Hutan mungkin hanya angka di laporan lingkungan bagi sebagian orang. Namun, bagi Suku Malind di Papua Selatan, hutan adalah ingatan, makanan, doa, dan cara memahami hidup. Ketika alat berat masuk dan pepohonan tumbang, yang hilang bukan cuma kayu. Akibatnya, Suku Malind mulai kehilangan ruang spiritual. Selain itu, mereka perlahan kehilangan jejak identitas. “Merusak dusun sagu sama saja dengan merusak hidup kami.” Karena itu, pesan tersebut terus muncul dari masyarakat adat ketika kawasan hutan berubah menjadi proyek perkebunan besar.
Tabooo.id – Suku Malind, atau Marind-Anim, merupakan salah satu kelompok masyarakat adat terbesar di selatan Papua. Mereka hidup di wilayah Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Sementara itu, wilayah adat Suku Malind membentang dari perbatasan Papua Nugini hingga Sungai Digul. Mereka tinggal di rawa, sabana, pesisir, dan hutan mangrove. Namun, hari ini lanskap itu berubah cepat.
Ketika Alam Menjadi Bagian dari Identitas
Bagi Suku Malind, alam bukan benda mati. Sebaliknya, mereka percaya manusia, hewan, dan tumbuhan berasal dari leluhur kosmis yang sama, yaitu Dema.
Karena itu, dusun sagu bukan sekadar tempat mencari makan. Bahkan, dusun sagu menjadi pusat kehidupan.
Masyarakat Suku Malind menggantungkan hidup pada sagu. Mereka berburu walabi, rusa, dan babi hutan. Selain itu, sungai menjadi jalur hidup sekaligus sumber pangan.
Di sisi lain, tanah adat bukan sekadar lokasi tinggal. Lebih jauh lagi, tanah menyimpan hubungan spiritual antar-generasi.
Sementara itu, Suku Malind juga menjaga struktur sosial berbasis Boan, atau klan besar. Sistem ini mengikuti garis keturunan ayah.
Nama seperti Gebze, Kaize, Mahuze, Ndiken, Balagaize, dan Basik-Basik bukan sekadar marga. Sebaliknya, nama itu menentukan hak tanah, hubungan sosial, dan identitas leluhur.
Meski begitu, modernisasi sering datang tanpa bertanya: apa yang sedang dipertaruhkan?
Gari, Gatzi, dan Budaya yang Sulit Dipindahkan
Selain itu, budaya Suku Malind menyimpan simbol kuat.
Salah satunya Gari, mahkota besar dari bulu kasuari dan cendrawasih. Hiasan ini melambangkan cahaya leluhur dan kehormatan adat.
Sementara itu, Tari Gatzi biasa menyambut tamu, merayakan panen, atau mengiringi ritual penting.
Budaya Suku Malind tumbuh dari ruang hidup tertentu. Tradisi itu lahir dari hutan, sungai, dan tanah adat. Karena itu, budaya tersebut tidak tumbuh di ruang seminar atau museum.
Dengan kata lain, perubahan lanskap tidak hanya bicara ekonomi. Padahal, pertanyaannya jauh lebih besar: bisakah budaya bertahan ketika ruang hidupnya menghilang?
Pada masa lalu, Suku Malind dikenal sebagai prajurit tangguh. Mereka sempat menjalankan tradisi pengayauan sebagai ritual kedewasaan.
Namun, masuknya misionaris Katolik dan pemerintah kolonial Belanda pada awal 1900-an mengubah praktik tersebut.
Artinya, perubahan bukan hal baru bagi Suku Malind. Meski demikian, skala perubahan hari ini terasa jauh lebih besar.
MIFEE dan Konflik yang Tidak Pernah Sederhana
Saat ini, wilayah adat Suku Malind menjadi pusat proyek agroindustri besar. Pemerintah terus memperluas proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate), mendorong ekspansi sawit, dan membuka lahan tebu berskala besar di wilayah adat Papua Selatan.
Di atas kertas, proyek ini membawa janji ketahanan pangan nasional dan pertumbuhan ekonomi. Namun, cerita di lapangan tidak selalu berjalan mulus.
Pembukaan hutan besar-besaran mulai mengubah ruang hidup masyarakat adat. Akibatnya, wilayah buruan menyusut. Selain itu, dusun sagu pun menghilang.
Untuk memahami konflik ini lebih jauh, film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono membongkar dampak proyek besar di Papua Selatan terhadap ruang hidup masyarakat adat, termasuk Suku Malind.
Selain itu, film tersebut mengajukan pertanyaan yang terasa sederhana, tetapi mengganggu: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari proyek besar di tanah adat?
Ketika dusun sagu hilang, masyarakat adat tidak otomatis siap masuk ke ekonomi industri. Akibatnya, sebagian warga mulai bergantung pada beras dan makanan instan.
Sementara itu, sistem pangan baru perlahan menggantikan pola hidup lama. Ironisnya, wilayah yang disebut lumbung pangan justru menyimpan ancaman krisis pangan lokal.
Ini Bukan Sekadar Soal Papua
Banyak orang melihat kisah Suku Malind sebagai isu lokal Papua Selatan. Padahal, pertanyaannya jauh lebih besar.
Apakah pembangunan harus selalu meminta masyarakat adat berkorban lebih dulu?
Indonesia terus bicara hilirisasi, investasi, dan ketahanan pangan. Namun, ada pertanyaan yang sering tertinggal:
Kalau hutan hilang, tanah berubah, dan identitas memudar, pembangunan sebenarnya sedang menyelamatkan siapa?
Pada akhirnya, bagi Suku Malind, kehilangan hutan bukan sekadar kehilangan tempat tinggal. Lebih jauh lagi, mereka bisa kehilangan cara hidup. @jeje





