Kampus dan kekerasan seksual terus menjadi sorotan. Relasi kuasa, budaya diam, dan lemahnya perlindungan korban membuat keadilan sulit terwujud.
Tabooo.id – Setiap orang datang ke kampus dengan harapan yang hampir sama.
Mereka ingin belajar, bertumbuh, menemukan masa depan, lalu pulang membawa pengetahuan yang membuat hidup lebih baik.
Karena itulah kampus selalu dipandang sebagai ruang yang paling rasional. Tempat ilmu berbicara lebih keras daripada kekuasaan, tempat argumentasi mengalahkan intimidasi, dan tempat martabat manusia mendapat penghormatan.
Namun keyakinan itu mulai retak.
Satu demi satu dugaan kekerasan seksual muncul dari ruang yang selama ini dianggap paling aman. Nama perguruan tinggi terus berganti. Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, hingga kampus-kampus lain silih berganti memenuhi pemberitaan. Meski berbeda lokasi, cerita yang muncul hampir selalu serupa. Korban memilih bungkam, lingkungan menahan suara, sementara institusi kerap bergerak lebih cepat menjaga citra daripada memulihkan keadilan.
Sulit menyebut semua itu sebagai kebetulan.
Peristiwa yang terus berulang biasanya menunjukkan keberadaan sebuah pola.
Relasi Kuasa yang Mengalahkan Keberanian
Banyak orang memandang kekerasan seksual sebagai penyimpangan perilaku seseorang. Cara pandang itu memang memudahkan penyelesaian. Publik tinggal menunjuk pelaku, menjatuhkan hukuman, lalu menganggap persoalan selesai.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Pelaku memang melakukan tindakan yang salah. Namun sistem sering kali menyediakan ruang yang membuat penyalahgunaan kuasa terus terjadi.
Di kampus, kekuasaan hadir dalam bentuk yang tampak biasa. Nilai akademik, persetujuan skripsi, rekomendasi beasiswa, akses penelitian, hingga jabatan organisasi perlahan menciptakan hubungan yang timpang.
Ketimpangan itulah yang menjadi pintu masuk.
Seseorang tidak perlu mengancam secara terang-terangan. Ia hanya perlu membuat orang lain percaya bahwa masa depannya berada di tangannya.
Saat keyakinan itu tumbuh, keberanian korban mulai menyusut.
Diam terasa lebih aman daripada berbicara.
Bertahan terasa lebih mungkin daripada melawan.
Relasi kuasa akhirnya bekerja tanpa suara. Ia tidak membutuhkan bentakan. Ia cukup memelihara rasa takut.
Budaya Diam Tidak Pernah Lahir Sendiri
Komnas Perempuan mencatat kekerasan seksual sebagai bentuk kekerasan berbasis gender yang paling banyak dilaporkan sepanjang 2025. JPPI juga menemukan bahwa kekerasan seksual mendominasi kasus kekerasan di lingkungan pendidikan pada awal 2026. Data itu memperlihatkan satu kenyataan yang sulit dibantah: masyarakat sedang menghadapi persoalan sistemik.
Sayangnya, perhatian publik sering berhenti pada pencarian pelaku.
Media mengejar kronologi.
Warganet memperdebatkan siapa yang paling bersalah.
Institusi menyusun strategi komunikasi.
Sementara itu, akar persoalan justru tertinggal di belakang.
Mengapa korban takut melapor?
Apa yang membuat saksi memilih diam?
Mengapa reputasi lembaga terasa lebih berharga daripada rasa aman mahasiswa?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak lahir dalam semalam.
Masyarakat membentuknya selama bertahun-tahun.
Budaya menghormati senior tanpa batas, budaya menganggap korban sebagai pembawa masalah, budaya yang meminta seseorang menjaga nama baik lembaga meski harus mengorbankan dirinya sendiri.
Semua kebiasaan itu perlahan menciptakan ruang yang nyaman bagi pelaku.
Kekerasan seksual tidak tumbuh sendirian.
Ia berkembang bersama budaya yang terlalu lama membiarkan ketimpangan hidup.
Pendidikan Belum Tentu Melahirkan Kemanusiaan
Kampus berhasil mencetak ribuan sarjana setiap tahun.
Sayangnya, gelar akademik tidak otomatis melahirkan keberanian moral.
Seseorang dapat menguasai teori tentang keadilan, tetapi tetap memilih diam ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata.
Seorang akademisi mampu menghasilkan penelitian yang luar biasa, tetapi gagal membangun ruang yang aman bagi mahasiswanya.
Ironi itu layak mengganggu kita semua.
Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kecerdasan intelektual.
Pendidikan harus melatih keberanian untuk membela mereka yang kehilangan suara.
Di titik itulah ukuran keberhasilan kampus sebenarnya terlihat.
Bukan dari megahnya gedung.
Bukan dari panjangnya daftar akreditasi.
Melainkan dari keberanian institusi mendengar korban sebelum sibuk menjaga reputasi.
Kepercayaan publik tumbuh ketika kampus berpihak kepada manusia.
Harapan lahir ketika korban merasa aman untuk berbicara.
Rasa aman muncul ketika seluruh sivitas akademika memilih melindungi yang lemah, bukan melindungi nama besar lembaga.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan terletak pada jumlah kasus yang berhasil terungkap.
Persoalan terbesar justru tersembunyi di balik mereka yang tidak pernah melapor.
Mungkin ada mahasiswa yang memilih mengubur traumanya, mungkin ada penyintas yang meninggalkan bangku kuliah tanpa pernah memperoleh keadilan, mungkin pula ada banyak cerita yang tidak akan pernah masuk ke dalam statistik.
Semua kemungkinan itu mengingatkan satu hal.
Selama relasi kuasa lebih kuat daripada keberanian mendengar, kekerasan seksual akan selalu menemukan tempat untuk bersembunyi.
Karena sesungguhnya, persoalan ini tidak hanya berbicara tentang kampus.
Persoalan ini berbicara tentang kita tentang masyarakat yang masih terlalu sering menghormati kekuasaan, tetapi belum cukup berani membela manusia. @dimas







