Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

DPR Nilai Tragedi Siswa SD di NTT Alarm Keras Dunia Pendidikan

by dimas
Februari 4, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief, menilai kasus wafatnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai potret kelam pemenuhan hak dasar anak di sektor pendidikan. Ia merespons dugaan bunuh diri siswa tersebut yang dipicu ketidakmampuan membeli buku dan alat tulis.

Menurut Syarief, peristiwa ini menunjukkan masih lebarnya celah dalam sistem pendidikan nasional, terutama dalam melindungi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Peristiwa tersebut merupakan potret buram dunia pendidikan nasional yang menunjukkan masih adanya celah besar dalam pemenuhan hak dasar belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu,” ujar Syarief dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).

Anggaran Besar, Masalah Tetap Terjadi

Syarief menyoroti besarnya alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan dan bantuan sosial. Dengan anggaran sebesar itu, ia menilai pemerintah seharusnya mampu memastikan seluruh siswa memperoleh kebutuhan dasar untuk bersekolah.

Ia menegaskan, negara tidak boleh membiarkan anak kehilangan akses pendidikan hanya karena tidak mampu membeli buku atau alat tulis.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

“Sejauh yang kami ketahui, anggaran pendidikan dari APBN itu besar. Karena itu, kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis seharusnya bisa terpenuhi,” tegasnya.

Ia menilai, jika kasus seperti ini masih terjadi, maka ada persoalan serius dalam tata kelola dan distribusi bantuan pendidikan.

DPR Dorong Audit Penyaluran Bantuan

Selain menyoroti anggaran, Syarief mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menelusuri ada atau tidaknya kelalaian dalam penyaluran bantuan pendidikan.

Menurutnya, pengusutan ini penting agar negara tidak terlihat abai terhadap nasib anak-anak miskin.

“Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” tambahnya.

Ia juga meminta pemerintah mendata ulang kondisi ekonomi siswa, khususnya di NTT dan wilayah lain dengan tingkat kemiskinan tinggi. Selain itu, ia mendorong penguatan program perlengkapan sekolah gratis agar menjangkau seluruh siswa yang membutuhkan.

Peran Guru dan Sekolah Jadi Kunci

Syarief menekankan pentingnya peran guru dan kepala sekolah dalam memantau kondisi psikologis peserta didik. Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi anak-anak.

“Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah harus memastikan sekolah memiliki mekanisme pendampingan bagi siswa yang menunjukkan tanda-tanda tekanan berat.

Kisah YBS dan Lingkaran Kemiskinan

Kematian YBS (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengguncang banyak pihak. Bocah itu diduga mengakhiri hidupnya setelah putus asa karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000.

Saat YBS meminta uang kepada ibunya, MGT (47), sang ibu menjawab bahwa keluarga mereka tidak memiliki uang.

Bagi keluarga tersebut, nominal Rp 10.000 bukan angka kecil. MGT bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Ia membesarkan lima anak seorang diri setelah menjadi janda.

Untuk meringankan beban ibunya, YBS tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana. Tidak jauh dari pondok itulah, pada Kamis (29/1/2026), YBS ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di dahan pohon cengkih.

Siapa yang Paling Terdampak?

Kasus ini paling keras menghantam anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, terutama di daerah terpencil. Mereka menghadapi risiko ganda: kemiskinan struktural dan lemahnya jangkauan bantuan negara.

Di sisi lain, masyarakat luas ikut menanggung dampak sosial berupa hilangnya kepercayaan terhadap klaim pendidikan gratis yang selama ini digaungkan pemerintah.

Tragedi ini menampar banyak pihak. Ketika negara mengklaim pendidikan gratis, tetapi seorang anak masih menyerah karena tidak mampu membeli buku, maka yang perlu dipertanyakan bukan lagi niat kebijakan, melainkan keberanian untuk memastikan kebijakan itu benar-benar bekerja. @dimas

Tags: AnakBantuanDPRGratisHakKemiskinanNTTPendidikanPerlindunganSiswa

Kamu Melewatkan Ini

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

by teguh
Mei 13, 2026

Di banyak sudut Nusa Tenggara Timur (NTT), sekolah tidak selalu terasa dekat dengan mimpi. Bagi sebagian anak, ruang kelas justru...

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

by teguh
Mei 13, 2026

Sebuah video membuat publik berhenti scroll. Bukan karena keributan. Bukan juga karena drama panggung lomba. Publik justru menyorot keberanian seorang...

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

by teguh
Mei 12, 2026

Bagi banyak keluarga miskin, sekolah sering terasa seperti mimpi mahal. Namun, Sekolah Rakyat di Kota Kupang mulai membuka pintu baru...

Next Post
Iran Siap Negosiasi dengan Trump di Tengah Aksi Militer AS

Iran Siap Negosiasi dengan Trump di Tengah Aksi Militer AS

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id