuhkan ekosistem kecil yang saling menguatkan.

Sungai sebagai Guru Kreatif

Bagi Ida, sungai tidak sekadar latar geografis. Sungai mengajarkan ritme. Ia menunjukkan bahwa kehidupan bergerak dalam siklus: tenang, lalu deras surut, lalu naik kembali. Pola itu kemudian Ida terapkan dalam proses kreatifnya.

Pertama, ia mengamati. Kemudian, ia merenung. Setelah itu, ia menuangkan gagasan ke atas kain. Ia menjalani proses itu berulang-ulang tanpa tergesa.

Dari puisi ke lukisan, lalu ke batik, Ida tidak pernah memutus alur kreativitasnya. Ia hanya memindahkan medium. Karena itu, seluruh perjalanan tersebut terasa menyatu, bukan terpisah.

Dalam setiap karya, ia merekam hubungan manusia dengan alam. Ia mengangkat memori pribadi sekaligus memotret lingkungan tempat ia tumbuh. Alhasil, batiknya tidak hanya tampil indah, tetapi juga memiliki kedalaman makna.

Batiknya tidak berteriak. Ia berbicara pelan, namun tegas.

Ingatan Menjadi Identitas

Kisah Ida membuktikan satu hal: kreativitas tumbuh dari kedekatan dengan lingkungan. Ia tidak menunggu inspirasi jauh. Ia menggali yang dekat. Ia membaca yang akrab. Ia merawat yang pernah ia alami.

Di tengah dunia yang serba cepat, Ida justru memilih ritme yang lebih tenang. Ia fokus pada proses. Ia memperkuat karakter. Ia menjaga arah.

Akhirnya, pertanyaan itu kembali pada kita ketika tren terus berubah dan pasar bergerak tanpa jeda, masihkah kita berani setia pada cerita sendiri?

Sungai di depan rumah Ida terus mengalir. Sementara itu, di atas kain batik tulis, garis-garis halus terus tumbuh. Selama Ida menjaga ingatan dan merawat proses, Tembo Batik akan terus mengalir seperti sungai yang membentuknya sejak awal. @dimas

Tags: BatikCeritaInspiratifKreatifLokalmadiunPerajinperempuanSungai

Kamu Melewatkan Ini

Jalan Merak Memanas, Massa Diduga Pesilat Bentrok dengan Aparat

Madiun Memanas, Massa Diduga Pesilat Bentrok dengan Aparat Jelang Parluh

by dimas
September 22, 2026

Jalan Merak Madiun memanas. Massa diduga pesilat bentrok dengan aparat jelang Parluh 2026, akses warga dan lalu lintas ikut dibatasi....

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

by teguh
Agustus 29, 2026

Hashilatun Nasifah atau lebih akrab dipanggil Sisil pulang dari dunia penerbangan untuk menjadi Empu keris. Pilihannya membuka cerita tentang perempuan,...

Next Post
Warmindo Go Nasional! Indomie Sulap Nyemek Jadi Sensasi Kekinian

Warmindo Go Nasional! Indomie Sulap Nyemek Jadi Sensasi Kekinian

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id