Tabooo.id: Nasional – Di usia 23 tahun, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram resmi sebagai SISKS Pakoe Boewono XIV, penerus tahta Karaton Surakarta Hadiningrat. Putra dari almarhum SISKS Pakoe Boewono XIII dan GKR Pakoe Boewono ini menjadi simbol babak baru, tahta Jawa kini dipegang oleh generasi Z.
Lahir di Surakarta, 26 September 2002, Hamangkunegoro dikenal bukan sekadar pewaris darah biru. Ia lulusan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude (Juli 2024), dan kini tengah menempuh pendidikan Magister di Universitas Gadjah Mada.
Ia juga dikenal sebagai Direktur Utama PT Sunan Nusantara Media, perusahaan di balik portal digital Indonesiabuzz.com, ruang berita yang berfokus pada budaya, sejarah, dan isu sosial Indonesia.
Langkah itu memperlihatkan arah baru seorang raja muda yang tak hanya menjaga tradisi, tapi juga mengelola media massa, membangun jembatan antara Kraton dan dunia digital.
Dibesarkan dengan disiplin budaya karaton sekaligus pendidikan modern, Hamangkunegoro terbiasa hidup di dua kutub: bahasa leluhur dan algoritma zaman. Sejak kecil ia diajak sang ayah mendaki Gunung Lawu, Pringgodani, dan Parangkusumo, bukan sekadar wisata, tapi ritual napak tilas spiritual Jawa. Kini, jejak itu ia teruskan dalam bentuk kepemimpinan yang berpijak pada akar budaya tapi terbuka terhadap masa depan.
“Menjadi raja bukan soal kekuasaan, tapi tentang menjaga keseimbangan antara masa lalu dan masa depan,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Di tangan Hamangkunegoro, Kraton mulai berbicara dengan cara baru, bukan hanya lewat upacara dan gamelan, tapi juga lewat kamera, media, dan platform daring. Ia memahami bagaimana generasinya berkomunikasi: cepat, visual, dan terbuka.
Penobatan ini bukan hanya pergantian gelar, tapi juga transformasi simbolik, Kraton Surakarta memasuki era keterbukaan, di bawah pemimpin muda yang paham tradisi sekaligus teknologi.
Langkah awal SISKS Pakoe Boewono XIV ini diyakini akan menentukan arah Karaton Surakarta ke depan, antara melestarikan warisan atau menulis ulang cara baru menjadi raja.
Lalu, di zaman ketika viral bisa lebih cepat dari sabda raja, mampukah Hamangkunegoro menjaga sakralitas takhta di tengah dunia digital? @red




