“Anak sekarang kebanyakan gadget dan hafal skin mobile legend.” Kalimat ini mungkin jadi keluhan paling sering terdengar di meja makan keluarga Indonesia. Namun, pertanyaannya benarkah gadget jadi satu-satunya masalah? Atau justru orang dewasa ikut menciptakan dunia yang membuat anak kehilangan ruang bermain?
Tabooo.id – Di sudut jalan yang makin sepi, pedagang masih menjajakan kincir angin plastik, seruling bambu, dan otok-otok kayu. Akan tetapi, pemandangan itu makin jarang muncul. Zaman pelan-pelan menggeser mainan tradisional ke pinggir jalan, sementara layar digital mengambil ruang utama masa kecil. Fenomena yang terjadi anak akan lebih hafal skin mobile legend daripada mainan tradisional.
Masalahnya, anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda. Mereka mengenal layar sebelum mengenal tanah lapang. Bahkan, sebagian anak bisa menyebut karakter game lebih cepat daripada nama permainan tradisional.
Lalu pertanyaannya makin besar apakah teknologi membuat anak lebih pintar, atau justru mengurangi pengalaman sosial mereka?
Gadget Bikin Anak Pintar? Ya, Tapi Ada Catatannya
Mari jujur. Gadget bukan musuh. Banyak anak belajar membaca lewat video edukasi. Selain itu, mereka juga mengenal bahasa asing melalui game atau media sosial.
Bahkan, sebagian anak mulai memahami teknologi lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Namun, screen time tanpa batas tetap membawa konsekuensi.
Akademisi sosiologi anak dalam narasi ini mengingatkan:
“Transformasi dari mainan fisik ke digital mengubah struktur kognitif dan sosial anak. Mainan di gerobak itu melatih kecerdasan kinestetik dan interpersonal. Pemerintah dan institusi pendidikan harus melihat ini sebagai isu serius, bukan sekadar romantisme masa lalu.”
Masalah utamanya bukan teknologi. Sebaliknya, masalah muncul ketika layar menggantikan hampir seluruh pengalaman hidup anak.
Dulu, anak belajar negosiasi saat rebutan layangan. Mereka juga belajar menyelesaikan konflik langsung di lapangan. Sementara itu, hari ini banyak anak menyelesaikan konflik lewat tombol mute atau blokir.
Ironisnya, anak makin terkoneksi secara digital, tetapi sebagian dari mereka justru makin jauh dari interaksi sosial nyata.
Orang Tua Gagal Menyediakan Ruang Bermain?
Bagian ini mungkin terasa tidak nyaman. Kita sering menyalahkan gadget. Namun, siapa yang pertama memberi ponsel agar anak diam saat makan? Siapa yang merasa lebih tenang ketika anak sibuk menatap layar dibanding bermain di luar rumah?
Pertanyaan ini memang keras. Meski begitu, kita tetap perlu membicarakannya.
Budayawan dalam narasi ini mengatakan:
“Mainan tradisional bukan sekadar alat bermain, melainkan wadah pengenalan filosofi hidup dan kearifan lokal sejak dini.”
Kalau anak sekarang tidak kenal congklak, egrang, atau seruling bambu, mungkin masalahnya bukan karena mereka menolak budaya. Sebaliknya, bisa jadi tidak ada lagi yang memperkenalkannya.
Lapangan berubah jadi bangunan. Gang kecil berubah jadi parkiran. Selain itu, ritme kerja orang tua juga makin sibuk. Akibatnya, banyak anak akhirnya berteman dengan algoritma.
Lalu, apakah adil kalau kita hanya menyalahkan gadget?
Haruskah Sekolah Wajibkan Permainan Tradisional?
Perdebatan ini mulai ramai. Sebagian pengamat pendidikan mendorong sekolah menghidupkan kembali permainan tradisional dalam aktivitas belajar. Tujuannya bukan sekadar nostalgia. Sebaliknya, mereka ingin membangun ulang interaksi sosial anak.
Pengamat kebijakan publik dalam narasi ini bahkan menilai pemerintah daerah perlu memberi ruang khusus bagi budaya lokal.
“Pemerintah daerah perlu hadir, bukan sekadar menertibkan pedagang mainan tradisional, tetapi memberi ruang premium bagi mereka sebagai bagian dari diplomasi budaya lokal.”
Bayangkan kalau sekolah menyediakan satu hari khusus permainan tradisional.
Anak belajar kerja sama lewat gobak sodor. Mereka belajar strategi lewat congklak. Selain itu, mereka juga belajar sabar saat menerbangkan layangan.
Kelihatannya sederhana. Namun, justru hal sederhana itu mulai mahal hari ini interaksi nyata.
Teknologi vs Budaya: Harus Memilih?
Jawabannya mungkin tidak. Anak tetap bisa bermain game. Namun, mereka juga perlu mengenal permainan yang melibatkan tubuh, emosi, dan interaksi langsung.
Dengan begitu, mereka tidak hanya memahami dunia virtual, tetapi juga memahami rasa kalah, menang, dan berdamai secara nyata.
Karena kalau semua pengalaman hidup berpindah ke layar, kita mungkin sedang membentuk generasi yang unggul secara digital, tetapi rapuh secara sosial.
Dan ini bukan sekadar soal mainan tradisional. Ini tentang bagaimana masa kecil berubah pelan-pelan tanpa banyak orang sadar.
Karena ketika anak lebih hafal nama skin Mobile Legends dibanding permainan warisan budaya, mungkin masalahnya bukan mereka terlalu modern.
Mungkin kita terlalu sibuk sampai lupa menyediakan dunia bermain. Lalu, menurutmu siapa yang paling bertanggung jawab: teknologi, orang tua, sekolah, atau pemerintah?.







