Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Sagu Diganti Sawit: Apa yang Sedang Terjadi pada Suku Malind?

by jeje
Mei 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Hutan mungkin hanya angka di laporan lingkungan bagi sebagian orang. Namun, bagi Suku Malind di Papua Selatan, hutan adalah ingatan, makanan, doa, dan cara memahami hidup. Ketika alat berat masuk dan pepohonan tumbang, yang hilang bukan cuma kayu. Akibatnya, Suku Malind mulai kehilangan ruang spiritual. Selain itu, mereka perlahan kehilangan jejak identitas. “Merusak dusun sagu sama saja dengan merusak hidup kami.” Karena itu, pesan tersebut terus muncul dari masyarakat adat ketika kawasan hutan berubah menjadi proyek perkebunan besar.

Tabooo.id – Suku Malind, atau Marind-Anim, merupakan salah satu kelompok masyarakat adat terbesar di selatan Papua. Mereka hidup di wilayah Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Sementara itu, wilayah adat Suku Malind membentang dari perbatasan Papua Nugini hingga Sungai Digul. Mereka tinggal di rawa, sabana, pesisir, dan hutan mangrove. Namun, hari ini lanskap itu berubah cepat.

Ketika Alam Menjadi Bagian dari Identitas

Bagi Suku Malind, alam bukan benda mati. Sebaliknya, mereka percaya manusia, hewan, dan tumbuhan berasal dari leluhur kosmis yang sama, yaitu Dema.

Karena itu, dusun sagu bukan sekadar tempat mencari makan. Bahkan, dusun sagu menjadi pusat kehidupan.

Masyarakat Suku Malind menggantungkan hidup pada sagu. Mereka berburu walabi, rusa, dan babi hutan. Selain itu, sungai menjadi jalur hidup sekaligus sumber pangan.

Ini Belum Selesai

RUU Perampasan Aset: Negara Mengejar Harta, Siapa Menjaga Hak Warga?

Menanti Keamanan di Papua, Warga Sipil Terus Dibayangi Kekerasan

Di sisi lain, tanah adat bukan sekadar lokasi tinggal. Lebih jauh lagi, tanah menyimpan hubungan spiritual antar-generasi.

Sementara itu, Suku Malind juga menjaga struktur sosial berbasis Boan, atau klan besar. Sistem ini mengikuti garis keturunan ayah.

Nama seperti Gebze, Kaize, Mahuze, Ndiken, Balagaize, dan Basik-Basik bukan sekadar marga. Sebaliknya, nama itu menentukan hak tanah, hubungan sosial, dan identitas leluhur.

Meski begitu, modernisasi sering datang tanpa bertanya: apa yang sedang dipertaruhkan?

Gari, Gatzi, dan Budaya yang Sulit Dipindahkan

Selain itu, budaya Suku Malind menyimpan simbol kuat.

Salah satunya Gari, mahkota besar dari bulu kasuari dan cendrawasih. Hiasan ini melambangkan cahaya leluhur dan kehormatan adat.

Sementara itu, Tari Gatzi biasa menyambut tamu, merayakan panen, atau mengiringi ritual penting.

Budaya Suku Malind tumbuh dari ruang hidup tertentu. Tradisi itu lahir dari hutan, sungai, dan tanah adat. Karena itu, budaya tersebut tidak tumbuh di ruang seminar atau museum.

Dengan kata lain, perubahan lanskap tidak hanya bicara ekonomi. Padahal, pertanyaannya jauh lebih besar: bisakah budaya bertahan ketika ruang hidupnya menghilang?

Pada masa lalu, Suku Malind dikenal sebagai prajurit tangguh. Mereka sempat menjalankan tradisi pengayauan sebagai ritual kedewasaan.

Namun, masuknya misionaris Katolik dan pemerintah kolonial Belanda pada awal 1900-an mengubah praktik tersebut.

Artinya, perubahan bukan hal baru bagi Suku Malind. Meski demikian, skala perubahan hari ini terasa jauh lebih besar.

MIFEE dan Konflik yang Tidak Pernah Sederhana

Saat ini, wilayah adat Suku Malind menjadi pusat proyek agroindustri besar. Pemerintah terus memperluas proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate), mendorong ekspansi sawit, dan membuka lahan tebu berskala besar di wilayah adat Papua Selatan.

Di atas kertas, proyek ini membawa janji ketahanan pangan nasional dan pertumbuhan ekonomi. Namun, cerita di lapangan tidak selalu berjalan mulus.

Pembukaan hutan besar-besaran mulai mengubah ruang hidup masyarakat adat. Akibatnya, wilayah buruan menyusut. Selain itu, dusun sagu pun menghilang.

Untuk memahami konflik ini lebih jauh, film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono membongkar dampak proyek besar di Papua Selatan terhadap ruang hidup masyarakat adat, termasuk Suku Malind.

Selain itu, film tersebut mengajukan pertanyaan yang terasa sederhana, tetapi mengganggu: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari proyek besar di tanah adat?

Ketika dusun sagu hilang, masyarakat adat tidak otomatis siap masuk ke ekonomi industri. Akibatnya, sebagian warga mulai bergantung pada beras dan makanan instan.

Sementara itu, sistem pangan baru perlahan menggantikan pola hidup lama. Ironisnya, wilayah yang disebut lumbung pangan justru menyimpan ancaman krisis pangan lokal.

Ini Bukan Sekadar Soal Papua

Banyak orang melihat kisah Suku Malind sebagai isu lokal Papua Selatan. Padahal, pertanyaannya jauh lebih besar.

Apakah pembangunan harus selalu meminta masyarakat adat berkorban lebih dulu?

Indonesia terus bicara hilirisasi, investasi, dan ketahanan pangan. Namun, ada pertanyaan yang sering tertinggal:

Kalau hutan hilang, tanah berubah, dan identitas memudar, pembangunan sebenarnya sedang menyelamatkan siapa?

Pada akhirnya, bagi Suku Malind, kehilangan hutan bukan sekadar kehilangan tempat tinggal. Lebih jauh lagi, mereka bisa kehilangan cara hidup. @jeje

Tags: Cinema IndonesiaFilm Pesta BabiGeopolitikNasionalPolitik IndonesiaSuku Malind

Kamu Melewatkan Ini

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

by Tabooo
Agustus 29, 2026

Tan Malaka mungkin membela hak rakyat untuk turun ke jalan. Namun, Aksi Massa dan MADILOG menunjukkan bahwa ia juga akan...

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, meninggal setelah dianiaya saat...

Next Post
Suzuki Jimny: Ketika Fitur Bukan Lagi Segalanya

Suzuki Jimny: Ketika Fitur Bukan Lagi Segalanya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id