Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite?

by teguh
Mei 29, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Rel kereta seharusnya membawa orang sampai tujuan. Namun dalam kasus dugaan korupsi proyek jalur kereta di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, rel itu justru menyeret pertanyaan lain siapa yang sebenarnya menikmati perjalanan paling cepat dari proyek negara?.

Tabooo.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini membongkar dugaan penerimaan uang di lingkungan Kementerian Perhubungan. Penyidik memeriksa dua aparatur sipil negara (ASN) Kemenhub, Iman Sukandar dan Benny Nurdin Yusuf, untuk menelusuri dugaan gratifikasi dalam proyek negara untuk pembangunan jalur kereta.

“Pemeriksaan ini terkait dugaan pasal 12B (gratifikasi),” kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo.

Sekilas, kasus ini terlihat seperti perkara korupsi biasa. Ada pemeriksaan, nama pejabat muncul, lalu publik menunggu sidang. Namun kalau ditarik lebih dalam, kasus DJKA membuka pertanyaan yang lebih besar kenapa proyek transportasi negara terus menjadi magnet rente?

Masalahnya, ini bukan cerita baru.

Ketika Proyek Infrastruktur Menjadi Arena Berebut Untung

KPK juga menelusuri dugaan peran Bupati Pati nonaktif, Sudewo, yang sebelumnya duduk di Komisi V DPR. Komisi itu membawahi sektor infrastruktur dan transportasi.

Ini Belum Selesai

Dawet, Kendi, dan Mata Air: Membaca Filosofi Ritual Jawa

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggeledahan Ponpes, Ini Kronologi Lengkapnya

Penyidik tidak hanya mengejar aliran uang. Mereka juga menggali dugaan pengondisian vendor dalam proyek pembangunan jalur kereta di DJKA.

Kalimat “pengondisian vendor” memang terdengar teknis. Namun dalam praktiknya, istilah itu sering mengarah pada permainan proyek sebelum tender berjalan.

Pihak tertentu mengatur pemenang. Aktor tertentu membuka akses. Sementara proyek publik berubah menjadi ruang negosiasi kepentingan.

Pakar administrasi publik dari Universitas Indonesia, Prof. Eko Prasojo, berulang kali mengingatkan bahwa proyek infrastruktur menyimpan risiko korupsi tinggi. Nilai anggaran yang besar, proses teknis yang rumit, serta banyaknya aktor politik dan birokrasi membuka ruang kompromi kepentingan.

Semakin besar proyek, semakin besar pula ruang transaksi di belakang layar.

Pengamat antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana, juga kerap menyoroti budaya rente yang hidup dalam proyek pemerintah. Banyak pihak tidak lagi melihat proyek sebagai layanan publik. Mereka justru memandangnya sebagai sumber keuntungan informal.

Ironisnya, pola itu terus muncul dengan wajah berbeda. Jalan tol tersandung kasus. Bansos masuk pusaran korupsi. Stadion bermasalah. Kini proyek jalur kereta ikut terseret.

Nama kasus boleh berubah. Namun polanya terasa sama.

Rel Kereta, Relasi Politik, dan Jalur Kekuasaan

KPK kini menelusuri hubungan antara proyek dan kekuasaan. Penyidik menggali peran Sudewo saat masih menjabat anggota Komisi V DPR.

Mereka mencari jawaban atas satu pertanyaan penting: apakah akses politik ikut membuka jalan bagi pengondisian proyek?

Kalau dugaan itu terbukti, maka persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar gratifikasi.

Kasus ini akan menunjukkan bagaimana sebagian elite memanfaatkan proyek publik sebagai arena pertukaran pengaruh.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, pernah menjelaskan bahwa korupsi infrastruktur tumbuh subur dalam sistem patronase. Orang yang punya akses politik sering mendapat ruang lebih besar untuk mengendalikan anggaran publik.

Singkatnya, proyek tidak selalu memilih pihak terbaik. Kadang proyek memilih pihak terdekat. Dan publik kembali duduk di kursi penonton.

Dampaknya Buat Kamu: Proyek Mahal, Pelayanan Belum Tentu Membaik

Korupsi infrastruktur tidak berhenti di angka laporan audit. Publik ikut menanggung akibatnya.

Ketika fee proyek menggerus anggaran, kualitas pekerjaan sering ikut turun. Kontraktor menekan biaya material. Pengawasan melemah. Proyek mengejar target tanpa mutu yang matang.

Akibatnya terasa nyata Kereta terlambat, Jalur cepat rusak, Biaya logistik tetap tinggi, dan anggaran negara bocor.

Padahal pemerintah terus berbicara tentang konektivitas nasional. Publik juga berharap transportasi murah, cepat, dan aman.

Namun kalau rente menguasai proyek, maka yang melaju paling cepat justru uang Bukan pembangunan.

Ini Bukan Sekadar Kasus. Ini Pola Lama

Pertanyaan paling jujur sebenarnya sederhana: kenapa kasus seperti ini terus berulang? Jawabannya mungkin pahit.

Pengawasan sering tertinggal dari permainan proyek. Sistem pengadaan masih membuka banyak celah. Relasi politik dan anggaran terlalu dekat.

Sementara itu, proyek infrastruktur selalu menawarkan angka besar. Dan di negeri dengan birokrasi panjang, angka besar sering mengundang godaan yang lebih besar.

Kasus DJKA mengingatkan publik pada satu hal penting korupsi tidak selalu datang lewat koper uang atau transaksi gelap.

Kadang korupsi berjalan rapi Ia hadir lewat rapat resmi. Dokumen formal. Bahasa teknis. Prosedur administrasi. Kelihatannya legal Namun dampaknya sangat sosial.

KPK masih mengusut perkara ini. Semua pihak tetap memiliki hak atas asas praduga tak bersalah sampai pengadilan menjatuhkan putusan tetap.

Namun publik juga punya hak untuk curiga pada pola yang terus berulang. Rel kereta mestinya membawa masa depan.

Tapi kalau elite membelokkan rel itu untuk kepentingan sendiri, pertanyaannya tinggal satu Sampai kapan uang rakyat kehilangan arah?

Di negeri yang sibuk membangun rel, kadang yang paling cepat sampai tujuan justru aliran fee proyek. @teguh

Tags: Bupati PatiDJKAFee ProyekGratifikasiICWInfrastrukturjalurkeretaKemenhubKomisi V DPRkorupsiKPKpolitikProyek NegaraSudewo

Kamu Melewatkan Ini

Dana Karhutla Ikut Dikorupsi, KPK Telusuri Pengadaan HT BNPB

Dana Karhutla Ikut Dikorupsi, KPK Telusuri Pengadaan HT BNPB

by dimas
Oktober 16, 2026

Dana karhutla diduga ikut dikorupsi dalam perkara Dana Siap Pakai BNPB. KPK menelusuri pengadaan alat komunikasi HT untuk penanganan kebakaran...

Dana Darurat, Dugaan Suap dan Sitaan Rp5,47 Miliar di BNPB

Dana Darurat, Dugaan Suap dan Sitaan Rp5,47 Miliar di BNPB

by dimas
Oktober 16, 2026

KPK menyita aset Rp5,47 miliar dalam kasus dugaan korupsi pengadaan BNPB. Lima tersangka terseret dugaan suap dan konflik kepentingan. Tabooo.id...

OTT Bupati Klaten: KPK Tetapkan Tersangka, Rp1,9 Miliar Jadi Barang Bukti

OTT Bupati Klaten: KPK Tetapkan Tersangka, Rp1,9 Miliar Jadi Barang Bukti

by teguh
Oktober 16, 2026

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meningkatkan penanganan kasus operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo ke tahap penyidikan....

Next Post
Anak Hafal Skin Mobile Legends daripada Congklak, Siapa yang Salah?

Anak Hafal Skin Mobile Legends daripada Congklak, Siapa yang Salah?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id