Kamis, Juni 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kemenlu RI Tegaskan Tak Ada WNI di Greenland

by dimas
Januari 22, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Greenland, Denmark, meskipun tensi geopolitik di kawasan Arktik kembali meningkat. Pernyataan ini muncul setelah isu ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perhatian global.

Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mawengkang menjelaskan bahwa data tersebut bersumber dari laporan resmi perwakilan Indonesia di Denmark.

“Berdasarkan data KBRI Copenhagen, saat ini tidak ada WNI yang tinggal dan menetap di Greenland,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (22/1/2026).

Selain itu, Kemenlu terus mengikuti perkembangan geopolitik di kawasan tersebut. Melalui langkah ini, pemerintah berupaya menjaga kepentingan diplomatik Indonesia sekaligus memastikan perlindungan WNI di luar negeri tetap optimal.

Ketegangan Greenland Kembali Menguat

Dalam beberapa bulan terakhir, Greenland kembali menjadi sorotan internasional. Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk mengambil alih pulau Arktik tersebut. Ia mengaitkan ambisi itu dengan keamanan nasional Amerika Serikat dan posisi strategis Greenland di jalur Arktik.

Ini Belum Selesai

PB XIV Hangabehi Turunkan 14 Pusaka di Tengah Dualisme Keraton

Pakoe Boewono XIV Purbaya Batal Kirab Pusaka, Ada Apa?

Lebih lanjut, Trump menilai kawasan itu rentan terhadap pengaruh China dan Rusia. Ia menegaskan bahwa kekayaan mineral serta terbukanya jalur pelayaran baru meningkatkan nilai strategis wilayah tersebut. Oleh karena itu, menurut Trump, Amerika Serikat perlu memperkuat kendali geopolitiknya.

Pada World Economic Forum di Davos, Trump kembali menegaskan sikapnya. Ia menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer. Namun demikian, ia tetap menekankan perlunya dominasi strategis AS di Greenland. Menurutnya, tanpa peran Amerika Serikat, kawasan itu berpotensi dikuasai pihak lain yang dianggap mengancam.

Denmark dan Greenland Menutup Pintu Pencaplokan

Sebaliknya, Denmark dan Greenland merespons pernyataan tersebut dengan sikap tegas. Kedua pemerintah secara terbuka menolak segala bentuk pencaplokan. Selain itu, mereka menegaskan bahwa rakyat Greenland berhak menentukan masa depan wilayahnya sendiri.

Tak hanya itu, Perdana Menteri Greenland menegaskan pilihan politik wilayahnya. Ia menyatakan Greenland akan tetap bersama Denmark dan tidak mempertimbangkan bergabung dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, dukungan dari para pemimpin Eropa terus mengalir. Mereka menilai perubahan status Greenland dapat mengganggu stabilitas politik dan keamanan Eropa. Bahkan, mereka mengingatkan bahwa isu ini berpotensi memicu eskalasi konflik baru di kawasan NATO.

Dampak Global Mulai Terasa

Meskipun isu ini tidak menyentuh WNI secara langsung, dampaknya menjalar ke masyarakat internasional. Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik kerap memengaruhi pasar energi dan komoditas global.

Akibatnya, harga energi sering berfluktuasi. Pada saat yang sama, pelaku industri energi memilih menunda investasi karena ketidakpastian meningkat. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi ini dapat menaikkan biaya produksi dan menekan daya beli masyarakat.

Lebih jauh, beban tersebut kerap dirasakan rumah tangga berpenghasilan rendah. Kelompok ini biasanya paling rentan terhadap lonjakan harga energi dan kebutuhan pokok.

Ambisi Global dan Ujian Kedaulatan

Pada akhirnya, polemik Greenland memperlihatkan benturan antara ambisi negara adidaya dan prinsip kedaulatan. Isu ini menunjukkan bahwa masyarakat global, bukan sekadar elite politik, ikut menanggung dampaknya.

Ketika kepentingan strategis dikedepankan, suara rakyat sering tersisih. Karena itu, pertanyaan mendasarnya tetap relevan siapa yang benar-benar dilindungi dalam perebutan pengaruh global ini?

Jika sebongkah es di utara mampu mengguncang pasar dan diplomasi dunia, maka kedaulatan di era modern tampaknya semakin bergantung pada kekuatan, bukan sekadar hukum. @dimas

Tags: ArktikDenmarkDonald TrumpGeopolitikGreenlandkbriKeamanan NegaraKemenluri

Kamu Melewatkan Ini

Kaya di Atas Peta, Miskin di Dalam Realitas

Kaya di Atas Peta, Miskin di Dalam Realitas

by Anisa
Juni 14, 2026

Kaya di Atas Peta, tetapi tidak selalu terasa di kehidupan sehari-hari. Indonesia memiliki tanah yang subur, sumber daya alam yang...

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026

Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya...

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

by dimas
Mei 24, 2026

AS dan Iran menunjukkan sinyal damai baru. Namun di balik negosiasi dan pembukaan Selat Hormuz, dunia masih mencium ancaman konflik...

Next Post
Hari Keenam Pencarian, Tim SAR Temukan Enam Jenazah Korban ATR 42-500

Hari Keenam Pencarian, Tim SAR Temukan Enam Jenazah Korban ATR 42-500

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id