Tabooo.id: Nasional – Evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, sepenuhnya bergantung pada jalur yang ditunjukkan warga setempat. Medan terjal dan hutan rapat memaksa tim SAR menjadikan pengetahuan lokal sebagai tumpuan utama operasi, Senin (19/1/2026).
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa masyarakat sekitar memahami kontur gunung lebih baik dibanding tim dari luar daerah. Mereka mengetahui jalur sempit yang masih memungkinkan dilalui serta titik-titik lokasi korban.
“Masyarakat memberi petunjuk jalur. Mereka tahu rute yang memungkinkan tim mencapai lokasi,” ujar Sultan di Posko Tompo Bulu, Kecamatan Balocci.
Di wilayah yang jarang tersentuh aktivitas manusia, warga tidak hanya membantu. Mereka menentukan arah dan ritme evakuasi.
Cuaca Buruk Memutus Akses Udara
Kondisi alam di lokasi jatuhnya pesawat terus menyulitkan pergerakan tim. Lereng curam, vegetasi rapat, dan ketiadaan jalur perkebunan membatasi akses. Tim SAR sempat mempertimbangkan evakuasi lewat udara, tetapi cuaca buruk menutup seluruh kemungkinan tersebut.
Situasi itu memaksa tim memilih jalur darat meski membutuhkan tenaga besar dan waktu panjang. Delapan personel SAR kini bertahan di puncak gunung bersama jenazah korban yang telah ditemukan. Mereka menunggu tahapan evakuasi berikutnya sambil menghadapi perubahan cuaca yang cepat.
“Petugas tetap berada di lokasi karena medan berat dan cuaca belum mendukung,” tambahnya.
Kondisi ini menguji kesiapan fisik dan mental para petugas yang bekerja jauh dari fasilitas dasar.
Tim Gabungan Menyisir Dari Dua Arah
Untuk mempercepat proses pencarian, Basarnas kembali mengerahkan 34 personel tambahan. Tim gabungan tersebut melibatkan unsur TNI, Polri, Polisi Kehutanan, serta warga lokal yang berperan sebagai penunjuk jalan.
Selain mengevakuasi satu jenazah, tim terus menyisir area sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Jarak tempuh panjang dan permukaan licin meningkatkan risiko di setiap langkah.
Asisten Rem Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Abi Kusnianto, menyebut empat tim tambahan bergerak dari wilayah Kabupaten Maros. Tim tersebut menyisir dasar jurang curam untuk memastikan tidak ada korban atau serpihan pesawat yang terlewat.
“Tim dari bawah akan memeriksa dasar tebing karena serpihan pesawat kemungkinan jatuh hingga ke sana,” ujar Abi Kusnianto.
Kronologi Singkat Kecelakaan Udara
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport jatuh pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat itu terbang dari Yogyakarta menuju Makassar sebelum kehilangan kontak dan menabrak lereng Gunung Bulusaraung.
Di dalam pesawat terdapat 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang. Hingga Minggu (18/1/2026), tim SAR baru menemukan satu korban. Proses pencarian korban lainnya masih terus berlangsung.
Bagi warga sekitar, operasi ini mengubah gunung yang biasanya sunyi menjadi jalur darurat penyelamatan. Bagi negara, peristiwa ini kembali menegaskan satu hal sederhana di medan ekstrem, peta paling akurat sering kali bukan milik teknologi, melainkan milik mereka yang hidup paling dekat dengan alamnya. @dimas




