Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kampus dan Kekerasan Seksual: Saat Kuasa Mengalahkan Keadilan

by dimas
Juli 14, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Kampus dan kekerasan seksual terus menjadi sorotan. Relasi kuasa, budaya diam, dan lemahnya perlindungan korban membuat keadilan sulit terwujud.

Tabooo.id – Setiap orang datang ke kampus dengan harapan yang hampir sama.

Mereka ingin belajar, bertumbuh, menemukan masa depan, lalu pulang membawa pengetahuan yang membuat hidup lebih baik.

Karena itulah kampus selalu dipandang sebagai ruang yang paling rasional. Tempat ilmu berbicara lebih keras daripada kekuasaan, tempat argumentasi mengalahkan intimidasi, dan tempat martabat manusia mendapat penghormatan.

Namun keyakinan itu mulai retak.

Satu demi satu dugaan kekerasan seksual muncul dari ruang yang selama ini dianggap paling aman. Nama perguruan tinggi terus berganti. Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, hingga kampus-kampus lain silih berganti memenuhi pemberitaan. Meski berbeda lokasi, cerita yang muncul hampir selalu serupa. Korban memilih bungkam, lingkungan menahan suara, sementara institusi kerap bergerak lebih cepat menjaga citra daripada memulihkan keadilan.

Ini Belum Selesai

Purbaya Dicopot Usai Rombak Pajak dan Bea Cukai, Kebetulan atau Konflik?

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Sulit menyebut semua itu sebagai kebetulan.

Peristiwa yang terus berulang biasanya menunjukkan keberadaan sebuah pola.

Relasi Kuasa yang Mengalahkan Keberanian

Banyak orang memandang kekerasan seksual sebagai penyimpangan perilaku seseorang. Cara pandang itu memang memudahkan penyelesaian. Publik tinggal menunjuk pelaku, menjatuhkan hukuman, lalu menganggap persoalan selesai.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Pelaku memang melakukan tindakan yang salah. Namun sistem sering kali menyediakan ruang yang membuat penyalahgunaan kuasa terus terjadi.

Di kampus, kekuasaan hadir dalam bentuk yang tampak biasa. Nilai akademik, persetujuan skripsi, rekomendasi beasiswa, akses penelitian, hingga jabatan organisasi perlahan menciptakan hubungan yang timpang.

Ketimpangan itulah yang menjadi pintu masuk.

Seseorang tidak perlu mengancam secara terang-terangan. Ia hanya perlu membuat orang lain percaya bahwa masa depannya berada di tangannya.

Saat keyakinan itu tumbuh, keberanian korban mulai menyusut.

Diam terasa lebih aman daripada berbicara.

Bertahan terasa lebih mungkin daripada melawan.

Relasi kuasa akhirnya bekerja tanpa suara. Ia tidak membutuhkan bentakan. Ia cukup memelihara rasa takut.

Budaya Diam Tidak Pernah Lahir Sendiri

Komnas Perempuan mencatat kekerasan seksual sebagai bentuk kekerasan berbasis gender yang paling banyak dilaporkan sepanjang 2025. JPPI juga menemukan bahwa kekerasan seksual mendominasi kasus kekerasan di lingkungan pendidikan pada awal 2026. Data itu memperlihatkan satu kenyataan yang sulit dibantah: masyarakat sedang menghadapi persoalan sistemik.

Sayangnya, perhatian publik sering berhenti pada pencarian pelaku.

Media mengejar kronologi.

Warganet memperdebatkan siapa yang paling bersalah.

Institusi menyusun strategi komunikasi.

Sementara itu, akar persoalan justru tertinggal di belakang.

Mengapa korban takut melapor?

Apa yang membuat saksi memilih diam?

Mengapa reputasi lembaga terasa lebih berharga daripada rasa aman mahasiswa?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak lahir dalam semalam.

Masyarakat membentuknya selama bertahun-tahun.

Budaya menghormati senior tanpa batas, budaya menganggap korban sebagai pembawa masalah, budaya yang meminta seseorang menjaga nama baik lembaga meski harus mengorbankan dirinya sendiri.

Semua kebiasaan itu perlahan menciptakan ruang yang nyaman bagi pelaku.

Kekerasan seksual tidak tumbuh sendirian.

Ia berkembang bersama budaya yang terlalu lama membiarkan ketimpangan hidup.

Pendidikan Belum Tentu Melahirkan Kemanusiaan

Kampus berhasil mencetak ribuan sarjana setiap tahun.

Sayangnya, gelar akademik tidak otomatis melahirkan keberanian moral.

Seseorang dapat menguasai teori tentang keadilan, tetapi tetap memilih diam ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata.

Seorang akademisi mampu menghasilkan penelitian yang luar biasa, tetapi gagal membangun ruang yang aman bagi mahasiswanya.

Ironi itu layak mengganggu kita semua.

Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kecerdasan intelektual.

Pendidikan harus melatih keberanian untuk membela mereka yang kehilangan suara.

Di titik itulah ukuran keberhasilan kampus sebenarnya terlihat.

Bukan dari megahnya gedung.

Bukan dari panjangnya daftar akreditasi.

Melainkan dari keberanian institusi mendengar korban sebelum sibuk menjaga reputasi.

Kepercayaan publik tumbuh ketika kampus berpihak kepada manusia.

Harapan lahir ketika korban merasa aman untuk berbicara.

Rasa aman muncul ketika seluruh sivitas akademika memilih melindungi yang lemah, bukan melindungi nama besar lembaga.

Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan terletak pada jumlah kasus yang berhasil terungkap.

Persoalan terbesar justru tersembunyi di balik mereka yang tidak pernah melapor.

Mungkin ada mahasiswa yang memilih mengubur traumanya, mungkin ada penyintas yang meninggalkan bangku kuliah tanpa pernah memperoleh keadilan, mungkin pula ada banyak cerita yang tidak akan pernah masuk ke dalam statistik.

Semua kemungkinan itu mengingatkan satu hal.

Selama relasi kuasa lebih kuat daripada keberanian mendengar, kekerasan seksual akan selalu menemukan tempat untuk bersembunyi.

Karena sesungguhnya, persoalan ini tidak hanya berbicara tentang kampus.

Persoalan ini berbicara tentang kita tentang masyarakat yang masih terlalu sering menghormati kekuasaan, tetapi belum cukup berani membela manusia. @dimas

Tags: Budaya DiamKampusKeadilan Untuk KorbanKekerasan SeksualRelasi Kuasa

Kamu Melewatkan Ini

Bukan Cuma Soal Asmara: Mahasiswa Jatuh, Sistem Kampus Ikut Dipertanyakan

Bukan Cuma Soal Asmara: Mahasiswa Jatuh, Sistem Kampus Ikut Dipertanyakan

by teguh
September 15, 2026

Soal asmara seorang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), RR (19), menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang setelah...

Dugaan Kekerasan Seksual Ponpes Sleman, Korban Kini Hamil

Dugaan Kekerasan Seksual Ponpes Sleman, Korban Kini Hamil

by eko
September 11, 2026

Dugaan kekerasan seksual di Ponpes As-Sholihah Sleman masuk penyelidikan. Korban FN kini hamil dan polisi masih memeriksa bukti serta saksi....

Mahasiswa FK-UB Jatuh, Kampus Gagal Membaca Krisis?

Mahasiswa FK-UB Jatuh, Kampus Gagal Membaca Krisis?

by teguh
September 11, 2026

Kasus RR, mahasiswa FK-UB (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya), membuka pertanyaan yang lebih besar seberapa jauh perguruan tinggi mampu mengenali tekanan...

Next Post
Satu Pelaku Lagi Tertangkap, Tragedi Sampang Belum Berakhir

Satu Pelaku Lagi Tertangkap, Tragedi Sampang Belum Berakhir

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id