Minggu, Juli 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jogja Tak Selalu Romantis: Cerita Sunyi Dua Mahasiswi di Malioboro

by teguh
Mei 24, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Jogja tidak pernah benar-benar tidur Kota ini hanya mengecilkan suaranya. Saat toko mulai menutup rolling door dan musisi jalanan membereskan alatnya, Malioboro perlahan berubah wajah. Keramaian mulai surut. Wisatawan pulang. Jalanan kehilangan riuhnya sedikit demi sedikit.

Tabooo.id – Namun justru di jam seperti ini, Malioboro terasa jauh lebih jujur. Lampu jalan memantulkan cahaya hangat ke pedestrian. Pohon-pohon tua berdiri tenang seperti saksi yang terlalu lama melihat manusia datang dengan cerita masing-masing.

Pada salah satu bangku taman, dua mahasiswi berusia sekitar 21 tahun duduk tanpa banyak suara.

Satu perempuan sesekali menatap layar ponselnya. Temannya memilih memandangi jalanan yang mulai lengang sambil membiarkan malam berjalan pelan.

Suasana terasa sederhana Minuman kotak berada di samping kaki. Sandal terlepas begitu saja di bawah bangku. Percakapan kecil terdengar samar, jauh dari hiruk pikuk tongkrongan anak muda yang biasanya ramai.

Mereka tidak sedang menunggu siapa-siapa. Malam itu, keduanya tampak seperti sedang memberi jeda bagi hidup yang berjalan terlalu cepat.

Ini Belum Selesai

Tempe Daun: Warisan Tiga Generasi yang Menanti Penerus

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

Jogja yang Romantis, Tapi Diam-Diam Menguras Energi

Selama bertahun-tahun, orang mengenal Yogyakarta dengan ikon Malioboro sebagai kota pelajar. Kota ini menawarkan mimpi, biaya hidup yang relatif terjangkau, komunitas kreatif, dan harapan bahwa pendidikan bisa mengubah masa depan. Namun realitas sering bergerak ke arah berbeda.

Banyak mahasiswa datang sambil membawa tekanan yang tidak semua orang lihat. Tumpukan tugas hadir hampir setiap hari. Harga kebutuhan terus bergerak naik. Dari rumah, ekspektasi keluarga ikut menempel di kepala. Setelah itu, muncul ketakutan baru: bagaimana hidup berjalan setelah wisuda?

Ada yang mengejar mimpi besar dengan penuh keyakinan. Sebagian lain sekadar berusaha bertahan agar tidak pulang dengan rasa gagal.

Guru Besar Psikologi Universitas Gadjah Mada, Koentjoro Soeparno, pernah menyoroti tekanan psikologis mahasiswa akibat tuntutan akademik, persoalan ekonomi, dan relasi sosial yang semakin kompleks. Fakultas Psikologi UGM bahkan mulai memperluas layanan kesehatan mental karena semakin banyak mahasiswa mengalami kecemasan, burnout, hingga kelelahan emosional.

Masalahnya, banyak anak muda tetap memaksa diri terlihat kuat. Pagi mereka tetap masuk kelas. Senyum masih hadir saat bertemu teman. Media sosial pun tetap terlihat baik-baik saja.

Padahal, kepala mereka mungkin sedang penuh. Rasa lelah tidak selalu datang bersama tangisan. Kadang ia tinggal dalam diam yang terlalu lama.

Malioboro: Tempat Wisata yang Diam-Diam Menjadi Ruang Bernapas

Saat siang tiba, Malioboro berubah menjadi panggung wisata. Pedagang menawarkan dagangan. Wisatawan berburu foto.

Lagu jalanan memenuhi udara. Kamera ponsel sibuk merekam versi romantis Jogja. Namun tengah malam menghadirkan cerita berbeda.

Kesunyian justru membuat kawasan ini terasa lebih manusiawi. Jalanan memberi ruang bagi orang-orang yang ingin berhenti sejenak, menarik napas, lalu berpikir tanpa banyak gangguan.

Budayawan Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, beberapa kali menggambarkan Jogja sebagai kota yang memberi ruang untuk berdamai dengan diri sendiri. Banyak anak rantau akhirnya menjadikan ruang publik seperti Malioboro sebagai tempat untuk merenung, berbincang, bahkan sekadar diam.

Barangkali itu pula yang dicari dua mahasiswi tadi. Mereka tidak mengejar hiburan mahal atau tempat nongkrong estetik.

Bangku pedestrian terasa cukup malam itu. Kadang orang muda tidak buru-buru mencari jawaban.

Sesekali, mereka hanya ingin merasa tenang tanpa harus menjelaskan apa pun. Dan mungkin, di zaman ketika semua orang berlomba terlihat produktif, ketenangan menjadi kemewahan paling mahal.

Kota Pelajar Jangan Sibuk Menjual Romantisme

Jogja memang punya daya tarik yang sulit orang tolak. Musik akustik di pinggir jalan. Obrolan panjang sampai pagi. Kopi murah. Suasana hangat yang membuat banyak orang betah tinggal lebih lama.

Namun kota pelajar tidak bisa terus hidup dari romantisme semata. Sebab ada kenyataan yang sering lolos dari kamera wisata seperti Kesepian, Tekanan mental, Kecemasan soal masa depan. Dan rasa takut gagal yang diam-diam hidup di kepala banyak mahasiswa rantau.

Kalau mahasiswa lebih nyaman mencari ketenangan di bangku Malioboro pukul 01.30 WIB, kota ini perlu mengajukan pertanyaan penting pada dirinya sendiri.

Apakah kampus benar-benar hadir ketika mahasiswa mulai kehilangan arah?

Sudahkah ruang aman untuk bercerita hadir tanpa stigma?

Apakah kota pelajar terlalu fokus mencetak lulusan, tetapi lupa menjaga manusianya?

Kritik ini tidak bertujuan menyalahkan siapa pun.

Justru sebaliknya, Jogja punya peluang besar menjadi kota pelajar yang lebih manusiawi.

Kampus dapat memperluas layanan konseling. Pemerintah kota bisa memperbanyak ruang publik yang nyaman dan aman bagi anak muda. Komunitas lokal juga dapat membuka ruang obrolan tanpa rasa takut dihakimi.

Karena kota yang baik bukan cuma terlihat indah di foto. Kota yang baik juga tahu cara merawat orang-orang yang sedang lelah hidup di dalamnya.

Di Bangku Itu, Mereka Sedang Bertahan

Pukul 01.30 WIB Lampu jalan tetap menyala hangat. Pepohonan besar berdiri diam seperti penjaga yang terlalu sering melihat manusia bertumbuh lewat rasa lelah.

Dua perempuan muda itu masih duduk di sana. Bisa jadi obrolan mereka berkisar pada skripsi yang belum selesai.

Mungkin salah satu sedang memikirkan seseorang yang pergi tanpa penjelasan Atau, barangkali keduanya hanya takut menghadapi dunia setelah lulus.

Usia 21 tahun memang terasa aneh. Di satu sisi, seseorang masih merasa terlalu muda untuk memahami hidup. Pada saat bersamaan, dunia mulai meminta jawaban seperti orang dewasa.

Namun malam itu tampaknya mengajarkan satu hal Inspirasi tidak selalu datang dari ruang kelas.

Kadang seseorang menemukan dirinya kembali setelah berani berhenti sebentar dan Menarik napas panjang.

Lalu mengakui dengan jujur:

“Aku capek. Tapi aku belum selesai.”

Dan mungkin itu alasan mengapa Malioboro tidak pernah benar-benar tidur. Karena di kota ini, selalu ada orang muda yang diam-diam sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

Tabooo Twist

Ini bukan sekadar dua mahasiswi nongkrong tengah malam. Ini pola tentang generasi yang terlihat santai di luar, tetapi diam-diam sedang bernegosiasi dengan hidup. @teguh

Tags: Anak RantauJogja MalamKesehatan MentalKota PelajarMahasiswa JogjaMalioboroRuang PublikVibes JogjaYogyakarta

Kamu Melewatkan Ini

Pecel Bukan Lahir di Madiun? Jejak Sejarahnya Justru Berawal dari Tanah Mataram

Pecel Bukan Lahir di Madiun? Jejak Sejarahnya Justru Berawal dari Tanah Mataram

by jeje
Juli 16, 2026

Bagaimana jika selama ini kita salah mengenal asal-usul pecel? Madiun memang sukses membangun reputasi nasi pecel sebagai identitas daerah. Namun,...

Democracy Sale: Saat Demokrasi Berubah Menjadi Komoditas

Democracy Sale: Saat Demokrasi Berubah Menjadi Komoditas

by dimas
Juli 3, 2026

"Democracy Sale" dari TABOOO Merch menghadirkan kritik visual tentang komodifikasi demokrasi, ketika kekuasaan, akses, dan pengaruh dipersepsikan memiliki harga. Tabooo.id...

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

by dimas
Juni 8, 2026

Tapa bisu dalam tradisi Jawa ternyata memiliki kemiripan dengan mindfulness modern. Benarkah masyarakat Jawa telah mengenal latihan kesadaran sejak lama?...

Next Post
Batal Nikah, Somasi, Datang Lagi: Drama Briptu Densus 88, Luka Yang Belum Selesai

Batal Nikah, Somasi, Datang Lagi: Drama Briptu Densus 88, Luka Yang Belum Selesai

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id