Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kisah Bripka Joko, Antara Tugas Negara dan Pengali Kubur

by dimas
Januari 20, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Life – Hujan turun tanpa kompromi malam itu. Petir menyambar seperti tak sabar, dan Samarinda memilih terlelap lebih awal. Joko Hadi juga ikut menyerah pada lelah. Ia tidur sebelum tengah malam, berharap pagi datang tanpa gangguan.

Namun ponselnya berdering pukul dua dini hari.

Dengan mata setengah terbuka, Joko mengangkat telepon. Di ujung sana, suara lirih memintanya datang. Bukan patroli. Bukan laporan kriminal. Melainkan permintaan menggali kubur malam itu juga.

Joko sempat menjelaskan cuaca. Hujan, petir, tanah pasti berubah lumpur. Tetapi permintaan itu berubah menjadi permohonan. Dan seperti biasa, Joko tak kuasa menolak.

“Kalau sudah begini, mau tidak mau saya jalan,” jelasnya.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Sebagai penggali kubur, ia paham betul kematian tidak pernah menunggu cuaca cerah.

Polisi, Penggali Kubur, dan Dua Seragam yang Tak Bertabrakan

Pagi harinya, Joko kembali mengenakan seragam polisi. Ia bertugas sebagai Bintara Administrasi Umum di Polsek Samarinda Ulu. Pangkatnya Bripka. Rekan-rekannya mengenalnya rapi, disiplin, dan nyaris tak pernah mengeluh.

Namun selepas jam dinas, Joko berubah. Ia mengenakan kaus sederhana, sepatu bot, dan membawa cangkul. Ia turun ke pemakaman Sungai Kunjang, tempat tanah selalu menyimpan cerita paling sunyi.

Sudah hampir dua dekade ia menjalani dua dunia ini berdampingan tanpa konflik, tanpa rasa malu.

“Saya anggap ini bekal mati, Amal jariyah.” ujarnya.

Bagi Joko, menjadi polisi berarti melayani yang hidup. Menggali kubur berarti memuliakan yang pergi. Keduanya ia jalani dengan kesadaran yang sama.

Kuburan, Uang Jajan, dan Seorang Anak SMP

Cerita ini tidak lahir dari niat heroik. Ia bermula dari kebutuhan yang sederhana.

Saat duduk di kelas dua SMP, Joko kehilangan ibunya. Ayahnya juga seorang polisi harus membesarkan tujuh anak seorang diri. Uang jajan Joko hanya Rp500. Jarak sekolah jauh. Ia tahu, ayahnya sudah melakukan yang terbaik.

Suatu sore, Joko bermain layangan di sekitar makam. Ia melihat para penggali kubur menerima upah. Di situlah pikirannya berbelok.

“Waktu itu saya mikir, ini bisa buat nambah uang jajan,” tambahnya.

Ia memberanikan diri meminta izin pada penjaga makam. Tak disangka, ia diterima. Upah pertamanya Rp20.000 jumlah yang terasa besar pada era 90-an.

Sejak hari itu, sebelum berangkat sekolah siang, Joko menggali tanah. Ia mandi, berganti baju, lalu duduk di kelas dengan tubuh pegal dan sepatu masih berdebu.

Dewasa, Berseragam, Tapi Tak Pernah Pergi

Waktu berjalan. Joko lulus SMA, lalu lolos seleksi Bintara Polri pada 2005. Ia sempat berhenti menggali kubur setahun. Namun kebiasaan itu tak pernah benar-benar meninggalkannya.

Ia kembali turun ke makam. Hingga hari ini.

Bahkan enam tahun terakhir, Joko menjadi ketua pengelola pemakaman untuk empat kelurahan. Ia mengoordinasi sekitar 20 penggali kubur termasuk warga menganggur dan mantan narapidana yang ingin memulai hidup baru.

“Yang penting mereka mau kerja dan berubah,” katanya.

Ia menggaji para penggali dengan uang pribadinya. Jika keluarga jenazah tak mampu, ia gratiskan biaya penggalian. Baginya, ikhlas adalah satu-satunya tarif.

Pandemi, Tujuh Liang, dan Napas yang Tertahan

Ujian terberat datang saat pandemi Covid-19.

Dalam satu hari, Joko bisa menggali hingga tujuh liang. Kadang lebih. Ia mengenakan APD, menghirup bau disinfektan, bekerja di bawah matahari, sambil menahan napas dan lelah.

“Di galian ketujuh saya sudah enggak kuat, Rasanya sesak semua.” katanya lirih.

Namun ia tetap datang keesokan harinya. Lagi. Dan lagi.

Tak Mau Jadi Kacang Lupa Kulit

Joko sadar betul siapa dirinya sebelum seragam polisi melekat di badan. Ia tak ingin lupa asal-usul.

“Hidup saya bisa seperti sekarang juga karena menggali kubur,” jelasnya.

Uang dari tanah ia kembalikan ke tanah. Ia membangun pos jaga, jalan cor, lapangan voli, tenda, keranda, hingga pengobatan gratis. Semua dari tabungannya sendiri.

Ironisnya, hingga kini ia masih menyewa rumah.

“Lucu ya,” katanya tertawa kecil.

Menolak Sekolah, Memilih Wakaf

Ketika pimpinan menawarkan sekolah lanjutan untuk kenaikan pangkat, Joko menolak. Ia justru meminta tanah wakaf.

Pemakaman Sungai Kunjang sudah sesak. Dalam satu liang, empat jasad bisa berbaring berdampingan. Joko tak tega membayangkan warga kesulitan mencari tempat terakhir.

“Kalau sekolah itu buat saya. Tanah wakaf buat semua orang,” ucapnya pelan.

Ia bermimpi mengelola pemakaman seperti Baqi di Madinah sederhana, rapi, dan manusiawi.

Antara Tanah dan Makna

Joko Hadi tidak mengubah dunia. Ia tidak membuat kebijakan besar. Namanya mungkin tak tercatat di buku sejarah.

Namun setiap malam hujan, setiap pukul dua dini hari, ia memilih bangun. Ia memilih menggali. Ia memilih menemani duka orang lain, tanpa kamera, tanpa sorotan.

Di dunia yang sibuk mengejar citra dan pangkat, Joko memilih tanah. Karena di sanalah, katanya, semua manusia akhirnya setara.

Dan mungkin, di sanalah amal jariyah benar-benar hidup. @dimas

Tags: InspiratifKisahPolisi

Kamu Melewatkan Ini

Dua Tahun Prabowo–Gibran, 9.505 Personel Disiagakan: Hak Aspirasi Tetap Prioritas?

Dua Tahun Prabowo–Gibran, 9.505 Personel Disiagakan: Hak Aspirasi Tetap Prioritas?

by teguh
Oktober 20, 2026

Polda Metro Jaya bersama TNI menyiapkan ribuan personel untuk mengawal demonstrasi peringatan dua Tahun Prabowo-Gibran dan aktivitas publik di Jakarta....

Pemilik Warung Mie Babi Tepi Sawah: Kerugian Capai Rp50 Juta

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

by dimas
September 16, 2026

Warung Mi dan Babi di Sukoharjo dibakar OTK. Polisi memeriksa 12 saksi dan menggandeng Densus 88 untuk mengungkap pelaku serta...

Massa Bertahan, Water Cannon Menghantam Depan DPR

Massa Bertahan, Water Cannon Menghantam Depan DPR

by dimas
Agustus 27, 2026

Massa bertahan di depan DPR hingga malam. Polisi mengerahkan water cannon dan ultimatum untuk memukul mundur demonstran dari pagar gedung....

Next Post
Maidi Digiring KPK: Rompi Oranye, Tangan Diborgol

Maidi Digiring KPK: Rompi Oranye, Tangan Diborgol

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id