Tabooo.id: Life – Hujan gerimis menyelimuti halaman PLUT Sleman Unit 1. Kusriyah menekuni pekerjaannya, tangannya cekatan menempelkan benang ke kulit kambing yang hampir menjadi dompet. Di sampingnya, suaminya, Purnomo Adi, menata tas rajut berwarna cerah. Keduanya begitu fokus sehingga dunia terasa berhenti di sekitar meja kerja mereka.
Dari Rehabilitasi ke Kepercayaan Diri
Kisah Kusriyah bermula di Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen Untuk Kesejahteraan Umum (Yakkum). Ia sempat terpukul menghadapi keterbatasan fisik yang membatasi geraknya. Namun, interaksi dengan sesama penyandang disabilitas menyalakan semangat baru.
“Awalnya saya merasa terpuruk karena kondisi saya berbeda dari orang lain. Tapi di Yakkum, saya bertemu teman-teman yang berjuang seperti saya. Dari situ saya mulai percaya diri dan berani melangkah,” kata Kusriyah sambil tersenyum, tetap menata benang di kulit yang lentur.
Kunjungan dan pengalaman di Yakkum memberinya keberanian untuk memulai sesuatu yang lebih besar: usaha mandiri yang bisa menopang keluarganya sekaligus memberi makna baru dalam hidupnya.
Kusriyah Leather: Kemandirian di Balik Setiap Jahitan
Bersama Purnomo, yang sebelumnya bekerja di bengkel kulit lain, Kusriyah mendirikan Kusriyah Leather. Mereka memproduksi dompet, tas, dan slim bag berbahan kulit kambing. Pilihan material ini tidak sekadar estetika kekuatannya dan kemudahan dibentuk membuat produk mereka diminati pasar.
Sejak bergabung dengan PLUT Dinas Koperasi Sleman pada 2024, pasangan ini mengikuti pelatihan manajemen usaha dan strategi pemasaran digital. Hasilnya langsung terasa pesanan dari sektor perhotelan ternama mulai berdatangan, termasuk puluhan dompet untuk Hotel Amanjiwa Magelang.
“Setiap produk kami buat dengan hati. Kami ingin kualitas tetap nomor satu karena ini adalah nama baik kami,” ujar Kusriyah dengan tegas.
Mobilitas Tanpa Batas: Motor Roda Tiga sebagai Simbol Perjuangan
Keterbatasan fisik tidak menghentikan mereka bergerak. Kusriyah dan Purnomo merancang motor roda tiga khusus untuk mobilitas keluarga. Motor ini memudahkan mereka mengantar anak ke sekolah dan mengangkut barang dagangan.
Setiap Jumat, Kusriyah menjajakan produknya di halaman PLUT Sleman Unit 1, sementara Purnomo berjualan tiwul dan garang asem di Pasar Bela Negara. Dengan pengaturan yang disiplin, mereka menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. Anak pertama Kusriyah kini duduk di kelas 3 SMA, sedangkan si bungsu di kelas 7 SD.
Motor roda tiga rakitan mereka menjadi simbol nyata bagaimana kreativitas dan kerja keras bisa menembus keterbatasan fisik.
“Kami ingin membuktikan bahwa dalam keterbatasan pun, kami bisa tetap maju,” tegas Kusriyah.
Inspirasi untuk UMKM Disabilitas
Kehadiran Kusriyah dan Purnomo di Lapak Ramadhan Sleman (LARIS) 2026 bukan sekadar menjual produk. Mereka hadir sebagai cermin ketangguhan bagi pelaku UMKM disabilitas lainnya.
“Kisah mereka menunjukkan bahwa martabat manusia tidak diukur dari keterbatasan fisik, tetapi dari kegigihan dalam berikhtiar,” ujar petugas PLUT Sleman. Dukungan pemerintah melalui PLUT membantu pelaku usaha seperti Kusriyah memperluas pasar dan mengembangkan kapasitas produksi.
Refleksi: Keterbatasan Sebagai Pendorong
Kisah Kusriyah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berdaya. Dengan keikhlasan, ketekunan, dan dukungan yang tepat, manusia bisa mandiri, kreatif, dan produktif.
Di sela pameran, Kusriyah menatap produknya. Setiap tas dan dompet menceritakan perjalanan hidupnya: dari masa-masa di Yakkum hingga motor roda tiga yang menjemput anak ke sekolah. Semua menjadi simbol bahwa kehidupan bisa diubah dengan usaha konsisten, meski sederhana.
“Kalau kita mau berusaha dan tidak menyerah, keterbatasan hanya jadi catatan kaki dalam cerita hidup kita,” tutup Kusriyah dengan senyum penuh optimisme. @dimas




