Tabooo.id: Deep – Pagi di Kabupaten Ngada selalu terasa sederhana. Matahari perlahan naik di balik perbukitan, sementara ayam berkokok menyambut hari. Di sudut kampung, ibu-ibu menimba air, dan jalan tanah masih menyimpan sisa embun semalam.
Namun, rutinitas itu mendadak retak. Dari sebuah rumah kecil, kabar memilukan menyebar.
Seorang anak berusia 10 tahun ditemukan tak lagi bernapas. Ia bernama YBS.
Pada usia itu, ia seharusnya bersiap mengenakan seragam merah putih. Barangkali ia akan mengeluh karena sepatunya mulai sempit atau menyontek PR temannya sambil tertawa kecil. Akan tetapi, pagi itu justru menghadirkan tubuh kecil yang terbaring dingin. Sunyi.
Tak ada sorak kemenangan. Tak pula muncul cerita tentang cita-cita. Yang tersisa hanyalah duka, tanya, dan rasa bersalah kolektif.
Dari titik inilah, pertanyaan sulit muncul mengapa seorang anak, yang semestinya sibuk bermain dan bermimpi, justru memilih mengakhiri hidup?
Kata “Gratis” Kehilangan Makna
Selama bertahun-tahun, negara mengulang satu janji dengan penuh keyakinan pendidikan dasar gratis.
Janji tersebut terpampang di spanduk, tertulis dalam dokumen kebijakan, serta terdengar dalam pidato pejabat. Meski demikian, menurut pengamat pendidikan Nusa Tenggara Timur, Vincentius Mauk kata “gratis” sering berhenti sebagai slogan.
Memang, sekolah tidak lagi memungut SPP. Selain itu, pemerintah menyalurkan dana BOS dan menyusun berbagai regulasi. Namun, di banyak tempat, anak-anak tetap memikul beban.
Sebagian anak memikirkan buku yang belum terbeli. Yang lain menyembunyikan seragam yang mulai robek. Ada pula yang menunduk karena tak memiliki alat tulis.
“Kasus YBS bukan hanya tentang satu anak, Peristiwa ini, pada dasarnya, menunjukkan bahwa sistem masih perlu kita benahi bersama.” ujar Vincentius.
Ia menegaskan bahwa pendidikan gratis seharusnya membebaskan anak dari seluruh hambatan ekonomi yang mengganggu proses belajar, bukan sekadar membebaskan biaya sekolah. Oleh karena itu, seorang anak tidak pantas menanggung kecemasan orang dewasa.
Beban Kecil di Punggung yang Terlalu Muda
Di sekolah, YBS dikenal pendiam.
Banyak orang menafsirkan sikap pendiam sebagai tanda baik-baik saja. Sebagian lainnya menganggapnya sebagai bentuk kekuatan. Akibatnya, anak-anak seperti YBS kerap luput dari perhatian.
Padahal, diam kerap menyimpan ribuan teriakan.
Bayangkan seorang anak berusia 10 tahun yang sadar keluarganya miskin. Setiap hari, ia melihat orang-orang dewasa di sekitarnya bekerja keras. Dari situ, perlahan tumbuh perasaan bahwa dirinya hanyalah beban.
Sepulang sekolah, pertanyaan pun berputar di kepalanya:
“Kalau aku minta buku, apakah ibu akan sedih, Jika aku mengeluh, apakah ayah akan merasa gagal?”
Pada usia tersebut, logika belum sepenuhnya berkembang. Sementara itu, perasaan justru bekerja lebih dominan. Jika perasaan ini terus terpendam, ia dapat berubah menjadi tekanan yang menyesakkan.
Sekolah yang Terlalu Fokus pada Akademik
Di banyak sekolah, guru dan murid berkejaran dengan angka.
Ujian datang silih berganti, ranking diumumkan rutin, dan target kelulusan menjadi tolok ukur utama.
Di sisi lain, pertanyaan paling mendasar sering terabaikan:
“Apakah kamu baik-baik saja hari ini, Apa yang sedang kamu rasakan?”
Vincentius menilai sekolah perlu membuka ruang lebih luas bagi konseling dan pendampingan psikologis. Menurutnya, layanan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan dasar.
Anak-anak perlu merasa aman ketika bercerita. Selain itu, mereka juga harus tahu bahwa menangis itu wajar dan meminta bantuan bukan aib.
Di beberapa daerah, mahasiswa psikologi telah turun memberikan layanan konseling gratis melalui program pengabdian masyarakat. Praktik ini terbukti membantu. Namun demikian, model tersebut belum berkembang secara luas.
Lubang Besar dalam Pendataan Bantuan Sosial
Selain persoalan sekolah, tragedi YBS turut menyingkap masalah lama pendataan keluarga miskin yang belum akurat.
Pemerintah menyediakan program bantuan. Negara juga menyiapkan anggaran. Regulasi bahkan telah tersedia. Akan tetapi, keluarga seperti YBR tetap bisa terlewat.
Vincentius menyebut kondisi ini sebagai kegagalan mekanisme, bukan ketiadaan sumber daya.
Terlalu sering sistem bekerja dari balik meja. Sementara itu, kemiskinan hidup di lorong-lorong sempit.
Karena itulah, ia mendorong kolaborasi nyata antara sekolah, pemerintah desa, kelurahan, dan dinas sosial. Guru serta kepala sekolah, menurutnya, harus menjadi mata dan telinga negara.
Merekalah yang melihat siapa datang tanpa bekal, siapa selalu menunduk saat diminta iuran, serta siapa kerap absen tanpa alasan jelas. Dengan komunikasi yang baik, bantuan dapat tiba sebelum terlambat.
Anak yang Belajar Menyalahkan Diri Sendiri
Bagian paling menyayat dari tragedi ini terletak pada kemungkinan bahwa YBS menyalahkan dirinya sendiri.
Banyak anak mengira dunia berputar di sekitar mereka. Ketika keluarga miskin, mereka merasa penyebabnya. Saat orang tua stres, mereka menganggap dirinya bersalah. Jika sekolah terasa berat, mereka menilai diri sendiri bodoh.
Padahal, semua itu bukan kesalahan mereka.
Yang gagal adalah sistem. Yang timpang adalah struktur sosial.
Namun, anak-anak tidak memahami istilah besar tersebut. Bagi mereka, yang terasa hanya satu kalimat sederhana: aku tidak cukup.
Apa yang Disembunyikan Sistem?
Sistem memuja angka.
Ia menghitung persentase partisipasi sekolah, mencatat jumlah gedung, dan merinci besar anggaran.
Sebaliknya, sistem jarang mengukur kesepian.
Tak tersedia kolom untuk menghitung berapa banyak anak merasa tak diinginkan. Bahkan grafik tentang berapa banyak anak memendam putus asa pun tidak ada.
Di sinilah letak ilusi besar banyak orang mengira membuka sekolah berarti menyelesaikan masalah.
Padahal, sekolah hanyalah salah satu ruang hidup anak. Ketika rumah penuh kekurangan, lingkungan miskin dukungan, dan negara lambat merespons, sekolah sendirian tidak akan cukup.
Tragedi YBR menegaskan satu hal pembangunan fisik tanpa pembangunan empati hanya melahirkan bangunan kosong megah dari luar, rapuh di dalam.
Antara Simpati dan Keberanian Berubah
Setiap tragedi memang melahirkan simpati.
Orang-orang menyampaikan belasungkawa. Karangan bunga berdatangan. Pejabat menyatakan keprihatinan.
Namun, simpati saja tidak akan menyelamatkan anak berikutnya.
Yang benar-benar dibutuhkan adalah keberanian untuk berubah.
Keberanian untuk mengakui sistem bocor, keberanian memperbaiki pendataan, serta keberanian menempatkan kesehatan mental anak sebagai prioritas.
Lebih jauh, kita juga perlu berhenti menganggap bunuh diri anak sebagai “kasus individu”. Tidak ada bunuh diri anak yang benar-benar berdiri sendiri. Selalu ada konteks. Selalu ada rangkaian kegagalan.
Sebuah Pertanyaan yang Tertinggal
Di pemakaman YBS, tanah merah menutup tubuh kecil itu. Doa mengalir, Air mata jatuh.
Namun, satu pertanyaan terus menggantung, Berapa banyak YBS lain yang hari ini masih diam di bangku kelas?
Sebagian dari mereka tersenyum tipis. Ada yang jarang bicara. Ada pula yang memikul beban terlalu besar.
Jika kita terus memaknai pendidikan gratis sebatas bebas SPP, maka kita sedang menyiapkan tragedi berikutnya. Jika kesehatan mental anak terus kita abaikan, kita sedang menormalisasi keputusasaan.
Kematian YBS memang tidak bisa diubah. Meski demikian, peristiwa ini dapat menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang sangat salah.
Sekarang, pertanyaannya sederhana Apakah kita cukup peduli untuk benar-benar berubah?
Atau kita hanya akan menunggu nama berikutnya? @dimas




