Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kapal Tua, Harga Premium: Akuisisi yang Menggoyang Wibawa BUMN

by dimas
November 23, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kasus akuisisi PT Jembatan Nusantara (JN) oleh PT ASDP Indonesia Ferry kembali meledak setelah KPK menegaskan satu hal yang sejak lama hanya berputar sebagai bisik-bisik kerugian negara benar-benar nyata. Bukan asumsi politik. Bukan hitung-hitungan liar. Nilainya pun brutal Rp1,25 triliun, angka yang mendekati total loss. Dalam bahasa sederhana uang rakyat tenggelam seperti kapal tua yang dibiarkan karam pelan-pelan.

Majelis Hakim Tipikor Jakarta Pusat memperkuat fakta tersebut. Mereka memvonis Ira Puspadewi, Direktur Utama ASDP 2017-2024, karena melakukan perbuatan melawan hukum dalam proses akuisisi itu. Dengan kata lain, seluruh skema akuisisi ini tidak sekadar salah langkah ia tampak seperti panggung besar yang sudah dipersiapkan sejak awal, lengkap dengan properti, naskah, dan pemainnya.

Valuasi yang Bisa Dipesan, Layaknya Kopi di Kafe

KPK menjelaskan temuan yang paling meresahkan angka valuasi bisa menyesuaikan permintaan.
KJPP yang seharusnya independen justru disebut mengikuti keinginan direksi. Mereka memilih DLOM yang paling menguntungkan, mengubah kertas kerja, dan mengikuti asumsi konsultan yang sudah diarahkan.

Akibatnya, proses valuasi kehilangan tujuan aslinya. Valuasi seharusnya mengukur risiko dan menentukan harga wajar. Namun dalam kasus ini, angka berubah menjadi alat kosmetik memoles kapal tua agar terlihat seperti armada premium.

Padahal lebih dari 95% aset PT JN adalah kapal berusia di atas 30 tahun. Nilai bukunya melonjak aneh karena kapitalisasi biaya pemeliharaan, revaluasi agresif, hingga transaksi antar-afiliasi yang tidak melibatkan pembayaran riil. Kapalnya sama, usianya sama, tetapi harganya meroket seperti baru turun dari galangan.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Perusahaan Sakit yang Dibeli Mahal Pertanyaannya: Siapa Untung?

Jika melihat laporan keuangan PT JN, situasinya jelas memburuk sejak 2017.
Return on Assets menurun, current ratio melemah, dan perusahaan menanggung utang bank Rp580 miliar. Dengan kondisi seperti itu, muncul pertanyaan sederhana tapi fatal:

Mengapa BUMN membeli perusahaan yang sedang sekarat dengan harga setinggi langit?

Jawabannya mengarah pada pola lama keuntungan tidak mengalir ke negara atau publik, tetapi ke kelompok kecil yang mengatur transaksi.

Sementara itu, publik pemilik sah BUMN lewat pajak hanya kebagian dampak.
Jika BUMN rugi, tarif berpotensi naik, perawatan armada bisa tertunda, dan layanan publik ikut menurun.

Pertarungan Persepsi di Medsos

Di saat pengadilan memutuskan lewat bukti, media sosial bergerak lewat narasi.
Banyak unggahan yang membela terdakwa tanpa memuat fakta sidang. KPK menegaskan hal ini karena unggahan-unggahan tersebut membentuk opini yang bertabrakan dengan bukti hukum.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertarungan hukum kini tidak hanya terjadi di ruang sidang, tetapi juga di ruang komentar.
Di pengadilan, orang berdebat data.
Di media sosial, orang bertarung persepsi.
Dan sering kali, persepsi lebih kuat daripada putusan.

Oligarki BUMN dan Lubang Gelap Aset Negara

Kasus ASDP membuka dua luka lama:

Pertama, BUMN terlalu mudah dimanipulasi melalui valuasi.
Angka bisa digeser, aset bisa dipoles, dan proses teknis yang kompleks membuat publik sulit mengawasi.

Kedua, skema akuisisi BUMN terlalu empuk untuk dimainkan.
Karena hanya sedikit orang yang paham mekanismenya, manipulasi dapat tersembunyi dalam dokumen setebal ratusan halaman.

Secara politik, kasus ini menguji keseriusan pemerintah dalam membersihkan korupsi level elite BUMN wilayah yang jarang tersentuh tetapi menyimpan aset raksasa.
Secara ekonomi, kerugian Rp1,25 triliun bukan sekadar angka di berita.
Itu sama dengan puluhan kapal baru, pembenahan pelabuhan, hingga peningkatan layanan publik yang kini menguap.

Akhirnya, Pertanyaan Itu Muncul Lagi: BUMN Ini Bekerja untuk Siapa?

Kasus ASDP memperlihatkan bagaimana pengelolaan aset negara dapat berubah menjadi akrobat valuasi dan drama korporasi.
Jika valuasi mudah disetel, jika perusahaan bermasalah dibeli mahal, dan jika laporan keuangan dapat dipoles, publik punya hak penuh untuk bertanya:

BUMN bekerja untuk negara atau untuk segelintir orang yang bisa menyeting permainan?

Pada akhirnya, korupsi memang seperti kapal tua:
dari jauh tampak kokoh,
tetapi ketika diperiksa,
bocornya ada di mana-mana. @dimas

Tags: ASDPKPK

Kamu Melewatkan Ini

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

by dimas
Juni 6, 2026

KPK menyita mobil sport, Harley, perhiasan, dan valas dari rumah Silmy Karim. Penyidik menelusuri dugaan korupsi izin tinggal WNA senilai...

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Ketika Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite?

by teguh
Mei 29, 2026

Rel kereta seharusnya membawa orang sampai tujuan. Namun dalam kasus dugaan korupsi proyek jalur kereta di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA)...

Dugaan Gratifikasi di Kemenhub: Rel Kereta atau Jalur Uang?

Dugaan Gratifikasi di Kemenhub: Rel Kereta atau Jalur Uang?

by teguh
Mei 28, 2026

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memburu dugaan aliran uang dalam kasus korupsi proyek jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian...

Next Post
Emil Audero Terbang Rendah di Malam Berat Cremonese

Emil Audero Terbang Rendah di Malam Berat Cremonese

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id