Tabooo.id: Deep – Jumat siang, Surakarta terasa berbeda. Dari balik gerbang Masjid Raya Sheikh Zayed, suara azan lembut bergema, menandai waktu sholat yang sakral. Di dalam masjid, ketenangan menyelimuti seluruh ruang. SISKS Pakoe Boewono XIV, Sinuhun Kraton Surakarta, menunaikan sholat Jumat. Tak ada kamera yang memotret, tak ada wartawan yang mendesak kesunyian dan khidmat dijaga rapat.
Seorang abdi dalem hampir berbisik saat menata ruang untuk Sinuhun. “Biar khusyuk, biar tenang,” ujarnya. Di negeri yang mengaku demokratis, bahkan seorang raja memerlukan ruang privat untuk menenggelamkan diri dalam spiritualitas. Ironisnya, kesederhanaan itu justru menjadi sorotan publik karena jutaan mata ingin mengintip sekilas kehidupan elite budaya di balik pagar.
Tradisi dan Ibadah di Tengah Sorotan
Pada Jumat (30/1/2026), Pakoe Boewono XIV menunaikan sholat bersama abdi dalem Kraton. Setelah beribadah, Sinuhun diajak berkeliling masjid oleh takmir, menyusuri arsitektur megah yang menjadi kebanggaan masyarakat Solo. Langit-langit berornamen, dinding bercahaya, dan ruang utama yang luas tampak semakin agung di mata yang terbiasa dengan kemewahan.
Aktivitas ini tidak sekadar soal keindahan visual. Tindakan tersebut menegaskan sisi religius dan rendah hati seorang pemimpin. Meski memimpin Kraton dengan status simbolik tinggi, Pakoe Boewono XIV menempatkan ibadah sebagai prioritas utama. Kesederhanaan itu menyampaikan pesan terselubung: kepemimpinan sejati bukan soal protokol dan kemegahan, tetapi keteladanan spiritual.
Di Balik Kehadiran Elite: Kesenjangan dan Bayangan Kekuasaan
Di balik sakralnya momen itu, muncul pertanyaan yang jarang terdengar siapa yang benar-benar merasakan manfaatnya? Masjid yang megah bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol hubungan antara budaya, agama, dan elit politik lokal. Kehadiran Sinuhun menegaskan posisi Kraton sebagai pusat tradisi, namun tidak semua warga Solo memiliki akses yang sama ke simbol-simbol keagamaan itu.
Sementara itu, masyarakat kecil tukang parkir, pedagang kaki lima, dan jamaah biasa menyaksikan ritual dari luar gerbang. Meski masjid bersifat publik, ruang intim seorang raja tetap tertutup. Ironi sosialnya nyata spiritualitas menjadi tontonan ketika dikombinasikan dengan simbol status, sementara yang berada di bawah hanya bisa mengamati dari jauh.
Apresiasi atau Panggung Politik?
Keliling masjid bersama takmir menampilkan kedekatan simbolik dengan masyarakat. Namun jika ditelaah lebih dalam, kegiatan itu sekaligus menjadi panggung politik terselubung.
Di negeri yang sebagian besar rakyatnya bergulat dengan masalah ekonomi dan sosial, simbolisme elite berfungsi ganda. Kehadiran raja di ruang publik, meski sederhana, menegaskan hierarki sosial ada yang bisa masuk, ada yang menonton dari luar. Dengan kata lain, budaya dan agama sering menjadi alat legitimasi kekuasaan.
Sebagian warga Solo menilai kehadiran Pakoe Boewono XIV inspiratif. Sholat Jumat tertutup, keliling masjid, dan mengamati arsitektur megah menunjukkan kepedulian spiritual dan moral seorang raja.
Tabooo Editorial: Keteladanan dalam Batas
Tabooo.id berani menyentil kepemimpinan spiritual ala Sinuhun adalah contoh sekaligus metafora. Di satu sisi, kita belajar tentang keteladanan dan kesederhanaan. Di sisi lain, ritual sederhana itu berubah menjadi panggung status, terselubung dalam pakaian religius dan tradisi.
Negara yang mengaku demokratis sering menolak kebenaran hanya karena terlalu jujur. Di Solo, tradisi dipoles agar terlihat harmonis, namun tetap menegaskan hierarki sosial. Di balik sholat yang khusyuk, tersimpan pelajaran tentang kekuasaan budaya dan agama bisa berfungsi sebagai alat simbolik legitimasi.
Penutup: Ibadah, Tradisi, dan Pertanyaan Publik
Langkah sederhana namun bermakna dari Pakoe Boewono XIV menegaskan satu hal kepemimpinan bukan hanya soal status, tetapi keteladanan spiritual dan budaya. Namun, pertanyaan publik tetap menggantung apakah simbol keteladanan ini benar-benar menyentuh masyarakat luas, atau hanya memantul di ruang elit?
Di Solo, spiritualitas dan kekuasaan berjalan beriringan. Kesederhanaan yang tampak tulus kadang hanya menjadi siluet dari hierarki yang tak terlihat, di balik kemegahan arsitektur dan ritual sakral yang memikat mata. @dimas





