Tabooo.id: Deep – Sabtu pekan lalu, langit di Tehran seakan menahan napas. Ledakan serentak mengguncang kompleks keamanan Iran, mengakhiri hidup Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Saksi mata melaporkan kepulan asap hitam dari Gedung Kepresidenan dan suara sirine yang meraung tanpa henti. Tak ada ucapan belasungkawa dari negara-negara Arab; justru kemarahan dan ketegangan yang meledak.
Negara Arab Diam, Ketegangan Meningkat
Respons global langsung terpecah. Negara-negara Arab yang biasanya menaruh simpati, memilih diam, bahkan bersikap kritis. Iran menuding mereka menjadi target serangan balas dendam karena rumah-rumah mereka menjadi pangkalan militer AS. Maroko, Yordania, Suriah, dan Uni Emirat Arab mengecam keras serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika, menekankan pelanggaran kedaulatan yang jelas. Ironisnya, Suriah, yang selama ini dikenal dekat dengan Iran, melalui Kementerian Luar Negeri justru mengutuk agresi tersebut, menandai upaya pemerintah baru untuk menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat dan kekuatan ekonomi regional.
Solidaritas dari Sekutu Global
Sementara itu, solidaritas datang dari luar Timur Tengah. Rusia, China, Korea Utara, Turki, hingga milisi pro-Iran menanggapi dengan nada tegas. Presiden Vladimir Putin menulis pesan belasungkawa resmi, menyebut Khamenei sebagai “negarawan luar biasa yang memperkuat persahabatan Rusia-Iran”. China mengecam tindakan AS dan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Iran dan Piagam PBB. Korea Utara bahkan menyebut aksi tersebut sebagai “tindakan gangster” yang melanggar hukum internasional.
Di sisi lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan kesedihan atas kematian Khamenei, sementara Hamas di Gaza menyoroti dukungan politik dan militer Khamenei kepada perjuangan Palestina. Kepemimpinan Houthi juga menyampaikan belasungkawa dan mengutuk keras serangan tersebut.
Domino Politik dan Dampak Ekonomi
Namun, dalam diamnya negara-negara Arab, tersimpan ironi yang tajam. Kepedihan Iran berbanding terbalik dengan ketidakpedulian tetangganya. Selat Hormuz ditutup, harga minyak meroket, dan armada tanker menghentikan operasi. Efek domino ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya menciptakan korban langsung, tetapi juga memengaruhi ekonomi, diplomasi, dan stabilitas regional.
Dari perspektif politik, kematian Khamenei membuka pertanyaan besar siapa yang benar-benar diuntungkan dari kekosongan kepemimpinan ini? Sementara sekutu global Iran bersuara lantang, sebagian besar negara Arab justru menjaga jarak. Pola ini mengisyaratkan permainan kepentingan keamanan, pengaruh regional, dan posisi strategis menjadi komoditas berharga, lebih penting daripada simpati kemanusiaan.
Korban yang Tersembunyi
Korban nyata bukan hanya pemerintah atau militer. Rakyat biasa, nelayan, pedagang, dan pengemudi kapal tanker merasakan dampaknya sehari-hari. Harga kebutuhan naik, mobilitas terganggu, dan ketegangan sosial meningkat. Ironisnya, mereka yang paling terdampak jarang terdengar suaranya di media internasional.
Refleksi Tabooo
Tabooo melihat tragedi ini sebagai refleksi sistemik kekuasaan dan konflik sering berputar di level elite, sementara mereka yang berada di garis depan rakyat biasa menjadi pion. Kebenaran sering disaring oleh kepentingan geopolitik, dan moralitas dilupakan demi strategi dan pengaruh.
Penutup yang Menyentil
Dan pada akhirnya, kematian Khamenei bukan sekadar berita duka. Ia menjadi cermin bagi dunia yang katanya modern keputusan militer, kepentingan nasional, dan ambisi global bisa mengubah hidup jutaan orang dalam hitungan detik. Sementara itu, solidaritas kemanusiaan tetap menjadi konsep yang terpinggirkan, kalah oleh logika politik dan strategi kekuasaan.
Jadi, ketika kita membaca headline dan analisis media internasional, pertanyaannya tetap sama siapa yang menanggung harga sesungguhnya dari konflik ini? Dan apakah dunia akan belajar dari ironi yang tercipta, atau terus menonton dari tribun tanpa menyalakan empati? @dimas




