Tabooo.id: Global – Saat dunia berharap jeda, Iran malah menekan gas. Alih-alih meredakan konflik, Teheran memilih menolak gencatan senjata dan berdiri lebih keras.
Jadi, ini masih soal perang atau tentang kepercayaan yang sudah benar-benar habis?
Iran Menolak, Tekanan Langsung Naik
Pemerintah Iran menolak langsung proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat dalam konflik yang juga menyeret Israel.
Menurut IRNA, Teheran menyampaikan respons itu melalui Pakistan sebagai mediator. Namun, hingga kini, publik tidak melihat isi detail tawaran dari Washington.
Selain itu, Iran merumuskan sikapnya dalam 10 poin. Dalam dokumen itu, mereka menolak gencatan sementara dan langsung menuntut akhir perang secara total.
“Iran menolak gencatan senjata dan menegaskan perlunya mengakhiri konflik secara definitif,” tulis IRNA.
Kemudian, diplomat Iran, Mojtaba Ferdousi Pour, mempertegas posisi tersebut.
“Kami tidak akan hanya menerima gencatan senjata. Kami hanya menerima akhir perang dengan jaminan tidak akan diserang lagi,” tegasnya.
Di sisi lain, Donald Trump justru meningkatkan tekanan. Ia memberi ultimatum keras: jika Iran tidak membuka akses pelayaran di Selat Hormuz, maka AS akan menyerang infrastruktur vital.
Artinya, situasi tidak mereda justru semakin panas.
Sejauh ini, konflik sudah berjalan 38 hari. Awalnya, AS dan Israel melancarkan serangan. Setelah itu, Iran langsung membalas dengan rudal ke berbagai target di Timur Tengah.
Akibatnya, siklus serangan terus berulang tanpa jeda yang jelas.
Bukan Soal Damai, Tapi Soal Rasa Aman
Ini bukan sekadar penolakan diplomatik.
Sebaliknya, ini menunjukkan satu hal Iran tidak lagi percaya pada konsep “damai sementara”.
Sebab, bagi Teheran, gencatan senjata hanya memberi jeda bukan kepastian.
Dan tanpa jaminan keamanan, jeda justru terasa seperti jebakan.
Karena itu, Iran memilih jalan yang lebih ekstrem: lanjut konflik, daripada berhenti tanpa kepastian.
Perang Jauh, Dampaknya Dekat
Sekilas, konflik ini terasa jauh. Namun, dampaknya bisa sangat dekat.
Jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat, maka distribusi minyak global akan terganggu.
Akibatnya, harga minyak dunia naik.
Dan pada akhirnya, harga BBM di Indonesia ikut terdorong naik.
Jadi, meski perang terjadi ribuan kilometer dari sini, efeknya tetap masuk ke pengeluaran harian.
Dunia Bicara Damai, Tapi Minim Jaminan
Di satu sisi, dunia terus mendorong damai.
Namun di sisi lain, tidak ada jaminan konkret yang benar-benar melindungi pihak yang berhenti.
Karena itu, Iran melihat gencatan senjata sebagai taktik, bukan solusi.
Lalu, mereka memilih keluar dari pola lama itu.
Namun, keputusan ini juga membawa risiko besar.
Semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak pihak yang bermain di dalamnya.
Dan biasanya, dalam situasi seperti ini, ada pihak yang justru diuntungkan dari kekacauan.
Masalahnya Bukan Perang, Tapi Kepercayaan
Ketika satu pihak menolak berhenti, kita perlu bertanya ulang: apa yang sebenarnya rusak?
Mungkin bukan sekadar situasi perang.
Melainkan kepercayaan yang sudah terlalu sering dikhianati.
Sebab pada akhirnya, damai tanpa jaminan hanya terdengar indah di atas kertas. @dimas






