Datang ke festival musik untuk menikmati panggung. Pulangnya malah ikut menyaksikan panggung klarifikasi. The Sounds Project Vol. 9 berlangsung pada 07–09/08/2026 di Ecovention & Ecopark Ancol, Jakarta. Festival tersebut menghadirkan lebih dari 120 musisi lokal dan internasional. Namun, di tengah mesin event sebesar itu, sebuah mikrofon lebih bebas daripada SOP yang seharusnya mengendalikannya.
Tabooo.id – Namun, satu kejadian di salah satu booth justru membuat perhatian publik bergeser dari panggung musik ke persoalan tanggung jawab. Sebuah mikrofon lebih bebas daripada SOP. sebuah Challenge muncul, Kerumunan bersorak. Kamera merekam. Video menyebar dan laporan polisi menyusul.
Sekilas, semuanya terlihat spontan tetapi masalahnya, Spontanitas tidak pernah otomatis menghapus tanggung jawab.
Dari Festival Musik ke Panggung Klarifikasi
Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 09/08/2026, di salah satu booth bernama Newport.
Video yang beredar memperlihatkan seorang perempuan memegang mikrofon dan melantunkan ayat Al-Qur’an. Setelah itu, orang-orang di sekitarnya bersorak. Rekaman kemudian beredar luas di media sosial.
Pada Selasa, 11/08/2026, advokat dari Tim Hukum Muslim melaporkan sejumlah pihak ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan tindak pidana penistaan agama.
Muhammad menyebut lima pihak masuk dalam laporan. Mereka terdiri dari pihak event organizer, dua MC, serta pihak booth Newport.
“Permintaan maaf itu urusan mereka, proses hukum tetap berjalan.”
Sementara itu, MC bernama Ega menyampaikan permintaan maaf. Ia menjelaskan bahwa challenge muncul spontan dari audiens.
Ega juga mengakui kelalaiannya karena membiarkan audiens mengambil alih mikrofon.
“Audiens tersebut langsung memberikan sayembara melafalkan salah satu surat kepada pengunjung lain dengan imbalan yang ditawarkan oleh audience tersebut.”
Sampai di sini, sebuah benda kecil mendadak menjadi tokoh utama yang bernama Mikrofon.
Ketika Semua Orang Bisa Jadi MC
Pada Rabu, 12/08/2026, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin menyatakan polisi telah memeriksa sejumlah pihak.
Manajemen, penyelenggara, pemilik merek minuman, dan sejumlah pengunjung masuk dalam pemeriksaan.
Polisi juga telah mengidentifikasi pengunjung yang disebut mengajukan challenge tersebut.
“Pengunjung tersebut kemudian mengambil mikrofon dan secara spontan melakukan challenge.”
Iman mengatakan polisi masih mendalami aspek hukum dari tindakan tersebut.
Petugas juga mendatangi lokasi kejadian dan memeriksa sejumlah dokumen terkait festival serta aktivitas produsen minuman.
Nah, di sinilah ironi event modern terasa. Festival bisa menyiapkan panggung, artis, lighting, sound system, tiket, sponsor, booth, sampai rundown.
Namun, satu mikrofon mampu mengubah festival menjadi rapat mencari siapa yang bertanggung jawab.
SOP Jangan Cuma Cantik di Folder
SOP seharusnya bekerja sebelum masalah muncul. Bukan setelah video masuk FYP.
Dalam event berskala besar, pengelola perlu mengantisipasi perilaku audiens. Apalagi, ruang festival mempertemukan kerumunan, brand, MC, kru, performer, dan kamera dalam waktu bersamaan.
Karena itu, beberapa pertanyaan sebenarnya sederhana. Siapa mengendalikan mikrofon?, Siapa menjaga area booth?, Bagaimana MC mengambil kembali kendali?
Lalu, siapa yang menghentikan aktivitas ketika seseorang keluar dari rundown?, Jika semua sudah tertulis dalam SOP, muncul pertanyaan yang lebih mengganggu yaitu, Mengapa sistemnya gagal bekerja ketika dibutuhkan?
Audiens Salah? Bisa Jadi. Sistem Lalai? Tetap Dicek
Audiens tentu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Namun, penyelenggara juga tidak bisa menggunakan kata “spontan” sebagai kartu bebas tanggung jawab.
Sebab, spontanitas tidak menjelaskan bagaimana seseorang bisa mengambil mikrofon dan menggunakannya di ruang acara. Dari sinilah evaluasi tata kelola menjadi penting.
Bukan untuk buru-buru menentukan siapa yang bersalah, melainkan untuk melihat celah yang memungkinkan kejadian tersebut berlangsung.
Sistem yang baik bukan hanya mengatur keadaan normal. Ia juga harus siap menghadapi kekacauan.
Viral Dulu, Konsekuensi Belakangan
Fenomena ini juga memperlihatkan wajah lain budaya digital. Sebuah aksi berlangsung dalam hitungan detik. Kerumunan merespons.
Kamera menangkap momen. Rekaman berpindah akun. Setelah algoritma ikut bekerja, kejadian lokal berubah menjadi konsumsi publik.
Sosiolog IPB University Dr Ivanovich Agusta pada 28/04/2026 menyebut perilaku semacam itu sebagai gejala masyarakat digital yang bergerak spontan dan cepat tanpa koordinasi formal, terutama ketika dipicu viralitas.
Konteks pernyataan tersebut tidak membahas kasus The Sounds Project. Namun, gagasannya relevan untuk membaca bagaimana sebuah momen kecil bisa berubah menjadi isu besar.
Ruang fisik selesai. Drama digital baru dimulai.
Agama Bukan Punchline
Di titik ini, Kita harus tahu batas. Agama bukan bahan lelucon. Ayat suci juga bukan objek satire.
Yang perlu disorot justru bagaimana simbol yang sensitif dapat masuk ke ruang hiburan tanpa kendali yang memadai.
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI, KH Masduki Baidlowi, sebelumnya juga menyoroti fenomena algorithmic religion. Pada 05/11/2025, ia membahas bagaimana algoritma digital semakin memengaruhi cara masyarakat menerima informasi keagamaan.
Konteks tersebut memberi pelajaran sederhana. Ketika sesuatu masuk internet, konsekuensinya tidak ikut menghilang setelah acara selesai.
Brand, EO, MC: Siapa Pegang Rem?
MC menyebut challenge muncul dari audiens. Pihak booth juga disebut tidak terlibat dalam munculnya tantangan tersebut.
Sementara itu, polisi masih memeriksa berbagai pihak. Karena proses hukum belum selesai, publik tentu tidak boleh buru-buru menjatuhkan vonis.
Namun, pertanyaan tata kelola tetap sah. Brand memiliki ruang aktivasi, EO mengelola pengalaman acara, MC mengendalikan panggung dan audiens menikmati ruang tersebut.
Lalu siapa yang memegang rem? Jawabannya seharusnya sudah ada sebelum pintu festival dibuka.
Ini Bukan Soal Mikrofon
Ini bukan sekadar cerita tentang seseorang yang mengambil mikrofon. Ini cerita tentang ruang publik yang kehilangan batas kendali.
Mikrofon hanyalah alat. Persoalan muncul ketika batas antara audiens, MC, kru, brand, dan penyelenggara mulai kabur.
Di era semua orang bisa menjadi content creator, panggung pun bisa berubah menjadi ruang improvisasi. Masalahnya, tidak semua improvisasi punya tombol undo.
Karena itu, pertanyaan akhirnya bukan cuma “Siapa yang memegang mikrofon?”
Jauh lebih penting “Siapa yang bertanggung jawab ketika mikrofon berpindah tangan?”
Di era ketika semua orang bisa jadi MC, ternyata tidak semua orang siap menjadi penanggung jawab.
Kalau SOP baru bergerak setelah video viral, mungkin masalahnya bukan mikrofon yang terlalu bebas. Mungkin sistemnya yang terlalu santai.
Dan Yang pasti Mikrofon boleh berpindah tangan. Tanggung jawab jangan ikut oper-operan karena itu aturan mainnya. @teguh








