Tabooo.id: Global- Ketegangan di Timur Tengah kembali naik satu level. Militer Iran secara terbuka menantang kehadiran kapal perang Amerika Serikat di Selat Hormuz jalur laut paling vital bagi perdagangan minyak dunia.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayor Jenderal Ali Mohammad Naeini, pada Selasa (10/3) dini hari mengatakan pasukan Iran “sedang menunggu” armada laut AS yang bergerak menuju kawasan tersebut.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Dalam konteks konflik yang makin panas antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, Selat Hormuz bisa berubah dari jalur perdagangan menjadi panggung konfrontasi militer.
Iran: “Akhir Perang Ada di Tangan Kami”
Dalam pernyataannya, Naeini menegaskan angkatan bersenjata Iran siap menghadapi armada laut Amerika.
Ia mengatakan Iran sedang menunggu kedatangan kapal induk USS Gerald R. Ford serta armada AS lain yang dikerahkan ke wilayah tersebut.
Lebih dari sekadar ancaman militer, Naeini juga mengeluarkan peringatan ekonomi yang bisa mengguncang dunia.
Jika serangan AS dan Israel terhadap Iran terus berlanjut, Teheran mengancam tidak akan membiarkan satu liter pun minyak keluar dari kawasan Selat Hormuz.
Ancaman ini langsung menarik perhatian global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap hari.
Trump: Selat Hormuz Harus Tetap Aman
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington tidak akan membiarkan jalur pelayaran strategis itu terganggu.
Dalam konferensi pers pada Senin, Trump mengatakan Selat Hormuz harus tetap aman bagi kapal dagang maupun militer.
Ia bahkan membuka kemungkinan Amerika Serikat mengambil alih pengamanan selat tersebut.
Selain itu, pemerintah AS juga mempertimbangkan opsi angkatan laut mengawal kapal tanker minyak jika situasi semakin memburuk.
Trump memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi besar jika menyerang kapal apa pun yang melintas di jalur tersebut.
Armada AS Sudah Bergerak
Sinyal kesiapan militer AS terlihat dari pengerahan kapal induk tambahan ke kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat AS menyebutkan setidaknya dua kapal induk kini berada di wilayah operasi:
- USS Abraham Lincoln di Laut Arab
- USS Gerald R. Ford di Laut Merah setelah melewati Terusan Suez
Langkah ini mempertegas Washington tidak hanya berbicara, tetapi juga menyiapkan kekuatan militernya di lapangan.
Namun Naeini mengklaim kapal dan pesawat tempur AS justru menjaga jarak.
Menurutnya, armada AS berada lebih dari 1.000 kilometer dari Selat Hormuz untuk menghindari ancaman rudal dan drone Iran.
Siapa yang Paling Terdampak?
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup atau berubah menjadi zona konflik, dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang berperang.
Beberapa pihak yang paling terdampak antara lain:
Negara pengimpor minyak
Negara-negara di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, China, hingga India sangat bergantung pada minyak dari Teluk Persia.
Ekonomi global
Gangguan pasokan minyak dapat memicu lonjakan harga energi dunia. Efeknya bisa menjalar ke inflasi, biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok.
Negara berkembang
Negara dengan ekonomi rapuh akan merasakan dampak paling cepat mulai dari kenaikan harga BBM hingga tekanan pada anggaran negara.
Singkatnya, konflik di satu selat sempit bisa mengguncang dapur rumah tangga di belahan dunia lain.
Dunia Menunggu Langkah Berikutnya
Selat Hormuz hanya selebar sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya. Namun jalur kecil itu membawa sekitar 20 persen minyak dunia setiap hari.
Ketika kapal induk, rudal, dan drone mulai berkumpul di satu titik, dunia tidak hanya menyaksikan konflik geopolitik—melainkan potensi krisis energi global.
Jika ancaman Iran benar-benar terjadi, harga minyak bisa melonjak, pasar panik, dan ekonomi global kembali limbung.
Dan seperti biasa, saat para jenderal dan presiden saling pamer kekuatan, masyarakat dunia hanya bisa berharap satu hal: semoga yang lewat di Selat Hormuz tetap kapal tanker—bukan kapal perang yang saling menembak. @eko




