Tabooo.id: Global – Yasser Abu Shabab nama yang selama setahun terakhir tiba-tiba muncul dalam peta konflik Gaza dipastikan tewas dalam sebuah pertempuran di daerah kantong tersebut. Ia bukan komandan populer, bukan pula simbol perlawanan. Justru sebaliknya ia adalah pemimpin milisi yang didukung Israel, yang mengaku anti-Hamas tapi justru ditolak rakyatnya sendiri.
Kematian Abu Shabab menutup babak kelam yang sejak awal sudah penuh kontradiksi seorang pria yang awalnya hampir tak dikenal di Gaza, lalu tiba-tiba menjadi “panglima” Pasukan Rakyat kelompok bersenjata kecil, dipersenjatai Israel, dan beroperasi di wilayah yang dikuasai Israel. Banyak warga Palestina melihatnya bukan pejuang, melainkan kriminal yang dipromosikan menjadi alat.
Siapa Untung, Siapa Buntung?
Yang jelas tidak kehilangan apa-apa dari kematiannya rakyat Palestina. Sebagian besar warga Gaza memang tidak pernah percaya pada kelompok ini. Mereka menuding Pasukan Rakyat sebagai geng kriminal yang diberi stempel politik.
Israel sempat memanfaatkan kelompok itu sebagai buffer force melawan Hamas proyek yang oleh banyak analis dinilai sebagai eksperimen gagal sejak lahir. Tujuannya kabur, dukungan publik nol besar, dan militannya hanya sekitar seratus orang.
Yang paling buntung? Israel sendiri. Hilangnya Abu Shabab berarti hilangnya satu lagi jalur proksi yang selama ini ingin dibentuk Israel di Gaza, mirip kegagalan masa lalu mereka dengan Tentara Lebanon Selatan di perbatasan utara.
Dari Narapidana hingga “Komandan” Bentukan
Profil Abu Shabab adalah ironi berlapis.
Berasal dari suku Bedouin Tarabin di Gaza Selatan, ia sebelumnya pernah dipenjara atas kasus narkoba oleh otoritas Gaza. Ketika perang pecah dan penjara kacau, ia kabur lalu bersekutu dengan Israel, negara yang saat itu sedang menggempur Gaza hingga menewaskan lebih dari 70.000 penduduk.
Dukungan sukunya sendiri? Nol. Dukungan warga Gaza? Minus.
Ia dianggap lebih haus kuasa daripada punya ideologi.
Setelah mengubah nama kelompoknya dari “Dinas Anti-Teror” menjadi “Pasukan Rakyat”, ia mulai tampil di media sosial berbahasa Inggris, bahkan sempat menulis opini di Wall Street Journal kontras dengan latar kriminal yang dituduhkan padanya.
Israel mungkin melihatnya sebagai peluang orang yang punya ambisi, tidak punya basis, dan dengan mudah diarahkan.
Bantuan Kemanusiaan yang Dijaga… atau Dijarah?
Pasukan Rakyat pernah mengklaim diri sebagai penjaga distribusi bantuan kemanusiaan, terutama di wilayah yang dikelola badan bantuan yang didukung AS dan Israel. Abu Shabab tampil dalam liputan CNN, menyebut dirinya sebagai “pelindung bantuan dari perampokan dan korupsi”.
Namun memo internal PBB yang bocor justru menyebut Abu Shabab sebagai aktor utama dalam perampokan bantuan yang sistematis.
Sumber keamanan Gaza mengonfirmasi hal yang sama kelompok pro-Israel ini ikut mengambil bantuan di tengah situasi kelaparan parah akibat blokade Israel.
Di mata publik Gaza, itu cukup untuk menghancurkan semua klaim heroiknya. Apa pun alasan yang ia bangun, tidak ada yang percaya lagi.
Akhir dari Eksperimen yang Tidak Laku
Pada Juni, Netanyahu sempat mengakui pemerintahnya memakai kelompok semacam Pasukan Rakyat untuk melawan Hamas. Tapi strategi itu tidak pernah benar-benar berjalan. Gaza bukan wilayah yang mudah “diatur” lewat proksi, terutama jika proksinya tidak punya legitimasi.
Kematian Abu Shabab bukan sekadar hilangnya satu komandan milisi. Ini adalah penutup dari eksperimen politik-militer Israel yang gagal menemukan pijakan di tengah populasi yang selama bertahun-tahun hidup di bawah blokade dan serangan.
Penutup:
Gaza kini kehilangan satu kelompok yang tak pernah mereka anggap bagian dari mereka.
Israel kehilangan satu alat yang tidak pernah benar-benar bekerja.
Dan dunia kembali diingatkan bahwa konflik tidak bisa disederhanakan menjadi permainan catur karena bidaknya punya nyawa, trauma, dan sejarah panjang.
Kadang, yang runtuh bukan hanya milisi… tapi ilusi bahwa konflik bisa dikendalikan dari balik meja rapat Tel Aviv. @dimas





