Tabooo.id: Life – Di ruang latihan yang sederhana, deru kipas angin tidak mampu menandingi detak jantung Eliana. Ia menatap barbel seberat 78 kilogram, membayangkan semua tantangan yang telah ia lewati hinaan karena disabilitas, rasa minder, dan rutinitas padat. Pada Rabu, 21 Januari 2026, Eliana menaklukkan lawannya dari Filipina dan meraih medali emas ASEAN Para Games Ke-13, kelas 41 kilogram angkat berat.
Kehidupan Sehari-hari dan Awal Karier
Meski beralamat di Jalan Argorumekso Gang II, Kelurahan Ledok, Salatiga, Eliana sehari-hari tinggal di rumah kakaknya di Deresan, Susukan, Kabupaten Semarang. Ia bekerja sebagai buruh setrika dan mengajar membatik di yayasan setempat. Aktivitas itu membantunya bertahan hidup sekaligus melatih disiplin.
“Setiap hari saya belajar mengatur waktu dan tubuh sendiri. Itu latihan mental sebelum saya angkat barbel,” ujarnya Jumat (30/1/2026).
Karier atletiknya dimulai pada 2019 di cabang atletik. Ia sempat vakum, lalu bergabung kembali dengan NPCI Salatiga pada 2023, kali ini di cabang angkat berat keputusan yang membawanya ke podium ASEAN Para Games.
Menghadapi Tantangan
Eliana tidak menutup mata pada kenyataan pahit disabilitas kerap membuat orang meremehkan kemampuannya.
“Dulu banyak yang menertawakan saya, bahkan mengatakan saya tak mungkin berprestasi,” tambahnya.
Namun hinaan itu ia ubah menjadi bahan bakar. Motivasi terbesar datang dari keinginan membanggakan keluarga, pelatih, dan dirinya sendiri.
Ia menekankan, lawan terberat bukan siapa pun di arena, melainkan dirinya sendiri. Mengatasi rasa minder dan membangun disiplin menjadi perjuangan harian yang lebih berat daripada angkatan 78 kilogram di podium internasional.
Rangkaian Prestasi
Eliana telah menorehkan banyak prestasi. Ia meraih medali emas Kejurnas 2019 di atletik, dua medali emas Pepaprov 2023 kelas 50 kilogram angkat berat, perunggu Peparnas 2024 kelas 41 kilogram, emas Bupati Cup, serta emas Kejurprov angkat berat. Kini, medali emas ASEAN Para Games 2026 menegaskan konsistensi dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
Setiap prestasi membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang. Eliana menunjukkan bahwa ketekunan dan dedikasi dapat mengubah stigma menjadi pencapaian nyata.
Dukungan Pelatih dan Tim
Kesuksesan Eliana juga berkat dukungan pelatih. Mas Burnadus Ingge Wibowo, Ketua NPCI Salatiga, membimbingnya beradaptasi di cabor angkat berat. “Beliau mengajarkan teknik dan membangun mental saya. Tanpa arahan beliau, saya tak mungkin sampai ke sini,” ujarnya.
Dukungan ini menegaskan bahwa prestasi atlet disabilitas lahir dari sinergi antara individu, pelatih, keluarga, dan komunitas.
Refleksi Tabooo: Kekuatan dari Ketekunan
Kisah Eliana mengajarkan satu hal sederhana tapi kuat prestasi lahir dari keberanian, ketekunan, dan kerja keras, bukan dari opini publik. Mereka yang meremehkan sering menilai dari fisik, tanpa memahami perjalanan batin yang membentuk keberanian itu.
Di setiap angkatan barbel, ada cerita, air mata, dan dedikasi yang tak terlihat. Ironi sosialnya jelas dunia melihat hasil akhir, tapi jarang menyelami perjuangan di baliknya.
Penutup: Emas Bukan Sekadar Logam
Saat Eliana berdiri di podium ASEAN Para Games, ia tidak hanya mengibarkan bendera Merah Putih, tapi juga menyampaikan pesan universal ketekunan dan keberanian dapat mengubah stigma menjadi prestasi.
Medali emas itu simbol perjalanan panjang, bukan akhir cerita. Pertanyaannya kini bagi kita: apakah kita hanya melihat permukaan kesuksesan, atau mau memahami perjuangan manusia di baliknya? Eliana mengingatkan bahwa prestasi lahir dari keberanian untuk terus bangkit, melawan rasa takut, dan percaya pada diri sendiri. @dimas




