Jogja tidak pernah benar-benar tidur Kota ini hanya mengecilkan suaranya. Saat toko mulai menutup rolling door dan musisi jalanan membereskan alatnya, Malioboro perlahan berubah wajah. Keramaian mulai surut. Wisatawan pulang. Jalanan kehilangan riuhnya sedikit demi sedikit.
Tabooo.id – Namun justru di jam seperti ini, Malioboro terasa jauh lebih jujur. Lampu jalan memantulkan cahaya hangat ke pedestrian. Pohon-pohon tua berdiri tenang seperti saksi yang terlalu lama melihat manusia datang dengan cerita masing-masing.
Pada salah satu bangku taman, dua mahasiswi berusia sekitar 21 tahun duduk tanpa banyak suara.
Satu perempuan sesekali menatap layar ponselnya. Temannya memilih memandangi jalanan yang mulai lengang sambil membiarkan malam berjalan pelan.
Suasana terasa sederhana Minuman kotak berada di samping kaki. Sandal terlepas begitu saja di bawah bangku. Percakapan kecil terdengar samar, jauh dari hiruk pikuk tongkrongan anak muda yang biasanya ramai.
Mereka tidak sedang menunggu siapa-siapa. Malam itu, keduanya tampak seperti sedang memberi jeda bagi hidup yang berjalan terlalu cepat.
Jogja yang Romantis, Tapi Diam-Diam Menguras Energi
Selama bertahun-tahun, orang mengenal Yogyakarta dengan ikon Malioboro sebagai kota pelajar. Kota ini menawarkan mimpi, biaya hidup yang relatif terjangkau, komunitas kreatif, dan harapan bahwa pendidikan bisa mengubah masa depan. Namun realitas sering bergerak ke arah berbeda.
Banyak mahasiswa datang sambil membawa tekanan yang tidak semua orang lihat. Tumpukan tugas hadir hampir setiap hari. Harga kebutuhan terus bergerak naik. Dari rumah, ekspektasi keluarga ikut menempel di kepala. Setelah itu, muncul ketakutan baru: bagaimana hidup berjalan setelah wisuda?
Ada yang mengejar mimpi besar dengan penuh keyakinan. Sebagian lain sekadar berusaha bertahan agar tidak pulang dengan rasa gagal.
Guru Besar Psikologi Universitas Gadjah Mada, Koentjoro Soeparno, pernah menyoroti tekanan psikologis mahasiswa akibat tuntutan akademik, persoalan ekonomi, dan relasi sosial yang semakin kompleks. Fakultas Psikologi UGM bahkan mulai memperluas layanan kesehatan mental karena semakin banyak mahasiswa mengalami kecemasan, burnout, hingga kelelahan emosional.
Masalahnya, banyak anak muda tetap memaksa diri terlihat kuat. Pagi mereka tetap masuk kelas. Senyum masih hadir saat bertemu teman. Media sosial pun tetap terlihat baik-baik saja.
Padahal, kepala mereka mungkin sedang penuh. Rasa lelah tidak selalu datang bersama tangisan. Kadang ia tinggal dalam diam yang terlalu lama.
Malioboro: Tempat Wisata yang Diam-Diam Menjadi Ruang Bernapas
Saat siang tiba, Malioboro berubah menjadi panggung wisata. Pedagang menawarkan dagangan. Wisatawan berburu foto.
Lagu jalanan memenuhi udara. Kamera ponsel sibuk merekam versi romantis Jogja. Namun tengah malam menghadirkan cerita berbeda.
Kesunyian justru membuat kawasan ini terasa lebih manusiawi. Jalanan memberi ruang bagi orang-orang yang ingin berhenti sejenak, menarik napas, lalu berpikir tanpa banyak gangguan.
Budayawan Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, beberapa kali menggambarkan Jogja sebagai kota yang memberi ruang untuk berdamai dengan diri sendiri. Banyak anak rantau akhirnya menjadikan ruang publik seperti Malioboro sebagai tempat untuk merenung, berbincang, bahkan sekadar diam.
Barangkali itu pula yang dicari dua mahasiswi tadi. Mereka tidak mengejar hiburan mahal atau tempat nongkrong estetik.
Bangku pedestrian terasa cukup malam itu. Kadang orang muda tidak buru-buru mencari jawaban.
Sesekali, mereka hanya ingin merasa tenang tanpa harus menjelaskan apa pun. Dan mungkin, di zaman ketika semua orang berlomba terlihat produktif, ketenangan menjadi kemewahan paling mahal.
Kota Pelajar Jangan Sibuk Menjual Romantisme
Jogja memang punya daya tarik yang sulit orang tolak. Musik akustik di pinggir jalan. Obrolan panjang sampai pagi. Kopi murah. Suasana hangat yang membuat banyak orang betah tinggal lebih lama.
Namun kota pelajar tidak bisa terus hidup dari romantisme semata. Sebab ada kenyataan yang sering lolos dari kamera wisata seperti Kesepian, Tekanan mental, Kecemasan soal masa depan. Dan rasa takut gagal yang diam-diam hidup di kepala banyak mahasiswa rantau.
Kalau mahasiswa lebih nyaman mencari ketenangan di bangku Malioboro pukul 01.30 WIB, kota ini perlu mengajukan pertanyaan penting pada dirinya sendiri.
Apakah kampus benar-benar hadir ketika mahasiswa mulai kehilangan arah?
Sudahkah ruang aman untuk bercerita hadir tanpa stigma?
Apakah kota pelajar terlalu fokus mencetak lulusan, tetapi lupa menjaga manusianya?
Kritik ini tidak bertujuan menyalahkan siapa pun.
Justru sebaliknya, Jogja punya peluang besar menjadi kota pelajar yang lebih manusiawi.
Kampus dapat memperluas layanan konseling. Pemerintah kota bisa memperbanyak ruang publik yang nyaman dan aman bagi anak muda. Komunitas lokal juga dapat membuka ruang obrolan tanpa rasa takut dihakimi.
Karena kota yang baik bukan cuma terlihat indah di foto. Kota yang baik juga tahu cara merawat orang-orang yang sedang lelah hidup di dalamnya.
Di Bangku Itu, Mereka Sedang Bertahan
Pukul 01.30 WIB Lampu jalan tetap menyala hangat. Pepohonan besar berdiri diam seperti penjaga yang terlalu sering melihat manusia bertumbuh lewat rasa lelah.
Dua perempuan muda itu masih duduk di sana. Bisa jadi obrolan mereka berkisar pada skripsi yang belum selesai.
Mungkin salah satu sedang memikirkan seseorang yang pergi tanpa penjelasan Atau, barangkali keduanya hanya takut menghadapi dunia setelah lulus.
Usia 21 tahun memang terasa aneh. Di satu sisi, seseorang masih merasa terlalu muda untuk memahami hidup. Pada saat bersamaan, dunia mulai meminta jawaban seperti orang dewasa.
Namun malam itu tampaknya mengajarkan satu hal Inspirasi tidak selalu datang dari ruang kelas.
Kadang seseorang menemukan dirinya kembali setelah berani berhenti sebentar dan Menarik napas panjang.
Lalu mengakui dengan jujur:
“Aku capek. Tapi aku belum selesai.”
Dan mungkin itu alasan mengapa Malioboro tidak pernah benar-benar tidur. Karena di kota ini, selalu ada orang muda yang diam-diam sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.
Tabooo Twist
Ini bukan sekadar dua mahasiswi nongkrong tengah malam. Ini pola tentang generasi yang terlihat santai di luar, tetapi diam-diam sedang bernegosiasi dengan hidup. @teguh





