Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Layang-Layang Masih Terbang, Tapi Anak-Anak Memilih Layar

by teguh
Agustus 13, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Di antara kain warna-warni layang-layang bambu, Riyadi menjaga permainan lama tetap hidup. Masalahnya, pasar yang dulu ramai kini mulai kehilangan angin.

Tabooo.id – Kain warna-warni memenuhi lantai rumah Riyadi. Pria 46 tahun itu mengukur kain, lalu mengguntingnya mengikuti pola. Tiga bilah bambu kemudian ia pasang dan rekatkan hingga membentuk layang-layang.

Di tangannya, kain bukan sekadar bahan karena benda sederhana itu menjelma menjadi bagian dari masa kecil banyak orang yaitu, Layang-layang.

Dari rumahnya di Perumahan Abadi Megah Regency 3, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Riyadi masih membuat layang-layang hias.

Ia biasanya mulai bekerja ketika kemarau mendekat. Sang istri ikut membantu proses produksi pangsa Pasarnya pun tidak berhenti di Mojokerto.

Melalui media sosial, Riyadi menjual layang-layang ke berbagai wilayah Indonesia. Pembelinya datang dari Jawa, Sumatera, bahkan Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.

Ini Belum Selesai

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Saat Nyai Setomi Dijamasi, Ingatan Mataram Kembali Hidup

Namun, musim kemarau tahun ini membawa cerita berbeda karena Pesanan justru turun.

Angin Masih Ada, Tapi Pasarnya Berubah

Riyadi mengatakan penjualan tahun ini mengalami penurunan. Ia menyampaikan hal tersebut kepada Kompas.com pada Kamis, 13/08/2026.

“Tahun ini ada penurunan. Tidak tahu faktornya kenapa. Anak-anak juga mengeluh juga. Layangan memang agak sepi. Itu memang keseluruhan.”

Angkanya cukup mencolok karena Pada tahun-tahun sebelumnya, pesanan Riyadi bisa mencapai 10.000 layang-layang dalam sepekan.

Biasanya, pesanan mulai masuk sejak April hingga Mei. Tahun ini, ia baru menjual sekitar 400 layang-layang kepada pembeli dari wilayah Sumatera.

Perbedaan tersebut terasa seperti jarak antara dua generasi. Generasi pertama tumbuh dengan lapangan.

Generasi berikutnya tumbuh bersama layar. Riyadi sendiri belum mengetahui penyebab pasti penurunan tersebut.

Namun, perubahan kebiasaan bermain anak sulit diabaikan. Bersama istrinya, ia tetap memproduksi layang-layang.

Stok terus mereka jaga sambil menunggu pesanan berikutnya. Bagi Riyadi, pekerjaan itu bukan sekadar aktivitas musiman.

Ia sudah menekuninya sejak masih lajang. Kala itu, perajin layang-layang hias belum banyak muncul di Mojokerto.

Riyadi melihat peluang tersebut. Ia membuat layang-layang, memasarkannya, lalu menemukan pembeli dari luar daerah.

Kini pasarnya bahkan mencapai berbagai wilayah Indonesia. Ironisnya, jangkauan pasar semakin jauh ketika jumlah pesanan justru semakin dekat dengan kata sepi.

Layang-Layang Belum Hilang

Layang-layang sebenarnya belum pergi. Benda itu masih muncul di langit ketika angin mulai bersahabat.

Anak-anak masih menerbangkannya dan komunitas juga masih menggelar kegiatan yang mengangkat permainan tersebut.

Pada 29/06/2026, RRI melaporkan kegiatan Ngundo Layangan di Lapangan Kebonagung, Imogiri, Bantul.

Kegiatan tersebut bermula dari aktivitas sederhana anak-anak. Mereka bermain layang-layang di ruang terbuka.

Unggahan kegiatan kemudian menarik perhatian masyarakat melalui media sosial. Paguyuban akhirnya menjadikannya kegiatan rutin setiap tiga bulan.

Artinya, permainan lama belum benar-benar kalah. Ia hanya membutuhkan ruang baru. Media sosial bahkan bisa menjadi salah satu ruang tersebut.

Di sinilah ceritanya menjadi menarik. Karena teknologi yang sering dianggap menjauhkan anak dari permainan tradisional justru bisa membantu mempromosikannya.

Layang-layang terbang di langit dan Kontennya terbang di media sosial. Keduanya bertemu dalam satu ruang baru layar.

Ketika Ruang Bermain Ikut Berubah

Perubahan itu tidak muncul tanpa konteks. Penelitian mengenai permainan tradisional di Yogyakarta menunjukkan perubahan perilaku sosial anak seiring perkembangan teknologi.

Permainan tradisional semakin sulit ditemukan, terutama di wilayah perkotaan.

Kajian lain mengenai transformasi permainan tradisional juga menemukan pergeseran menuju game online.

Kemudahan bermain secara individual menjadi salah satu faktor pendorongnya. Dulu, anak harus keluar rumah untuk mencari teman bermain.

Sekarang, mereka cukup membuka layar. Suara teman dahulu terdengar dari halaman dan Kini, suara itu bisa muncul dari headset.

Lapangan pun bergeser ke ruang digital. Satu genggaman bahkan mampu membawa dunia permainan ke mana-mana.

Bukan berarti teknologi otomatis menjadi musuh. Masalah muncul ketika layar mengambil terlalu banyak ruang dari pengalaman sosial anak.

Bermain bukan cuma soal menang karena anak juga belajar menunggu. Kekalahan mengajarkan mereka menerima hasil, Pertemanan mengajarkan cara bernegosiasi, Permainan kelompok juga melatih kerja sama.Bahkan layang-layang sederhana ternyata bisa membawa paket pengalaman yang cukup kompleks.

Pemerintah Mulai Mengembalikan Ruang Bermain

Kekhawatiran tersebut juga muncul dalam kebijakan pendidikan.

Pada 22/07/2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong pengurangan penggunaan gawai di lingkungan satuan pendidikan.

Kebijakan itu tidak bermaksud memusuhi teknologi. Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikdasmen, Kurniawan, menekankan pentingnya interaksi langsung.

“Permainan langsung dan interaksi antarsesama adalah cara terbaik anak belajar.”

Dalam rangkaian Hari Anak Nasional 2026, pemerintah juga menghadirkan aktivitas membuat kincir angin dan layang-layang.

Pendekatannya cukup menarik karena saat ini permainan tradisional tidak ditempatkan sebagai benda kuno.

Aktivitas tersebut justru digabungkan dengan STEAM dan eksplorasi alam. Pesannya cukup jelas karena anak tidak harus memilih antara teknologi dan permainan tradisional.

Keduanya bisa berjalan berdampingan namun tetap yang mereka butuhkan adalah keseimbangan.

Budaya Tidak Harus Masuk Museum

Komunitas kreatif menunjukkan bahwa permainan lama masih punya peluang.

Pada 09/07/2026, Komunitas Kampoeng Hompimpa Yogyakarta membagikan pengalaman mereka menghidupkan kembali permainan tradisional.

Permainan tersebut mereka bawa ke ruang publik dan sekolah. Layang-layang juga masuk dalam aktivitas mereka.

Koordinator komunitas, Cece, menyebut perubahan kebiasaan anak sebagai salah satu alasan komunitas itu bergerak.

“Waktu itu mulai 2018, gadget mulai marak, anak-anak sudah mulai beralih mainnya main game di gadget.”

Kalimat tersebut terdengar sederhana namun, di baliknya ada perubahan besar. karena Anak tidak sekadar mengganti permainan tapi mereka juga mengganti ruang sosial.

Karena itu, pelestarian budaya tidak harus selalu berbentuk museum. Sekolah bisa menjadi ruang pelestarian, Ruang publik juga bisa mengambil peran dan festival dapat menjadi pintu masuk baru.

Bahkan, TikTok bisa ikut membawa permainan lama kepada generasi baru. Sosok Riyadi sudah mengambil jalur tersebut.

Ia memanfaatkan media sosial untuk menjual layang-layangnya. Produk tradisional itu akhirnya menemukan pasar melalui teknologi modern.

Yang Terancam Bukan Layang-Layangnya

Ada ironi dalam cerita Riyadi sebenarnya layang-layangnya mampu menyeberangi pulau. Pembeli datang dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.

Namun, jumlah pesanan tahun ini justru menurun tajam. Pada titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar penjualan. Ada perubahan budaya bermain yang ikut bergerak.

Budaya bisa bertahan sebagai produk, tetapi belum tentu bertahan sebagai kebiasaan. Layang-layang masih bisa dibuat.

Orang masih bisa membelinya dan Komunitas masih bisa menggelar festival. Sekolah juga bisa mengajarkannya.Namun, semua itu belum cukup jika anak tidak lagi menemukan alasan untuk memainkannya.

Permainan kemudian berubah menjadi produk budaya. Aktivitas bergeser menjadi tontonan, Pengalaman perlahan menjadi nostalgia.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar karena melestarikan permainan tradisional bukan sekadar menjaga bentuknya.

Ruang sosial yang melahirkannya juga perlu dipertahankan. Anak tetap membutuhkan tempat untuk berlari.

Pertemanan membutuhkan ruang untuk tumbuh. Kegagalan perlu dialami secara langsung. Percobaan berikutnya membutuhkan keberanian.

Cerita masa kecil pun sering lahir dari hal-hal sederhana. Bukan karena masa lalu selalu lebih baik. Bukan pula karena gadget selalu buruk.

Persoalannya jauh lebih sederhana sebab Anak membutuhkan pilihan. Riyadi masih memotong kain bahkan bambu masih ia rangkai.

Benang masih ia siapkan dan angin juga masih datang setiap kemarau. Yang berubah mungkin bukan langitnya tapi cara anak memandang langitlah yang perlahan berubah.

Layang-layang masih terbang dan pertanyaannya, siapa yang akan mengajak anak-anak melihat ke langit?. @teguh

Tags: Anak IndonesiaBudaya BermainBudaya IndonesiaLayang-LayangMojokertoNostalgiaPermainan Tradisional

Kamu Melewatkan Ini

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

by teguh
Agustus 24, 2026

Sabtu punya cerita sendiri bagi anak-anak Desa Lauwa, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Tabooo.id - Pagi atau siang...

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

HUT RI ke-81 Jadi Festival Publik, Bukti Negara Makin Dekat dengan Rakyat?

HUT RI ke-81 Jadi Festival Publik, Bukti Negara Makin Dekat dengan Rakyat?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: HUT RI ke-81 tidak berhenti di Istana. Musik, UMKM, permainan, dan pesta rakyat membawa kemerdekaan ke ruang publik. Pertanyaannya,...

Next Post
Dari Larangan ke Kericuhan: Sound Horeg Memanas di Pati

Dari Larangan ke Kericuhan: Sound Horeg Memanas di Pati

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id