Kamis, Agustus 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Keteladanan dan Kesederhanaan: PB XIV Sholat Jumat Tanpa Pengawalan

by dimas
Januari 30, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Jumat siang, Surakarta terasa berbeda. Dari balik gerbang Masjid Raya Sheikh Zayed, suara azan lembut bergema, menandai waktu sholat yang sakral. Di dalam masjid, ketenangan menyelimuti seluruh ruang. SISKS Pakoe Boewono XIV, Sinuhun Kraton Surakarta, menunaikan sholat Jumat. Tak ada kamera yang memotret, tak ada wartawan yang mendesak kesunyian dan khidmat dijaga rapat.

Seorang abdi dalem hampir berbisik saat menata ruang untuk Sinuhun. “Biar khusyuk, biar tenang,” ujarnya. Di negeri yang mengaku demokratis, bahkan seorang raja memerlukan ruang privat untuk menenggelamkan diri dalam spiritualitas. Ironisnya, kesederhanaan itu justru menjadi sorotan publik karena jutaan mata ingin mengintip sekilas kehidupan elite budaya di balik pagar.

Tradisi dan Ibadah di Tengah Sorotan

Pada Jumat (30/1/2026), Pakoe Boewono XIV menunaikan sholat bersama abdi dalem Kraton. Setelah beribadah, Sinuhun diajak berkeliling masjid oleh takmir, menyusuri arsitektur megah yang menjadi kebanggaan masyarakat Solo. Langit-langit berornamen, dinding bercahaya, dan ruang utama yang luas tampak semakin agung di mata yang terbiasa dengan kemewahan.

Aktivitas ini tidak sekadar soal keindahan visual. Tindakan tersebut menegaskan sisi religius dan rendah hati seorang pemimpin. Meski memimpin Kraton dengan status simbolik tinggi, Pakoe Boewono XIV menempatkan ibadah sebagai prioritas utama. Kesederhanaan itu menyampaikan pesan terselubung: kepemimpinan sejati bukan soal protokol dan kemegahan, tetapi keteladanan spiritual.

Di Balik Kehadiran Elite: Kesenjangan dan Bayangan Kekuasaan

Di balik sakralnya momen itu, muncul pertanyaan yang jarang terdengar siapa yang benar-benar merasakan manfaatnya? Masjid yang megah bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol hubungan antara budaya, agama, dan elit politik lokal. Kehadiran Sinuhun menegaskan posisi Kraton sebagai pusat tradisi, namun tidak semua warga Solo memiliki akses yang sama ke simbol-simbol keagamaan itu.

Ini Belum Selesai

Dasco Siap Mundur Jika RUU Perampasan Aset Tak Disahkan 15 Desember

DPR Gelar Paripurna di Tengah Demo, RUU Perampasan Aset Disorot

Sementara itu, masyarakat kecil tukang parkir, pedagang kaki lima, dan jamaah biasa menyaksikan ritual dari luar gerbang. Meski masjid bersifat publik, ruang intim seorang raja tetap tertutup. Ironi sosialnya nyata spiritualitas menjadi tontonan ketika dikombinasikan dengan simbol status, sementara yang berada di bawah hanya bisa mengamati dari jauh.

Apresiasi atau Panggung Politik?

Keliling masjid bersama takmir menampilkan kedekatan simbolik dengan masyarakat. Namun jika ditelaah lebih dalam, kegiatan itu sekaligus menjadi panggung politik terselubung.

Di negeri yang sebagian besar rakyatnya bergulat dengan masalah ekonomi dan sosial, simbolisme elite berfungsi ganda. Kehadiran raja di ruang publik, meski sederhana, menegaskan hierarki sosial ada yang bisa masuk, ada yang menonton dari luar. Dengan kata lain, budaya dan agama sering menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Sebagian warga Solo menilai kehadiran Pakoe Boewono XIV inspiratif. Sholat Jumat tertutup, keliling masjid, dan mengamati arsitektur megah menunjukkan kepedulian spiritual dan moral seorang raja.

Tabooo Editorial: Keteladanan dalam Batas

Tabooo.id berani menyentil kepemimpinan spiritual ala Sinuhun adalah contoh sekaligus metafora. Di satu sisi, kita belajar tentang keteladanan dan kesederhanaan. Di sisi lain, ritual sederhana itu berubah menjadi panggung status, terselubung dalam pakaian religius dan tradisi.

Negara yang mengaku demokratis sering menolak kebenaran hanya karena terlalu jujur. Di Solo, tradisi dipoles agar terlihat harmonis, namun tetap menegaskan hierarki sosial. Di balik sholat yang khusyuk, tersimpan pelajaran tentang kekuasaan budaya dan agama bisa berfungsi sebagai alat simbolik legitimasi.

Penutup: Ibadah, Tradisi, dan Pertanyaan Publik

Langkah sederhana namun bermakna dari Pakoe Boewono XIV menegaskan satu hal kepemimpinan bukan hanya soal status, tetapi keteladanan spiritual dan budaya. Namun, pertanyaan publik tetap menggantung apakah simbol keteladanan ini benar-benar menyentuh masyarakat luas, atau hanya memantul di ruang elit?

Di Solo, spiritualitas dan kekuasaan berjalan beriringan. Kesederhanaan yang tampak tulus kadang hanya menjadi siluet dari hierarki yang tak terlihat, di balik kemegahan arsitektur dan ritual sakral yang memikat mata. @dimas

Tags: BudayaIbadahkepemimpinanKraton SurakartaPakoe Boewono XIVpurbayaSoloSpiritual

Kamu Melewatkan Ini

Saat Komunitas Bikers Tak Cuma Gas Bareng

Saat Komunitas Bikers Tak Cuma Gas Bareng

by eko
Agustus 26, 2026

Perlukah komunitas bikers punya kegiatan lebih dari sekadar touring? Motor bisa jadi awal pertemanan, pembelajaran, kegiatan sosial, dan ruang untuk...

Masjid Laweyan: Dari Pura, Menjadi Jejak Islam Tertua di Solo

Masjid Laweyan: Dari Pura, Menjadi Jejak Islam Tertua di Solo

by eko
Agustus 26, 2026

Masjid Laweyan di Solo menyimpan jejak sejarah panjang, dari konon bekas pura hingga menjadi salah satu masjid tertua di Kota...

Motor Boleh Beda, Solidaritas Jangan Hilang

Motor Boleh Beda, Solidaritas Jangan Hilang

by eko
Agustus 24, 2026

Apa pun motornya, semua berbagi satu aspal. Perayaan 26 tahun BBMC Central Java memantik pertanyaan: masihkah solidaritas antar bikers terjaga?...

Next Post
Dua Periode Prabowo-Gibran: Drama Politik Menuju 2029

Dua Periode Prabowo-Gibran: Drama Politik Menuju 2029

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id