Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Anak Hafal Skin Mobile Legends daripada Congklak, Siapa yang Salah?

by teguh
Mei 29, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
“Anak sekarang kebanyakan gadget dan hafal skin mobile legend.” Kalimat ini mungkin jadi keluhan paling sering terdengar di meja makan keluarga Indonesia. Namun, pertanyaannya benarkah gadget jadi satu-satunya masalah? Atau justru orang dewasa ikut menciptakan dunia yang membuat anak kehilangan ruang bermain?

Tabooo.id – Di sudut jalan yang makin sepi, pedagang masih menjajakan kincir angin plastik, seruling bambu, dan otok-otok kayu. Akan tetapi, pemandangan itu makin jarang muncul. Zaman pelan-pelan menggeser mainan tradisional ke pinggir jalan, sementara layar digital mengambil ruang utama masa kecil. Fenomena yang terjadi anak akan lebih hafal skin mobile legend daripada mainan tradisional.

Masalahnya, anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda. Mereka mengenal layar sebelum mengenal tanah lapang. Bahkan, sebagian anak bisa menyebut karakter game lebih cepat daripada nama permainan tradisional.

Lalu pertanyaannya makin besar apakah teknologi membuat anak lebih pintar, atau justru mengurangi pengalaman sosial mereka?

Gadget Bikin Anak Pintar? Ya, Tapi Ada Catatannya

Mari jujur. Gadget bukan musuh. Banyak anak belajar membaca lewat video edukasi. Selain itu, mereka juga mengenal bahasa asing melalui game atau media sosial.

Bahkan, sebagian anak mulai memahami teknologi lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Namun, screen time tanpa batas tetap membawa konsekuensi.

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Akademisi sosiologi anak dalam narasi ini mengingatkan:

“Transformasi dari mainan fisik ke digital mengubah struktur kognitif dan sosial anak. Mainan di gerobak itu melatih kecerdasan kinestetik dan interpersonal. Pemerintah dan institusi pendidikan harus melihat ini sebagai isu serius, bukan sekadar romantisme masa lalu.”

Masalah utamanya bukan teknologi. Sebaliknya, masalah muncul ketika layar menggantikan hampir seluruh pengalaman hidup anak.

Dulu, anak belajar negosiasi saat rebutan layangan. Mereka juga belajar menyelesaikan konflik langsung di lapangan. Sementara itu, hari ini banyak anak menyelesaikan konflik lewat tombol mute atau blokir.

Ironisnya, anak makin terkoneksi secara digital, tetapi sebagian dari mereka justru makin jauh dari interaksi sosial nyata.

Orang Tua Gagal Menyediakan Ruang Bermain?

Bagian ini mungkin terasa tidak nyaman. Kita sering menyalahkan gadget. Namun, siapa yang pertama memberi ponsel agar anak diam saat makan? Siapa yang merasa lebih tenang ketika anak sibuk menatap layar dibanding bermain di luar rumah?

Pertanyaan ini memang keras. Meski begitu, kita tetap perlu membicarakannya.

Budayawan dalam narasi ini mengatakan:

“Mainan tradisional bukan sekadar alat bermain, melainkan wadah pengenalan filosofi hidup dan kearifan lokal sejak dini.”

Kalau anak sekarang tidak kenal congklak, egrang, atau seruling bambu, mungkin masalahnya bukan karena mereka menolak budaya. Sebaliknya, bisa jadi tidak ada lagi yang memperkenalkannya.

Lapangan berubah jadi bangunan. Gang kecil berubah jadi parkiran. Selain itu, ritme kerja orang tua juga makin sibuk. Akibatnya, banyak anak akhirnya berteman dengan algoritma.

Lalu, apakah adil kalau kita hanya menyalahkan gadget?

Haruskah Sekolah Wajibkan Permainan Tradisional?

Perdebatan ini mulai ramai. Sebagian pengamat pendidikan mendorong sekolah menghidupkan kembali permainan tradisional dalam aktivitas belajar. Tujuannya bukan sekadar nostalgia. Sebaliknya, mereka ingin membangun ulang interaksi sosial anak.

Pengamat kebijakan publik dalam narasi ini bahkan menilai pemerintah daerah perlu memberi ruang khusus bagi budaya lokal.

“Pemerintah daerah perlu hadir, bukan sekadar menertibkan pedagang mainan tradisional, tetapi memberi ruang premium bagi mereka sebagai bagian dari diplomasi budaya lokal.”

Bayangkan kalau sekolah menyediakan satu hari khusus permainan tradisional.

Anak belajar kerja sama lewat gobak sodor. Mereka belajar strategi lewat congklak. Selain itu, mereka juga belajar sabar saat menerbangkan layangan.

Kelihatannya sederhana. Namun, justru hal sederhana itu mulai mahal hari ini interaksi nyata.

Teknologi vs Budaya: Harus Memilih?

Jawabannya mungkin tidak. Anak tetap bisa bermain game. Namun, mereka juga perlu mengenal permainan yang melibatkan tubuh, emosi, dan interaksi langsung.

Dengan begitu, mereka tidak hanya memahami dunia virtual, tetapi juga memahami rasa kalah, menang, dan berdamai secara nyata.

Karena kalau semua pengalaman hidup berpindah ke layar, kita mungkin sedang membentuk generasi yang unggul secara digital, tetapi rapuh secara sosial.

Dan ini bukan sekadar soal mainan tradisional. Ini tentang bagaimana masa kecil berubah pelan-pelan tanpa banyak orang sadar.

Karena ketika anak lebih hafal nama skin Mobile Legends dibanding permainan warisan budaya, mungkin masalahnya bukan mereka terlalu modern.

Mungkin kita terlalu sibuk sampai lupa menyediakan dunia bermain. Lalu, menurutmu siapa yang paling bertanggung jawab: teknologi, orang tua, sekolah, atau pemerintah?.

Tags: Budaya IndonesiaBudaya LokalDigital ParentingGenerasi AlphaGenerasi DigitalKemendikbudristekKrisis Identitas GenerasiMainan Tradisionalotol-oto KayuParenting IndonesiaPermainan AnakPola Survival BudayaScreen Time AnakSosial Budaya

Kamu Melewatkan Ini

Kirab Budaya Winongo Perkuat Identitas dan Kebersamaan

Kirab Budaya Winongo Perkuat Identitas dan Kebersamaan

by dimas
Juli 6, 2026

Kirab Budaya Winongo memperkuat identitas budaya dan kebersamaan warga melalui rangkaian Bersih Desa 2026, sekaligus mendorong pariwisata berbasis budaya di...

Bukan Film Viral, Tapi Kisah Nyata yang Mengubah Cara Pandang

Bukan Film Viral, Tapi Kisah Nyata yang Mengubah Cara Pandang

by dimas
Juli 2, 2026

Film dokumenter tak mengejar viral, tetapi merekam kisah nyata yang mengubah cara pandang, menjaga ingatan, dan menghadirkan realitas yang sering...

From Reality to Narrative: Mengubah Tradisi Menjadi Karya

From Reality to Narrative: Mengubah Tradisi Menjadi Karya

by dimas
Juni 28, 2026

From Reality to Narrative menjadi semangat TABOOO Cultural Production dalam mengolah budaya lokal menjadi karya kreatif, pengetahuan, dan intellectual property....

Next Post
Pintar atau Instan? Saat AI Menggerus Proses Belajar

Pintar atau Instan? Saat AI Menggerus Proses Belajar

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id