Jamasan Nyai Setomi di Kraton Solo menjadi ritual untuk merawat pusaka, menjaga tradisi, dan meneruskan ingatan sejarah Mataram.
Tabooo.id – Pintu Krobongan Bale Manguneng menyimpan lebih dari sekadar sebuah meriam tua. Di dalamnya, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjaga Nyai Setomi, pusaka yang membawa jejak sejarah, doa, dan ingatan panjang Mataram.
Rabu (22/9/2026) pagi, Kraton kembali menggelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi di Bangsal Witono, Sitinggil Lor. Ritual sakral ini menjadi bagian dari rangkaian Hajad Dalem Garebeg Mulud atau Sekaten.
Sekitar 50 abdi dalem mengikuti prosesi tersebut. Kelompok Semut Ireng, Bon Darat, dan jajaran abdi dalem putri menjalankan tugas masing-masing sesuai tata cara Kraton.
Pengangeng Kaputren GKR Alit memimpin prosesi itu. GRAy Koes Rahmaniyah turut hadir dan mendampingi jalannya ritual.
Saat Pusaka Bertemu Doa
Jamasan tidak hanya membersihkan pusaka. Ritual ini juga membawa doa agar seluruh rangkaian Garebeg Mulud Be 1960 atau tahun 2026 berjalan baik dan lancar.
Utusan Dalem Kraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Parno Adiningrat, menyebut jamasan sebagai bagian dari upaya Kraton untuk nguri-uri adat turun-temurun.
“Jamasan Nyai Setomi ini untuk nguri-uri adat turun-temurun, dan jamasan ini memohon agar Garebeg Mulud Be 1960 atau tahun 2026 semuanya berjalan baik dan lancar,” ujar KP Parno Adiningrat.
Bagi Kraton, ritual tidak berhenti pada gerakan dan tata cara. Setiap tahapan membawa makna yang menghubungkan masa lalu dengan hari ini.
Melalui jamasan, Kraton menghadirkan kembali sejarah dalam tradisi yang terus hidup.
Tidak Semua Tangan Menyentuh Nyai Setomi
Aturan Kraton menjaga kesakralan prosesi. Kraton menyerahkan tugas jamasan kepada abdi dalem yang telah menjalani Sumpah Raja.
Mereka juga harus memperoleh dhawuh atau lilah dari SISKS PB XIV.
“Untuk yang bertugas menjamasi Nyai Setomi di dalam harus mereka yang sudah mendapat dhawuh atau lilah dari SISKS PB XIV,” kata KP Parno.
Aturan itu menunjukkan bahwa setiap ritual memiliki tata nilai. Kraton tidak menyerahkan tugas tersebut kepada sembarang orang.
Setiap tugas menuntut tanggung jawab. Setiap orang menjalankan perannya. Dengan cara itu, Kraton menjaga bentuk dan makna prosesi dari generasi ke generasi.
Nyai Setomi dan Jejak Sultan Agung
Nyai Setomi membawa cerita yang melampaui usia para penjaganya hari ini. Meriam pusaka ini berkaitan dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Nyai Setomi berpasangan dengan Kanjeng Kyai Setomo atau Si Jagur. Kini, Museum Fatahillah di Jakarta menyimpan Si Jagur.
Keduanya memiliki nilai historis tinggi karena berkaitan dengan perjuangan Sultan Agung saat menyerang VOC di Batavia.
Karena itu, Nyai Setomi bukan hanya pusaka yang Kraton simpan. Meriam ini membawa jejak perjalanan Mataram, tentang kekuasaan, perjuangan, dan sejarah yang terus hidup dalam ingatan.
Di balik tubuh meriam itu, masa lalu terus berbicara.
Wilujengan, Hasil Bumi, dan Tumpeng
Prosesi jamasan dimulai dengan wilujengan. Kraton kemudian menyajikan sesaji berupa hasil bumi dan tumpeng.
Rangkaian itu membuka jalan menuju inti ritual. Para abdi dalem lalu membersihkan Krobongan Bale Manguneng, tempat Nyai Setomi berada.
Mereka menjalankan setiap tahapan sesuai tata cara Kraton. Setiap gerakan mengikuti aturan yang menjaga kesakralan ritual.
Setelah seluruh rangkaian selesai, para abdi dalem menutup pintu krobongan. Tindakan itu menandai akhir prosesi Jamasan Nyai Setomi.
Namun, makna ritual itu tidak berhenti saat pintu tertutup.
Merawat Benda, Menjaga Ingatan
Pusaka bisa bertahan selama ratusan tahun. Namun, usia tidak selalu membuat ingatan tetap hidup.
Manusia memberi makna pada benda. Manusia juga membawa cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kraton Solo terus menjalankan Jamasan Nyai Setomi untuk menjaga hubungan itu. Mereka merawat pusakanya, menjaga tata caranya, dan meneruskan cerita yang melekat padanya.
Ini bukan sekadar ritual membersihkan meriam pusaka. Jamasan Nyai Setomi menjadi cara Kraton Solo merawat ingatan dan menjaga sejarah Mataram agar tetap hidup dari generasi ke generasi.@eko







